Membangun Fondasi Kuat Infrastruktur Pasar Modal

Siap Menghadapi Pasar Bebas

Rabu, 22/10/2014

NERACA

Jakarta – Seiring berjalannya waktu, perkembangan industri pasar modal mengalami pertumbuhan yang sangat pesat baik dari pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG), kapitalisasi pasar, jumlah emiten ataupun jumlah investor pasar modal. Maka guna mengoptimalkan potensi yang ada, industri pasar modal dituntut kesiapannya memperkuat inftrastruktur pasar modal guna menunjang dan mengantisipasi pertumbuhan yang lebih pesat lagi menghadapi perdagangan bebas masyarakat ekonomi ASEAN (MEA 2015).

Kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad, kesiapan infrastruktur pasar modal menjadi kunci sukses menghadapi pasar bebas MEA. Oleh karena itu, menurutnya, infrastruktur domestik menjadi salah satu dari tiga tantangan yang dihadapi pasar modal Indonesia jika berintregasi di ASEAN pada 2015,”Indonesia harus membangun infrastruktur pasar modal domestik yang kuat agar siap menghadapi persaingan yang ketat dengan negara lain,”ujarnya.

Menurut dia, tuntutan membangun infrastruktur yang kuat di bursa modal menjadi prioritas OJK karena investor menuntut kesiapan infrastruktur dalam menghadapi persaingan ketat dengan negara lain. Apalagi, kesiapan infrastruktur dapat memperkuat daya saing pasar modal. Oleh karena itu, menjawab kebutuhan investor yang menginginkan kesiapan infrastruktur dalam kemudahan transaksi saham dan efisiensi menjadi perhatian serius PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai lembaga penyimpanan dan penyelesaian transaksi saham di pasar modal.

Direktur Utama KSEI, Heri Sunaryadi mengatakan, pengembangan infrastruktur pasar modal sesuai dengan komitmen perseroan bahwa implementasi yang telah dilaksanakan harus terus dievaluasi dan perlu dilakukan pengembangan berikutnya untuk memenuhi permintaan pasar,“Untuk itu, kami juga berupaya melaksanakan pengembangan fungsi beberapa infrastruktur yang telah diimplementasikan," ujarnya.

Dirinya menyakini, pengembangan infrastruktur merupakan modal dasar yang sangat penting di setiap industri. Dengan semakin baik infrastruktur yang dibangun, semakin kokoh dan konsisten pula pertumbuhannya. Salah satu pengembangan infrastruktur yang tengah dikembangkan adalah penerapan pada single investor identification (SID) dan Fasilitas AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas).

Disebutkan, keduanya menjadi salah satu rencana pengembangan infrastruktur yang menjadi agenda perseroan sejak akhir tahun 2013. Untuk merealisasikannya, KSEI menggandeng industri perbankan. Alasannya, industri perbankan yang telah menjadi kebutuhan bagi masyarakat didukung dengan jaringan yang telah mencapai ke pelosok Tanah Air."Hal itu merupakan peluang untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan aktivitas yang berhubungan dengan investasi pasar modal,"katanya.

Gandeng Perbankan

Heri optimis, kemudahan penggunaan fitur perbankan yang telah diketahui secara umum dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Upaya tersebut tampak memasuki tahun 2014 di mana KSEI telah mencapai kesepakatan dengan PT Bank Permata Tbk dan PT Bank Mandiri Tbk melalui kerja sama pengembangan co-branding Fasilitas AKSes melalui anjungan tunai mandiri (ATM). Nantinya, melalui kerjasama ini investor dapat menggunakan jaringan e-channel Bank Mandiri untuk masuk ke fasilitas AKSes serta melakukan cek saldo Rekening Dana Nasabah dan saldo efek nasabah di KSEI. Bagaimanapun juga pengembangan infrastruktur hingga menjangkau pelosok wilayah Indonesia amat diperlukan, agar terbuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan akses yang mudah dalam melakukan kegiatan investasi di pasar modal. Apalagi, OJK tengah menggagas pendalaman pasar modal yang dimaksudkan masyarakat didaerah bisa memanfaatkan industri pasar modal sebagai alternatif pembiayaan selain perbankan.

Tentunya dengan menjangkaunya pelayanan industri pasar modal hingga ke daerah dengan kerjama perbankan yang lebih dahulu bersentuhan dengan masyarakat, diharapkan mampu mendongkak jumlah investor lokal yang terlibat di pasar modal. Karena itu, sinergi dengan perbankan menjadi solusi tepat,“Karena, pengembangan infratruktur ini memerlukan investasi yang sangat besar dan akan memakan waktu sangat lama bila dilakukan sendiri oleh industri pasar modal," kata Heri Sunaryadi.

Selain itu, guna meningkatkan daya saing pasar modal diperlukan juga untuk akurasi data investor. Oleh karena itu, guna memuluskan akurasi pengkinian data investor dibuktikan dengan kerjasama Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri. Database kependudukan Indonesia yang dimiliki Dukcapil yang telah dibangun melalui implementasi KTP elektronik.

Menurut Heri, kerjasama dengan Ditjen Dukcapil menjadi fondasi dan basis pengembangan infrastruktur dan pendalaman pasar modal secara transparan. Diakuinya, selama ini kendala utama dalam pengembangan basis data pasar modal Indonesia adalah akurasi dan keterkinian data investor sendiri. Tercatat, setidaknya ada sekitar 15 ribu data investor yang sama dan ini tantangan bagi KSEI sebagai lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP) untuk ditertibkan dan di kroscek kembali keabsahan data investor.

Kata Heri, dengan kerjasama Ditjen Dukcapil, diharapkan data investor pasar modal bisa lebih akurat dan menjamin keamanan transaksi bagi pelaku pasar modal, “Di Korea para investor cukup membeli dan menjual obligasi dengan KTP dan bahkan membeli dengan cash. Hal ini dikarenakan mereka punya identitas yang jelas, “tuturnya.

Lanjutnya, dengan menggunakan nomor induk kependudukan, mulai dari proses pendaftaran hingga pengkiniannya, data investor pasar modal yang diterima KSEI dari pemegang rekening dapat dipastikan keakuratannya berdasarkan data yang ada di Ditjen Dukcapil Kemendagri. Hal ini tentunya akan membuat basis data investor pasar modal Indonesia menjadi lebih akurat sehingga dapat diandalkan untuk mendukung inisiatif-inisiatif pengembangan inftrastruktur pasar modal kedepannya.

Sementara Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Noor Rachman menambahkan, kerjasama pengembangan SID pasar modal dengan Ditjen Dukcapil Kemendagri merupakan terobosan dan upaya untuk melindungi dan pengawasan terhadap investor, “Kerjasama ini makin memudahkan KSEI untuk indentifikasi nasabah dan diharapkan kerjasama ini berlanjut serta memberikan banyak manfaat,”tandasnya.

Asal tahu saja, basis data investor yang akurat dan senantiasa terkinikan merupakan hal penting dan menjadi kunci keberhasilan pembentukan SID dan diperlukan sebagai acuan bagi regulator dan pelaku di industri pasar modal. (bani)