Momentum Benahi Investasi

Rabu, 22/10/2014

Oleh: Abra P.G. Talattov

Peneliti Indef

Memasuki pemerintahan baru Joko Widodo dan Jusuf Kalla, berbagai tantangan besar sudah harus dihadapi oleh kedua pemimpin tertinggi Bangsa ini. Salah satu tugas yang mesti diberi perhatian utama ialah membenahi lingkungan investasi serta meluruskan tujuan investasi nasional, yang pada saat ini terlihat makin menjauh dari cita-cita konstitusi.Secara teoritis, investasi memiliki fungsi dan peran vital dalam memacu dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Lebih jauh lagi, investasi diharapkan dapat menjadi stimulan peningkatan kesempatan kerja bagi masyarakat.

Sepanjang pemerintahan SBY, nilai dan jumlah investasi memang terus meningkat tiap tahunnya. Namun, peningkatan investasi nasional ini lebih didominasi oleh derasnya aliran masuk investasi asing, yang porsinya sudah mencapai 67% dari total investasi nasional selama Januari-September 2014. Berdasarkan publikasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia pada Januari-September 2014 mencapai Rp228,3 triliun atau meningkat 14,6% dibandingkan pada periode yang sama 2013 lalu.Sementara realisasi investasi domestik Rp114,4 triliun pada Januari-September 2014.

Ketimpangan yang terjadi antara investasi asing dengan investasi domestik menjadi indikasi kuat bahwa para pelaku ekonomi dalam negeri kian terpinggirkan di rumahnya sendiri. Apalagi melihat kegiatan investasi asing yang telah merambah berbagai sektor perekonomian strategis seperti sektor energi, pertambangan, perkebunan, telekomunikasi, transportasi, dan lainnya.Salah satu ekonom dunia, Ragnar Nurske, memang pernah mengatakan bahwa suatu negara berkembang akan selalu berada dalam lingkaran setan kemiskinan selama negara tersebut tidak membukan kran investasi untuk asing. Sungguh pun demikian, perlu ditekankan bahwa investasi asing tersebut tidak boleh menjadi bahan bakar dan pelaku utama bagi penggerak perekonomian Indonesia. Jika hal ini terjadi, justru Indonesia malah akan menjadi negara periferi yang sangat tergantung pada negara-negara maju.

Tak dapat dipungkiri bahwa pasar yang besar serta konsumtif menjadi daya tarik utama berdatangannya investasi dari luar. Apalagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ini masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi global.Melihat situasi perekonomian Indonesia yang masih prospek dan menjanjikan dalam jangka panjang, sudah seharusnyapemerintah menyambut dengan penuh perhatian, yakni dengan mendorong peningkatan investasi domestik sebagai penyangga ekonomi nasional.

Tantangan lain yang juga perlu diberi perhatian ialah mendistribusikan sebaran investasi secara adil dan proporsional ke seluruh wilayah Indonesia, utamanya di luar Pulau Jawa dan kawasan Timur Indonesia. Dengan menciptakan investasi yang merata pada gilirannya akan membantu mengurangi ketimpangan pembangunan dan pendapatan di Indonesia. Lebih penting lagi, investasi tersebut haruslah diarahkan pada upaya penciptaan lapangan kerja yang masif.

Seluruh pandangan di atas bukanlah cerminan penolakan terhadap asing, tetapi lebih kepada peringatan terhadap pemerintah bahwa hasil pembangunan nasional haruslah kembali dan dinikmati sebesar-besarnya oleh rakyat Indonesia sendiri.Melaui kepemimpinan Indonesia yang baru ini, semoga momentum untuk memperbaiki iklim investasi nasional dapat dilaksanakan dengan penuh semangat dan suka cita*