Gapmmi: 10 Perusahaan Mamin Jepang akan Investasi di Indonesia

Rabu, 22/10/2014

NERACA

Jakarta – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman menyatakan bahwa setidaknya ada 10 perusahaan berskala besar asal Jepang berminat untuk masuk ke sektor makanan dan minuman (mamin) di Indonesia. “Menjelang Asean Economic Community (AEC) 2015, industri makanan dan minuman di Indonesia akan kedatangan banyak investor dari negara Jepang. Selain pasar yang sudah cukup jenuh di negaranya, ketertarikan investor Jepang untuk ekspansi karena Indonesia diprediksi menjadi pasar terbesar di Asean pada 2015,” kata Adhi di Jakarta, Selasa (21/10).

Iklim bisnis di Jepang, menurut Adhi, terpengaruh dengan kenaikan pajak dan demografi penduduk yang didominasi usia lanjut. “Potensi tersebut diperkirakan menjadi pemicu para investor Jepang akan membanjiri pasar makanan-minuman dalam negeri. Setidaknya 10 perusahaan skala besar telah lebih dulu masuk ke sektor makanan dan minuman Indonesia dan perusahaan Jepang yang telah merealisasikan investasinya di Indonesia antara lain Suntory, Asahi, Glico, Morinaga, Ito En, UHA, Mitsubishi, Yamazaki, dan Kanematsu,” paparnya.

Sebagian besar perusahaan makanan dan minuman asal Jepang, lanjut Adhi, mendirikan perusahaan patungan dengan menggandeng perusahaan makanan minuman yang berdiri sebelumnya di Indonesia. “Morinaga menggandeng Kino Group membentuk perusahaan patungan PT Morinaga Kino Indonesia. Sedangkan Suntory Beverage & Food Limited, perusahaan minuman terbesar kedua di Jepang, menggandeng PT Garudafood Putra Putri Jaya membentuk PT Suntory Garuda Beverage,” ujarnya.

Asahi Group Holdings Southeast Asia Pte Ltd merangkul PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) membentuk PT Indofood Asahi Sukses Beverage. Selain dengan Asahi, Indofood CBP juga membentuk joint venture dengan JC Comsa Corporation, perusahaan asal Jepang yang bergerak di bidang produksi dan pengolahan produk makanan berbahan dasar tepung terigu, food service, serta pengelola jaringan restoran dengan porsi kepemilikan saham mayoritas.

Sedangkan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) membentuk joint venture dengan Ito En Asia Pacific Holdings asal Jepang. Mitsubishi, perusahaan perdagangan terbesar di Jepang, juga menggandeng Alfamart Group untuk memproduksi dan menjual roti di 8.000 jaringan ritel PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Tidak hanya sampai di situ, perusahaan-perusahaan Jepang yang telah berekspansi dan akan berekspansi di Indonesia akan diperkuat dengan dukungan dari sektor ritel.

Tantangan AEC

Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membeberkan tantangan industri makanan dan minuman (mamin) nasional dalam menghadapi Asean Economic Community (AEC) tahun 2015 besar. Wakil Menteri Perindustrian, Alex SW Retraubun menyatakan pasca-efektifnya AEC, maka pasar tunggal kawasan segera terbentuk. Itu membuat masing-masing negara merebut pasar untuk menguasai sejumlah potensi bisnis. “Pengawasan atas barang impor perlu dilakukan. Perlindungan terhadap unfair trade, serta infrastruktur & biaya logistik nantinya juga menjadi perhatian penting," ujar Alex.

Dalam proses integrasi AEC pada tahun 2015, jelas dia, sektor pangan merupakan salah satu sektor yang akan dipercepat pelaksanaannya. Pembahasan melalui Prepared Foodstuff Product-Working Group (PFPWG) yang merupakan bagian dari forum ASEAN Consultative Committee on Standards and Quality(ACCSQ). “Selain itu, dilakukan pula proses perintisan integrasi ekonomi ASEAN, melalui harmonisasi standar dan perintisan saling pengakuan (MRA) untuk sektor pangan olahan,” ujar dia.

Lantas, ia menjelaskan selama semester pertama tahun 2014 ini sektor industri tersebut tumbuh 9,62% pada pertumbuhan sektor industri non-migas. “Pertumbuhan industri non-migas pada semester I tahun 2014 5,49% atau mengalami penurunan bila dibandingkan periode sama tahun 2013 yang mencapai 6,74%. Namun, pertumbuhan industri non-migas tersebut masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,17%,” papar dia.

Ia menambahkan bahwa pertumbuhan industri makanan, minuman dan tembakau meningkat signifikan ketimbang tahun 2013 lalu. Paruh pertama tahun 2013 lalu sektor industri ini hanya mencatatkan pertumbuhan 2,91%. “Ini menunjukkan bahwa sektor industri makanan, minuman dan tembakau mempunyai peran yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” imbuh dia.