InHutani Pesimis Bisa Go Public Tahun Depan

Rabu, 22/10/2014

NERACA

Jakarta – Pelaku pasar modal berharap pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla bisa mendorong perusahaan plat merah untuk go public. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing industri pasar modal dengan mendorong perbankan emiten listing di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk desakan BUMN PT Inhutani yang merupakan anak usaha Perum Perhutani (Persero).

Merespon hal tersebut, Direktur Utama Perum Perhutani, Mustoha Iskandar menilai pesimistis bila Inhutani bisa go public tahun depan. Pasalnya, perlu waktu lama untuk memproses initial public offering (IPO)BUMN di Bidang Kehutanan dan tidak bisa dilakuan dalam waktu yang singkat,”Kalau perubahan BUMN kehutanan butuh waktu, karena memang bisnis forest itu long term, bukan short term, Harus menunggu jangka waktu lebih lama,”ungkapnya di Jakarta, Selasa (21/10).

Dia mengatakan, untuk mendorong PT Inhutani melantai di bursa saham perlu dilakukan restrukturisasi terlebih dahulu. Menurutnya hal tersebut masih sulit dilakukan dan belum ada yang siap, “Perlu restrukturisasi, apa neraca dan laba-ruginya," katanya.

Meskipun demikian, Perum Perhutani akan terus melakukan pembenahan agar Inhutani dapat melakukan IPO. Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen pernah bilang, pemerintahan Jokowi dinantikan keberpihakannya terhadap industri pasar modal dalam mendorong BUMN untuk go public lebih banyak lagi, “Tahun depan harapannya dengan pemerintahan baru, keterpihakan ke pasar modal bisa jauh lebih besar,”tuturnya.

Menurutnya, keterpihakan yang dimaksud dari sisi upaya pemerintah dalam menggiring perusahaan-perusahaan BUMN bisa go public pada 2015 bisa sangat besar. Selain untuk membantu perkembangan perusahaan BUMN itu sendiri, langkah ini dilakukan guna membuat perusahaan tersebut jauh lebih terbuka dengan prinsip GCG (good corporate governance). “Sebab potensinya besar sekali BUMN untuk masuk bursa. Dan saya lihat banyak BUMN yang siap,” tambah Hoesen.

Seperti diketahui, pada tahun ini perusahaan BUMN tidak ada yang mencatatkan sahamnya di bursa. Hal ini justru yang memberanikan diri masuk bursa pertama kali, yakni anak usaha perusahaan BUMN, yakni Wika Beton. Jika tahun depan banyak perusahaan BUMN masuk bursa, bukan tidak mungkin target BEI mematok IPO 35 perusahaan pada 2015 bisa tercapai.

Hal senada juga pernah disampaikan Direktur Utama BEI, Ito Warsito, pihaknya mengharapkan pemerintahan baru mendatang mempermudah izin pelaksanaan penawaran umum perdana saham (IPO) bagi BUMN dalam rangka meraih pendanaan untuk mendukung investasi di dalam negeri sehingga membantu pertumbuhan ekonomi nasional,”Yang perlu dipikirkan adalah pasar modal, kalau pemerintah baru memikirkan pasar modal. Tentunya kebijakannya sederhana, izinkan BUMN melakukan IPO untuk mendapatkan dana dengan mengakses pasar modal,”ujarnya. (bani)