Pertamina Impor Gas LNG dari Afrika

Rabu, 22/10/2014

NERACA

Jakarta – Demi memenuhi kebutuhan domestik, PT Pertamina (Persero) akan melakukan importasi gas alam cair (liquified natural gas/LNG) dari salah satu negara di pantai Timur Afrika yaitu Mozambik. Menurut Senior Vice President Engineering and Operation Pertamina Salis Aprilian, impor LNG tersebut akan memenuhi kebutuhan dalam negeri setelah 2020. “Impor ini untuk memenuhi kebutuhan domestik yang terus meningkat,” katanya, di Jakarta, Selasa (21/10).

Menurut dia, saat ini produksi LNG yang ada di dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan LNG dalam beberapa tahun mendatang seiring peningkatan kebutuhan LNG. Berdasarkan perhitungan Pertamina, konsumsi LNG domestik akan meningkat 5% per tahunnya, sementara itu produksi gas cenderung mengalami stagnasi bahkan menurun. Disisi lain, produksi LNG yang ada di dalam negeri telah mempunyai kontrak ekspor yang sifatnya jangka panjang.

Namun, Salis mengaku tidak ingat volume impor LNG dari negara tersebut. Hanya saja, lanjutnya, ditambah impor LNG dari negara yang berdekatan dengan Mozambik, maka total volumenya menjadi 1,5 juta ton per tahun. “Dengan tambahan 1,5 juta ton ini, kami sudah memastikan kebutuhan tiga juta ton per tahun setelah 2020,” ujarnya.

Sebelumnya, Pertamina sudah menandatangani kesepakatan impor LNG sebesar 1,52 juta ton per tahun selama 20 tahun mulai 2018-2019 dari Cheniere Energy Inc, AS. Penandatanganan impor tersebut dilakukan dalam dua tahap yakni 4 Desember 2013 dan 1 Juli 2014 masing-masing dengan volume 0,76 juta ton per tahun. LNG akan dikirimkan dengan menggunakan tanker milik Pertamina.

Impor LNG tersebut direncanakan memasok kebutuhan lima terminal Pertamina di dalam negeri. Yakni, tiga unit penampungan dan regasifikasi terapung (floating storage and regasification unit/FSRU) yang berlokasi di perairan Jakarta, Cilamaya, dan Cilacap. Serta dua fasilitas darat yakni Arun, Aceh dan Bojanegara, Banten. Data Pertamina, pada 2014, konsumsi gas domestik mencapai sekitar 3.000 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan akan meningkat menjadi 8.000 MMSCFD dalam 10 tahun ke depan.

Kapal Raksasa

Sebelumnya, Pertamina juga mengimpor LNG dari Amerika Serikat. Bahkan, Pertamina juga telah menyiapkan kapal pengangkut LNG dengan ukuran raksasa. Nantinya Pertamina akan mengimpor gas LNG pada 2018 sebanyak 800.000 meter kubik per tahun untuk selama 10 tahun. “Kita akan melakukan pengadaan kapal pengangkut LNG, kapasitasnya memang belum ditentukan, kemungkinan 140.000-170.000 meter kubik, kapal kelas very large,” kata Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya.

Hanung mengatakan untuk pengadaan kapal LNG tersebut, perseroan akan melakukan lelang internasional. Calon produsen pemasok harus bisa memenuhi skala harga dan kualitas kapal yang ditetapkan Pertamina. “Karena ini kapasitasnya sangat besar, jadi kita lakukan lelang internasional, bisa dari China, Korea Selatan atau Jepang yang menang, tergantung lelangnya nanti,” ucap Hanung.

Hanung mengakui galangan kapal Hyundai Heavy Industries di Kota Ulsan, Korea Selatan, sangat besar. Sebelumnya Pertamina telah membeli 2 kapal Very Large Gas Carrier (VLGC) pengangkut elpiji dari Hyundai Heavy Industries. “Ini galangan kapal sangat besar sekali, produksi kapal besar di Hyundai ini mencapai 300 kapal per tahun, jadi artinya tiap 3 hari sekali mereka bisa buat 1 kapal berskala besar,” ucapnya.

Kapal VLGC Pertamina Gas 2 yang dipesan, merupakan kapal ke 5 yang dibeli Pertamina. Ditempat yang sama, President and CEO Hyundai Heavy Industries O.H Kim mengungkapkan sangat tertarik ikut lelang kapal LNG yang akan dipesan Pertamina. “Tentu kami sangat tertarik, karena Pertamina merupakan salah satu pelanggan terbesar kami,” ucapnya.

Pertamina dan Corpus Christi Liquefaction, LLC juga telah menandatangani perjanjian jual beli (PJB) LNG tersebut pada 1 Juli 2014. Sesuai perjanjian, Pertamina akan membeli LNG dari Cheniere memakai skema pelabuhan asal (free on board/FoB) dengan harga pembelian mengacu pada harga indeks bulanan Henry Hub ditambah komponen tetap. LNG akan dikirimkan dengan menggunakan tanker milik Pertamina.

Direktur Gas PT Pertamina Hari Karyuliarto, mengatakan impor LNG akan ditambah sebesar 0,76 juta ton per tahun. Tambahan impor berasal dari terminal LNG kedua milik Corpus Christi Liquefaction, LLC, anak perusahaan dari Cheniere Energy Inc. “Pasokan sebesar 0,76 juta ton per tahun selama 20 tahun mulai 2019,” kata Hari.

Impor dari Cheniere ini merupakan kali kedua setelah Pertamina menandatangani PJB LNG pertama pada 4 Desember 2013. Perjanjian pertama itu menyebutkan Cheniere akan memasok 0,76 juta ton LNG per tahun selama 20 tahun mulai 2018. Artinya, total pasokan dari Cheniere kepada Pertamina menjadi 1,52 juta ton per tahun selama 20 tahun. “Perjanjian jual beli LNG jangka panjang ini akan memberikan kepastian pasokan untuk proyek-proyek infrastruktur LNG perusahaan,” kata Hari.

Ironis, Pertamina mengimpor gas karena harga di luar negeri lebih kompetitif. Padahal di sisi lain, harga jual LNG lokal yang diekspor ke luar negeri, justru lebih rendah dibanding harga pasaran. Contoh, tilik saja bagaimana gas Tangguh, Papua Barat, dilepas dengan harga sangat murah ke Cina, yakni US$ 3,35/mmbtu (kemudian direnegoisasi menjadi US$ 8/mmbtu). Sementara untuk pembeli dalam negeri, harga jual gas rata-rata sudah mencapai US$ 9,5- US$ 13/mmbtu.