Meraup Ceruk Pasar Bisnis Asuransi Perjalanan

Gandeng Agen Travel

Selasa, 21/10/2014

NERACA

Jakarta – Menjalani kehidupan selalu penuh misteri, tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi kedepan dan termasuk musibah yang bakal menimpa seseorang. Namun begitu, bukan bermaksud mendahului takdir tuhan, persiapan perencanaan keuangan yang matang dirasakan perlu bagi masyarakat saat ini dan termasuk perlindungan asuransi kesehatan dan aspek lainnya dalam kehidupan.

Hal ini dimaksudkan untuk meringankan beban seseroang terhadap biaya yang bakal ditanggung, termasuk biaya pengobatan yang terus mahal tiap tahunnya. Namun sayangnya, belum banyak masyarakat memanfaatkan asuransi sebagai perlindungan kesehatan keluarga di masa akan datang. Mereka yang belum sadar akan asuransi beranggapan masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak ketimbang menyisihkan sebagian penghasilan untuk keperluan proteksi diri dan harta bendanya. Apalagi, jika mengharapkan masyarakat memandang asuransi sebagai instrumen investasi, mungkin masih terlalu jauh.

Masih rendahnya penetrasi pasar asuransi menjadi tantangan kedepan. Pasalnya, dari 240 juta lebih penduduk Indonesia hanya 18% yang sudah melek asuransi atau sekitar 43,2 juta orang saja yang paham dengan asuransi,"Literasi asuransi di Indonesia masih rendah, yang sudah memahami asuransi di data OJK 18% dari jumlah penduduk Indonesia," kata Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Hendrisman Rahim.

Bahkan dari jumlah itu, yang benar-benar sudah merasakan produk asuransi hanya 12% atau hanya 28,8 juta penduduk saja. Mendorong masyarakat memiliki dan memanfaatkan asurasnsi dirasakan penting untuk memindahkan risiko yang akan dihadapi di masa mendatang. Apalagi, saat ini produk asuransi kini sudah memasuki lini kehidupan masyarakat dari berbagai aspek dan tidak memulu mengcover asuransi kesehatan atau jiwa dan pendidikan saja, tetapi mencangkup asuransi lain dan termasuk asuransi perjalanan.

Menjawab kebutuhan masyarakat akan asuransi perjalanan, PT Asuransi Allianz Utama Indonesia sudah mematangkan bisnis yang satu ini. Apalagi, seiring meningkatnya daya beli masyarakat mulai melihat perjalanan sudah bagian dari kebutuhan untuk obat melepas kejenuhan.

Melihat potensi tersebut, perseroan menggandeng PT Panorama Tours Indonesia meluncurkan produk asuransi perjalanan bertajuk PanoramaSure. Produk ini menawarkan perlindungan komprehensif atas risiko yang terjadi selama nasabah melakukan perjalanan. Berdasarkan lembaga riset market dan konsultasi independen Internasional Finaccord, diperkirakan masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri meningkat. Pada tahun 2016, jumlahnya diprediksi mencapai 10,9 juta atau tumbuh 43,42% jika dibandingkan tahun 2012 silam.

Daniel Neo, Direktur Utama Allianz Utama pernah bilang, asuransi ini resmi dipasarkan kepada pelanggan Panorama Tours untuk memanfaatkan potensi pasar bisnis travel,”Produk ini memberikan ketenangan kepada tertanggung ketika mereka berlibur atau perjalanan bisnis atas berbagai kemungkinan risiko,”ungkapnya.

Keyakinan bisnis travel masih menjanjikan, didukung riset yang memprediksi, pembelian polis asuransi perjalanan tahun depan akan menyentuh 872.000 pemegang polis atau melesat 59% dibandingkan tahun 2012. "Saat ini semakin banyak orang berpergian dan asuransi sangat bermanfaat ketika terjadi keadaan darurat," imbuh dia.

Tidak hanya itu, guna mengoptimalkan potensi pasar, Asuransi Allianz juga menggandeng kerjasama dengan maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk dengen merilis produk asuransi perjalanan bernama Garura Indonesia Travel Insurance.

Menurut Inkes Lukman, Direktur Asuransi Allianz Utama Indonesia, produk Garuda Indonesia Travel Insurance mencakup perjalanan domestik maupun internasional. Ditambahkan, selain memperoleh penggantian kerugian apabila pesawat delay, penumpang maskapai penerbangan Garuda Indonesia juga dipastikan bakal mendapatkan penggantian terhadap bagasi hilang atau rusak plus perpanjangan waktu menetap pada saat terjadi kehilangan dokumen perjalanan. Di samping itu, Garuda Indonesia Travel Insurance pun menjanjikan penggantian biaya pengobatan, santunan tunai harian rumah sakit, evakuasi medis darurat hingga repatriasi.

Belum Paham Aturan

Meskipun pasarnya yang menjajikan, PT Asuransi Allianz Utama Indonesia menilai, banyak masyarakat atau para travelers yang salah mengartikan soal penggunaan travel insurance atau asuransi perjalanan, terutama dari sisi medical expense (biaya pengobatan).

Head of Personal Accident Travel and Health Asuransi Allianz Utama Indonesia, Mariani Solihah mengatakan, asuransi perjalanan memang memberikan pelayanan kepada para travelers yang sakit saat melakukan perjalanan. Namun, banyak kesalahan persepsi dari para travelers yang menggunakan asuransi tersebut disalahgunakan.“Asuransi perjalanan tersebut malah dijadikan untuk berobat. Travel insurance itu meng-cover penyakit selama perjalanan, bukan penyakit bawaan, misalnya, saat travel salah makan dan menjadi sakit perut, biaya berobatnya bisa di klaim di asuransi,” ujar Mariani.

Danya kondisi tersebut, lanjutnya, para travelers yang menggunakan asuransi perjalanan ini, masih banyak yang belum paham betul bagaimana mengklaim travel insurance. Selain itu, banyak masyarakat yang belum mengetahui lebih luas mengenai apa itu asuransi perjalanan.“Banyak yang salah persepsi soal medical insurance yang traveling sekalian medical check up, padahal cuma US$ 3000 yang di-cover tapi klaimnya bisa sampai US$ 100 ribu, ini yang biasanya menjadi salah persepsi mereka,”ungkap Mariani.

Allianz sendiri mencatat pertumbuhan travel market Indonesia sejak 2008 sampai 2012 sebesar 8,5% dengan jumlah traveler mencapai 7,6 juta orang. Dari total jumlah tersebut masih minim travelers Indonesia yang mengikuti travel insurance. Saat ini, PT Asuransi Allianz Utama mencatat kontribusi premi dari produk asuransi perjalanan (travel insurance) masih rendah, yakni di bawah 10% dari total produk premi perusahaan.

Kata Mariani Solihah, pada beberapa tahun mendatang, perusahaan berharap kontribusi premi dapat meningkat hingga 100% per tahunnya. Harapan peningkatan kontribusi premi itu juga tak lepas dari potensi sektor pariwisata Indonesia, yang menurut Mariani, akan terus meningkat dengan pertumbuhan di kisaran delapan persen. Pada 2008-2012, Allianz mencatat pertumbuhan pelancong sebesar 8,5% per tahun. (bani)