MEA 2015, Perdagangan E-Commerce akan Meningkat

Selasa, 21/10/2014

NERACA

Jakarta – Memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai bahwa penerapan MEA akan meningkatkan minat usaha perdagangan lewat elektronik atau e-commerce. “Usaha E-commerce akan semakin banyak dgunakan para pengusaha untuk menyiasati jarak pada MEA mendatang,” ucap Ketua Parekraf BPP Hipmi Erik Hidayat di Jakarta, Senin (20/10).

Ia mengatakan bahwa masalah jarak akan muncul ketika MEA diberlakukan karena perdagangan akan dilaksanakan antarnegara, dimana jangkauan pemasaran antara penjual dan pembeli menjadi lebih sulit dibandingkan di dalam negeri. Penjual yang ingin menawarkan barang ke luar negeri kerap tak didukung dengan modal yang banyak, sehingga e-commerce menjadi alternatif untuk memasarkan produk tersebut.

Perdagangan elektronik, menurut Erik, juga kemudian dapat dimanfaatkan para pengusaha Indonesia untuk mengembangkan pasar usahanya ke luar negeri. “Untuk mendukung perluasan pasar produk dalam negeri melalui e-commerce, tentu saja harus didukung dengan akses Internet yang bagus, sehingga pemerintah sebaiknya mulai mendorong perluasan jaringan ini,” kata dia.

Sebelumnya, MEA akan diberlakukan pada seluruh kawasan negara yang tergabung dalam Asosiasi Negara Asia Tenggara mulai tahun depan. Jadwal penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN tersebut secara resmi diberlakukan mulai 31 Desember 2015, tertunda dari rencana awal pada 1 Januari 2015. Dengan adanya MEA tersebut, sejumlah tenaga profesional dapat dengan bebas bekerja maupun membuat usaha di wilayah negara anggota ASEAN lain.

Patut diketahui, transaksi penjualan lewat e-commerce secara global diprediksi akan menembus angka US$2 triliun pada 2015 mendatang. Menurut studi dari Bigcommerce, angka ini tergolong fantastis mengingat sebelumnya butuh 18 tahun (1994-2012) bagi transaksi e-commerce menembus nilai US$ 1triliun. Pada tahun 2014, diperkirakan transaksi e-commerce menembus US$ 1,5 triliun.

Masih menurut Bigcommerce, banyak kemajuan dalam ekosistem perdagangan online dimana untuk membuka toko tak membutuhkan waktu lama layaknya di masa. Apalagi adanya inovasi Software-as-a-Service (SaaS) yang membuat hal kompleks seperti pembayaran dan lainnya menjadi lebih simpel.

Dalam studi ini terlihat banyak perusahaan menengah dan bawah di Amerika Serikat memanfaatkan e-commerce untuk meningkatkan penetrasinya.Pada 2013, nilai e-commerce di segmen ini mencapai US$ 76,76 miliar di Amerika Serikat dan di 2015 bisa menembus US$100 miliar.

Kondisi Indonesia

Sebelumnya, Lembaga riset Taylor Nelson Sofres (TNS) memperkirakan nilai transaksi e-commerce di Indonesia bisa menembus US$ 24 miliar pada 2016 mendatang setelah bertengger di US$ 8 miliar pada 2013 lalu. Para pemain baru pun akan bermunculan di e-commerce. Misalnya, MNC Group akan meluncurkan bisnis e-commerce pada 2015.

Pemain lama pun terus mengembangkan produknya. Terlihat dari aksi blibli.com yang akan menggenjot layanan di segmen otomotif. Dari data penjualan Blibli.com selama semester I-2014, lini penjualan kategori otomotif Blibli.com mengalami peningkatan penjualan lebih dari 1.600% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Produk eksterior mobil, pembersih dan perawatan mobil, serta interior mobil menjadi tiga macam kebutuhan kendaraan bermotor paling laku selama enam bulan pertama di tahun ini.

Perusahaan pariwisata seperti Panorama Group juga melebarkan sayap bisnis ke e-commerce. Panorama Group memiliki 53 lini bisnis. Dari jumlah itu, lima anak usaha bergerak di e-commerce. Hanya saja, kontribusi e-commerce ke total pendapatan masih rendah dan kurang dari 10%.

Bisnis e-commerce Panorama ditopang oleh lima situs pemesanan tiket yaitu bookpanorama.com, panorama-tours.com, myhotelfinder.com, travelisious.co.id dan phm.co.id. Dari lima situs ini terbesar sekitar 40% pendapatan disumbang dari bookpanorama,com.com dan sisanya 60% berbagi rata dengan empat situs yang lainnya.

Pada 2017, Panorama mengharapkan kontribusi dari segmen e-commerce mencapai 25%. Panorama Grup sudah mengalokasikan dana sekitar US$ 10 juta untuk membiayai bisnis ini untuk lima tahun. Perseroan menargetkan pada Juni 2015 depan situs pemesanan tiket pesawat yang dirintis saat ini sudah bisa beroperasi dengan sempurna.