Menumbuhkan Kesadaran Ekonomi Pesantren

Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Selasa, 21/10/2014
Belum semua pesantren memiliki kesadaran tentang perlunya mengembangkan ekonomi, terutama terhadap para santrinya. Hal itu berbeda dengan lembaga pendidikan di luar itu, atau pendidikan umum, mereka telah memandang penting membekali para siswanya dengan pengetahuan ekonomi, atau entreprenership agar setelah lulus mampu mereka tidak menganggur. Maka artinya, di lembaga pendidikan umum, kesadaran betapa pentingnya ketrampilan berekonomi, sudah terlebih dahulu tumbuh.

Pendidikan di pesantren lebih mengedepankan pada penguasaan ilmu agama, seperti ilmu fiqh, tauhid, akhlaq, tasawwuf, ilmu tafsir, hadits, bahasa Arab, dan sejenisnya. Setelah dinyatakan lulus dari pesantren, mereka telah memiliki bekal dalam ilmu agama. Berbekalkan ilmunya itu, mereka mampu menjalankan kehidupan agama dan bahkan juga mampu memimpin kehidupan agama di tengah masyarakat.

Dahulu ketika ekonomi masyarakat masih bersifat tradisional, yakni berbagai usaha bisa dijalankan secara alamiah, maka lulusan pesantren dengan berbekalkan ilmu agama dalam pengertian sebagaimana disebutkan di muka belum dirasakan ada problem. Lulusan pesantren masih bisa beradaptasi dengan kehidupan masyarakat, termasuk dalam berekonomi. Namun setelah terjadi perubahan mendasar, bahwa usaha apa saja harus bermuatan sains dan teknologi, maka lulusan pesantren tidak selalu mampu beradaptasi dengan tuntutan kehidupan yang semakin modern itu.

Pada saat ekonomi pertanian, peternakan, perikanan, dan juga perdagangan bisa dilakukan secara alamiah, dengan modal yang ada, maka lulusan pesantren masih berpeluang untuk meraih keunggulan. Akan tetapi setelah kegiatan ekonomi semakin modern, memaksa siapapun, tidak terkecuali pesantren, membekali santrinya dengan pengetahuan itu. Mengabaikan kenyataan itu, menjadikan santri pesantren akan tertinggal dengan laju perkembangan masyarakatnya. Lulusan pesantren akan sekedar menjadi penonton, padahal watak yang dikembangkan oleh mereka adalah watak pelaku dan bahkan jiwa memimpin.

Menghadapi kenyataan itu, beberapa pengasuh pesantren yang telah berhasil mengembangkan ekonomi berusaha untuk menumbuhkan keasadaran itu. Beberapa kali mengadakan pertemuan, dan bahkan pada tanggal 13 Oktober 2014, mereka bertemu kembali di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sekitar 50 orang kyai, pengasuh pesantren, bertemu dan membicarakan tentang upaya menumbuhkan kesadaran ekonomi di lingkungan pendidikan Islam itu.

Beberapa pesantren yang telah memberikan bekal kemampuan ekonomi kepada para santrinya dan bahkan berhasil mengembangkan ekonomi dihadirkan dan diminta memberikan pengalamannya. Misalnya, pesantren Sidogiri Pasuruan yang telah berhasil mengembangkan ekonomi lewat BMT. Pesantren ini, dalam usaha ekonominya dimaksud, telah memiliki aset tidak kurang dari 12 triliyun rupiah, dan telah mampu menyerap ribuan tenaga kerja. Artinya, pesantren menjadi tidak sebagaimana diduga orang, yakni melahirkan pengangguran, tetapi dalam batas-batas tertentu, telah berhasil menciptakan lapangan kerja baru bagi lulusannya. Demikian pula, pesantren Riyadul Jannah Pacet, Mojokerto, telah berhasil mengembangkan ekonomi pertanian, peternakan, perdagangan, dan lain-lain.

Selain itu, para kyai pengasuh pesantren dalam usaha menumbuhkan kesadaran berekonomi, juga menjalin kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi dan bahkan pelaku ekonomi modern. Beberapa perguruan tinggi yang diajak serta untuk memikirkan usahanya itu misalnya Universitas Brawijaya Malang, UIN Malang, Universitas Veteran Surabaya, Unesa Surabaya, dan lain-lain. Selain itu, para pelaku ekonomi berskala menengah ke atas juga dihadirkan dalam beberapa kali pertemuan dimaksud. Kehadiran para pelaku ekonomi di luar pesantren tersebut dipimpin oleh Letnan Jendral TNI Purnawirawan Ir. H. Azwar Anas untuk memberikan pengetahuan dan pengalamannya.

Manakala usaha-usaha ini berhasil dilakukan secara istiqomah, maka tidak menutup kemungkinan pesantren akan menjadi lokomotif pengembangan ekonomi masyarakat, dan sekaligus juga menghapus citra bahwa pesantren tidak peduli pada kehidupan ekonomi dan menghasilkan pengangguran. Lebih dari itu, dan bahkan yang lebih penting lagi adalah akan menunjukkan bahwa ajaran Islam sebenarnya memberi petunjuk yang luas tentang pengembangan ekonomi masyarakat. Islam bukan saja berisi petunjuk dan bimbingan ritual, melainkan bersifat universal, hingga seluas wilayah kehidupan itu sendiri. Wallahu a'lam.(uin-malang.ac.id)