Obligasi Presiden Baru

Selasa, 21/10/2014

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – Bond Research Institute

Pengembangan pasar surat berharga domestik masih jauh dari potensinya, termasuk jika dibandingkan dengan pasar ASEAN-5 (Singapura, Thailand, Filipina, Malaysia, Indonesia). Dampaknya, perekonomian menanggung opportunity cost signifikan dan berkelanjutan. Pasar domestik sangat berharap Jokowi-JK mampu mengatasi tantangan ini. Efektivitas dampak kebijakan baru bisa teridentifikasi bahkan sebelum hari ke 100 masa jabatan mereka. Para ekonom/praktisi industri/perumus kebijakan publik sangat diharapkan secara mutual mampu memberikan suatu working solution bagi sikon ini. Pemerintahan yang baru diharapkan mampu memberikan direksi baru, berbeda serta lebih baik daripada kinerja pasar surat berharga domestik era sebelumnya.

Dalam surat berharga terdapat 2(dua) perspektif yang mandatori dibedakan, yaitu sisi supply dan sisi demand. Sisi supply diwakili oleh peran pemerintah dan industri yang menerbitkan ragam efek surat berharga bagi pasar yang berperan selaku pembeli, dalam hal ini mewakili sisi demand. Pemerintah bertanggung jawab merumuskan soft-infrastructures, sekumpulan rambu acuan bagi segenap partisipan perekonomian. Selain itu, pemerintah telah memiliki lembaga strategis yang mengatur pasar, Otoritas Jasa Keuangan(OJK), Direktoral Jenderal Pengelolaan Utang(DJPU), Bank Indonesia (BI), SRO (BEI+KSEI+KPEI) yang secara langsung terlibat dalam pengembangan pasar obligasi domestik.

Sayangnya, selama ini pemerintah terlalu fokus di kegiatan sisi supply, disibukkan dengan kegiatan perumusan soft-infrastructures berbungkuskan agenda pengembangan. Ini manifestasi school of thought konvensional sebagaimana yang pernah dicetuskan ekonom-politisi asal Perancis Jean Baptiste Say, “Supply creates its own demand.” Pengembangan pasar obligasi ala Baptiste telah obsolete, sekarang Indonesia malah massif menerapkannya. Ini kekeliruan laten dan berbahaya. Suatu kekeliruan akibat ketaktepatan asumsi pemerintah sebelumnya saat perumusan strategi pengembangan pasar obligasi domestik. Prioritas ada di pengembangan sisi demand, yaitu peningkatan kapasitas partisipan pasar.

Entropi pasar akan semakin tinggi menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Dinamika akan lebih terasda di sisi supply. Tahun 2015 hanya tersisa 2(dua) bulan lagi. Siap tidak siap, pasar obligasi kita harus siap berkompetisi. Elemen kunci strategi pengembangan pasar obligasi domestik ada pada peningkatan kapasitas sisi demand. Pemerintah baru harus fokus pada penguatan basis investor. Perkuat hal ini maka permintaan terdongkrak! Agar lebih mempergencar, lakukan pengayaan efek surat berharga, perkuat likuiditas dalam kondisi volume terus bertambah, peringkat investasi meningkat dan perekonomian stabil/bertumbuh. Inilah obligasi Presiden baru bagi pasar surat berharga domestik.

Secara umum, ada 3(tiga) hal terukur yang perlu diperhatikan pemimpin pemerintahan baru saat merumuskan strategi baru dalam rangka mencapai objektif pengembangan pasar domestik, yaitu: (1) continuing better capacity building; (2) improving soft-infrastructures; (3) enhancing project-financing activities.

“Education reveals the potential of people and market,” oleh Toba Beta (Penulis Master of Stupidity). Artinya, pengembangan kapasitas sumber daya manusia Indonesia tetap menjadi objektif terutama dan paling urjen.