Obligasi Presiden Baru

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – Bond Research Institute

Pengembangan pasar surat berharga domestik masih jauh dari potensinya, termasuk jika dibandingkan dengan pasar ASEAN-5 (Singapura, Thailand, Filipina, Malaysia, Indonesia). Dampaknya, perekonomian menanggung opportunity cost signifikan dan berkelanjutan. Pasar domestik sangat berharap Jokowi-JK mampu mengatasi tantangan ini. Efektivitas dampak kebijakan baru bisa teridentifikasi bahkan sebelum hari ke 100 masa jabatan mereka. Para ekonom/praktisi industri/perumus kebijakan publik sangat diharapkan secara mutual mampu memberikan suatu working solution bagi sikon ini. Pemerintahan yang baru diharapkan mampu memberikan direksi baru, berbeda serta lebih baik daripada kinerja pasar surat berharga domestik era sebelumnya.

Dalam surat berharga terdapat 2(dua) perspektif yang mandatori dibedakan, yaitu sisi supply dan sisi demand. Sisi supply diwakili oleh peran pemerintah dan industri yang menerbitkan ragam efek surat berharga bagi pasar yang berperan selaku pembeli, dalam hal ini mewakili sisi demand. Pemerintah bertanggung jawab merumuskan soft-infrastructures, sekumpulan rambu acuan bagi segenap partisipan perekonomian. Selain itu, pemerintah telah memiliki lembaga strategis yang mengatur pasar, Otoritas Jasa Keuangan(OJK), Direktoral Jenderal Pengelolaan Utang(DJPU), Bank Indonesia (BI), SRO (BEI+KSEI+KPEI) yang secara langsung terlibat dalam pengembangan pasar obligasi domestik.

Sayangnya, selama ini pemerintah terlalu fokus di kegiatan sisi supply, disibukkan dengan kegiatan perumusan soft-infrastructures berbungkuskan agenda pengembangan. Ini manifestasi school of thought konvensional sebagaimana yang pernah dicetuskan ekonom-politisi asal Perancis Jean Baptiste Say, “Supply creates its own demand.” Pengembangan pasar obligasi ala Baptiste telah obsolete, sekarang Indonesia malah massif menerapkannya. Ini kekeliruan laten dan berbahaya. Suatu kekeliruan akibat ketaktepatan asumsi pemerintah sebelumnya saat perumusan strategi pengembangan pasar obligasi domestik. Prioritas ada di pengembangan sisi demand, yaitu peningkatan kapasitas partisipan pasar.

Entropi pasar akan semakin tinggi menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Dinamika akan lebih terasda di sisi supply. Tahun 2015 hanya tersisa 2(dua) bulan lagi. Siap tidak siap, pasar obligasi kita harus siap berkompetisi. Elemen kunci strategi pengembangan pasar obligasi domestik ada pada peningkatan kapasitas sisi demand. Pemerintah baru harus fokus pada penguatan basis investor. Perkuat hal ini maka permintaan terdongkrak! Agar lebih mempergencar, lakukan pengayaan efek surat berharga, perkuat likuiditas dalam kondisi volume terus bertambah, peringkat investasi meningkat dan perekonomian stabil/bertumbuh. Inilah obligasi Presiden baru bagi pasar surat berharga domestik.

Secara umum, ada 3(tiga) hal terukur yang perlu diperhatikan pemimpin pemerintahan baru saat merumuskan strategi baru dalam rangka mencapai objektif pengembangan pasar domestik, yaitu: (1) continuing better capacity building; (2) improving soft-infrastructures; (3) enhancing project-financing activities.

“Education reveals the potential of people and market,” oleh Toba Beta (Penulis Master of Stupidity). Artinya, pengembangan kapasitas sumber daya manusia Indonesia tetap menjadi objektif terutama dan paling urjen.

BERITA TERKAIT

Nilai Emisi Obligasi Capai Rp 115,03 Triliun

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total emisi surat utang atau obligasi sejak awal tahun hingga Oktober 2017 ini mencapai…

KOTA SUKABUMI - Baru Sebulan Berjalan, 80 Persen WP Sudah Gunakan Pantas

KOTA SUKABUMI Baru Sebulan Berjalan, 80 Persen WP Sudah Gunakan Pantas NERACA Sukabumi - Meskipun baru sebulan lalu Pemerintah Kota…

ADHI Baru Serap Obligasi Rp 966,73 Miliar

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) baru menggunakan dana hasil penerbitan obligasi berkelanjutan II Tahap I Tahun 2017 sebesar Rp966,73 miliar…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Dilema Utang vs Pajak

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi Neraca Ketika melihat data keseimbangan primer atau kemampuan pemerintah membayar utang di dalam…

Nilai Tambah dalam Ekonomi dan Industri

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Lama sudah kita menenggelamkan diri dalam persoalan ekonomi. Kegiatan dan proses…

Belum Seutuhnya Merdeka

Oleh: Dhenny Yuartha Junifta Peneliti INDEF Sudah 72 tahun Republik ini memproklamasikan diri sebagai negara merdeka. Namun, seiring nafas perubahan…