Usaha Budidaya Perikanan Terus Dikembangkan

Pusat Induk Unggul Dukung Produksi Akuakultur

Senin, 20/10/2014

NERACA

Sukabumi – Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan, peluang usaha di bidang perikanan budidaya (akuakultur) mempunyai prospek yang sangat menjanjikan. Menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, permintaan ikan dari tahun ke tahun menunjukan kecenderungan yang semakin meningkat sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk dan kualitas hidup yang diikuti dengan perubahan pola konsumsi masyarakat.

Itu sebabnya, lanjut Slamet, pengembangan usaha budidaya perikanan terus diupayakan untuk meningkatkan kontribusinya pada pembangunan sektor Kelautan dan Perikanan. “Dalam rangka memenuhi ketersediaan bahan pangan protein hewani, menyediakan bahan baku untuk pertumbuhan industri perikanan, meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan, menyediakan kesempatan kerja dan berusaha,” ujar Slamet pada acara Pertemuan Broodstock Centre Ikan Nila, Mas dan Lele di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat, belum lama ini.

Dirjen Slamet juga menjelaskan, dalam pengembangan usaha budidaya tersebut tentu saja perlu menyusun strategi bagi industrialisasi perikanan budidaya, khususnya dalam rangka peningkatan produksi perikanan budidaya maka peranan Pusat Induk (Broodstock Centre) dalam proses produksi induk unggul bagi penyediaan benih dengan mutu terjamin.

Dalam catatan DJPB, benih ikan sebagai sarana produksi utama pada proses produksi perikanan budidaya sangatlah penting dan strategis, mengingat bahwa peningkatan produksi perikanan budidaya harus diawali dengan penggunaan benih ikan memenuhi jaminan mutu. Tanpa keberadaan benih seluruh sumber daya dan potensi perikanan budidaya akan menjadi lumpuh atau kehilangan perannya.

Maka, kata Dirjen, peranan unit pembenihan ikan baik unit pembenihan ikan skala besar, skala kecil maupun pendederan perlu segera melakukan pemantapan dan pemberlakuan sistem jaminan mutu terhadap semua fungsi sistem perbenihan nasional, khususnya pembenihan ikan skala kecil dan unit usaha pendederan harus menerapkan pola usaha dengan penggunaan teknologi dan sarana produksi yang modern, seperti penerapan biosecurity yang ketat, penggunaan induk-induk unggul dan pakan berkualitas.

Yang tak kalah penting, imbuh Slamet Soebjakto, di dalam setiap usaha perbenihan perikanan adalah harus terpenuhinya tuntutan jaminan mutu produk benih perikanan sebagai komoditi perdagangan, baik untuk tujuan ekspor maupun pasar dalam negeri, minimal kesesuaian produk dengan persyaratan baku minimal, yaitu SNI (Standard Nasional Indonesia). “Oleh karena itu, penerapan jaminan mutu secara menyeluruh harus dilakukan mulai sejak awal produksi hingga produk sampai ketangan pembudidaya ikan sebagai pemangku kepentingan atau pengguna,” tambahnya.

Teknologi Perbenihan

Lebih jauh Slamet Soebjakto mengatakan, pihaknya telah memantapkan teknologi perbenihan perikanan secara keseluruhan baik untuk pengembangan teknologi, segmentasi usaha, maupun distribusi dan pemasarannya dengan melaksanakan kegiatan penerapan Cara Pembenihan Ikan Yang Baik (CPIB) pada unit pembenihan ikan. Program kegiatan ini diharapkan merupakan standard teknologi perbenihan perikanan yang menghasilkan produk benih ikan yang memenuhi persyaratan keamanan pangan dan ramah lingkungan.

Sebagaimana diketahui, arah kebijakan perbenihan nasional saat ini didominasi oleh pemerintah, mulai dari sistem produksi induk sampai benih sebar. Dijelaskan Slamet, ke depan semua sistem pentahapan tersebut akan dilakukan dengan pendekatan industri yang pelaksanaannya distandardisasikan dengan mengacu pada sistem manajemen mutu, secara perangsur dilakukan oleh pihak swasta. “Pemerintah hanya berperan dalam pengaturan, pelayanan, pengawasan serta penelitihan yang bersifat fundamentalis dan strategis,” ujarnya.

Sementara untuk menunjang peningkatan produksi perikanan budidaya, maka sebagai output yang diharapkan pada program Pengembangan Sistem Perbenihan Perikanan adalah terpenuhinya kebutuhan benih untuk produksi dan pasar dengan mutu terjamin serta didukung dengan data yang akurat.

Terkait dengan hal tersebut, jelas Slamet, sasaran pemenuhan kebutuhan induk unggul bagi terpenuhinya benih bermutu dengan jumlah mencukupi sesuai dengan Sasaran Tahun 2015 untuk ikan Mas sebesar 16.286 ekor; ikan Nila sebesar 8,087,500 ekor dan ikan Lele sebesar 361.111 ekor, maka langka- langka strategis yang telah dilakukan dalam pencapaian target pemenuhan kebutuhan induk ikan adalah mengembangkan Jejaring Pemuliaan dan Produksi Induk Unggul.

Broodstock Center, dalam pandangan Slamet, sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan induk ikan unggul dalam jumlah yang memadai untuk mencukupi kebutuhan benih dalam rangka mendukung program perikanan budidaya. Di samping itu, Broodstock Center juga penting dalam mewujudkan industrialisasi perbenihan nasional dalam rangka penyediaan induk unggul dan benih bermutu secara mandiri.

“Adapun dalam upaya pengembangan jaringan pembenihan perbenihan dan pengelolaan induk ikan, dilakukan tahapan kegiatan evaluasi dan monitoring induk ikan, pelaksanaan breeding program, percepatan produksi induk ikan,) serta pendistribusian induk unggul,” pungkas Dirjen Slamet Soebjakto.