Industri Internet Mampu Sumbang 2,8% ke PDB

Senin, 20/10/2014

NERACA

Jakarta - Era teknologi zaman sekarang membuat industri internet mengalami kemajuan pesat. Bahkan, kini industri internet telah mampu menyumbang 2,8% atau mencapai US$26 miliar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Hal tersebut seperti diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Jasa Internet (APJI), Semuel A Pangerapan, akhir pekan kemarin.

"Total pengguna internet saat ini 28 persen dari total penduduk Indonesia atau sekitar 71,2 juta, dan telah menyumbangkan 1,3 persen PDB yang mencapai US$900 miliar. Jumlah ini akan semakin besar jika target 50 persen penduduk Indonesia bisa menggunakan internet atau sekitar 120 juta jiwa bisa tercapai pada tahun 2016," kata Semuel.

Terkait hal tersebut, APJI berharap, pemerintahan yang baru dapat mendukung pengembangan industri internet. Selain bisa memajukan bangsa, pengembangan industri ini juga bisa meningkatkan pendapatan negara, baik dari pajak maupun non pajak. "Industri internet sudah menyumbang ke pendapatan negara yang cukup besar setiap tahunnya. Bahkan sumbangan ke PDB juga sangat tinggi," ujar dia.

Menurut Semuel, sumbangan industri telekomunikasi dan internet untuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP) setiap tahunnya bisa mencapai US$1,3 miliar. Jika ditambah dengan sumbangan pajak berupa pajak penghasilan tentu angkanya lebih besar lagi.

Dengan sumbangan yang cukup besar tersebut, dia berharap, orang yang akan mengisi posisi menteri komunikasi dan informasi, merupakan sosok yang mengerti mengenai industri telekomunikasi dan internet, sehingga regulasi yang dikeluarkan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas. "Kalau bisa jangan orang partai. Karena banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, sebaiknya menterinya dari kalangan profesional yang mengerti soal industri ini," jelas dia.

PR untuk Jokowi

Semuel memaparkan, pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintahan Joko Widodo, antara lain mengenai peningkataan pengguna internet yang diharapkan pada tahun 2019 bisa mencapai 80 persen dari total jumlah penduduk.

Kemudian, masih adanya perbedaan harga penggunaan internet yang cukup tinggi atara wilayah barat dan timur Indonesia. "Kalau di Jawa dengan Rp300 ribu sudah bisa dapat akses kecepatan 2 megabyte. Tetapi, kalau di Indonesia Timur dengan kecepatan internet yang sama harus membayar Rp6 juta. Ini kan harus dibenahi, internet harus murah. Makanya pemerintah perlu memiliki satelit yang bisa menjangkau daerah terpencil," katanya.

Pekerjaan rumah lainnya, lanjut dia, melakukan tata kelola yang baik untuk pembangunan jaringan internet. Juga perlu dipikirkan untuk membuat rancang bangun ketahanan internet dari serangan cyber dari luar. "Yang tidak kalah penting digital broadcating juga harus diatur dengan baik agar persaingannya sehat," papar Semuel.

Menurut Semuel, agar pekerjaan rumah itu bisa diseleaikan dengan baik, maka pemerintah harus mendengarkan aspirasi dari berbagai pemangku kepentingan dalam mengeluarkan regulasi. Hal itu karena, industri internet merupakan industri multi stakeholder. "Industri ini memiliki stakeholder banyak, maka regulasi yang diambil harus melibatkan banyak pihak, sehingga tidak ada yang dirugikan," tegas dia.

Tak hanya itu, perkembangan industri internet juga telah membuat industri kreatif digital di Indonesia menunjukan perkembangan yang sangat pesat. Hal ini diapat dilihat dari semakin banyaknya start up atau perusahaan rintisan bidang teknologi informasi dan komunikasi hadir di Tanah Air.

Berbagai produk aplikasi mobile dan games lokal karya anak negeri mulai banyak hadir di berbagai store application seperti Google Play Store dan Apple Play Store. Secara umum industri kreatif digital di Indonesia sudah menunjukan eksistensinya sejak lama. Begitu pula dari segi ekosistem yang terus menunjukan pertumbuhan, karena semakin banyaknya fasilitas bagi para pelaku industri untuk bisa berkarya dengan lebih baik lagi.

Pengaruh teknologi informasi tentu menjadi hal yang paling fundamental dalam hal pertumbuhan industri kreatif digital di Indonesia. Salah satu contohnya yaitu penggunaan TIK untuk mendapatkan tools dan tutorial tentang pembuatan suatu produk kreatif, sumber referensi, dan inspirasi untuk memperkaya creative library.

Hal ini akhirnya menjadi media untuk mendistribusikan karya yang semakin mudah untuk diakses oleh masyarakat Indonesia dan termasuk para pelaku start up. Momentum utama industri kreatif digital di Indonesia untuk maju adalah ketika Internet semakin mudah diakses oleh masyarakat. Begitu pula dengan penggunaan perangkat PC dan mobile yang menjadi motor utama hidupnya industri kreatif, karena menjadi modal besar bagi industri kreatif di Indonesia untuk bisa maju.