Kualitas Tenaga Kerja Wajib Ditingkatkan

Senin, 20/10/2014

NERACA

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Chairul Tanjung berharap, pemerintah baru dapat meningkatkan pendidikan Tenaga Kerja Indonesia. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya peningkatan kualitas."Tenaga kerja Indonesia masih banyak yang merupakan lulusan SD dan tak tamat SD. Akibatnya daya saing pekerja Indonesia rendah," katanya, usai melakukan pertemuan dengan Komite Ekonomi Nasional di Jakarta, Jumat (17/10), pekan lalu.

Chairul mengatakan, terdapat sebanyak 50% pekerja dalam negeri yang tak lulus SD maupun merupakan lulusan SD.Kondisi ini, menurut dia, kelak menjadi masalah ketika Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun depan.Daya saing yang rendah ini pun akan menyulitkan pekerja Indonesia berkembang dan bersaing dalam pertukaran tenaga profesional kelak.

"Pemerintah mendatang sebaiknya menyediakan pelatihan yang mengembangkan kompetisi pada sistem edukasi tersebut, hal ini dapat meningkatkan daya saing pekerja dalam negeri," tukasnya.Chairul Tanjung berharap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mendatang dapat menyediakan usaha-usaha yang mendukung peningkatan daya saing tenaga kerja Indonesia.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik, Suhariyanto menyebutkan, tenaga kerja Indonesia masih bermasalah. Hal ini karena lebih dari 50% tenaga kerja Indonesia adalah lulusan pendidikan dasar.Ini jelas menyulitkan pergeseran tenaga kerja dari sektor primer ke sektor industri sekunder bahkan tersier.

"Kualitas pekerja kita bermasalah. Kalau dilihat 50% pendidikan SD. Pekerjaan rumah besar bagaimana tingkatkan SDM supaya lebih berkualitas. Kalau tidak mampu dari pendidikan formal,at least,pelatihan," ulasnya.

Dia juga menjelaskan, idealnya semakin maju sebuah negara, maka pertumbuhan sektor pertanian menyumbang prosentase kecil dalam pertumbuhan ekonomi. Demikian juga dengan penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut.

"Harusnya nanti pertanian itu mengecil (tenaga kerjanya) pindah ke sekunder. Semakin maju negara akan seperti itu. Singapura misalnya, atau Amerika Serikat. Pertanian di AS besar tapishare-nya hanya sekitar tiga persen karena orang-orang bergerak di jasa. Ketika semua tenaga kerja berkualitas, yang terjadi pergeseran itu," terang dia.

Anehnya, kata Suhariyanto, kondisi di Indonesia tidak demikian. Data BPS mencatat laju pertumbuhan sektor pertanian 2013 hanya 3,54%, jauh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,78%. Namun, penyerapan tenaga kerja masih begitu besar, sekitar 38 juta orang (data Agustus 2013).

Selain sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan, sektor industri pengolahan juga mengalami pergeseran tenaga kerja. Suhariyantomenyebutkan, sepanjang 2013 semakin banyak orang bekerja di sektor perdagangan, hotel, dan restoran.[agus]