Blue Bird Pangkas Target Dana IPO

Respon Pasar Tidak Besar

Senin, 20/10/2014

NERACA

Jakarta – Pesimistis penawaran saham perdana tidak terserap pasar, akhirnya PT Blue Bird Group, operator taksi di Indonesia tidak mau ambil risiko besar dan terpaksa menurunkan target perolehan dana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) menjadi Rp 2,48 triliun (US$ 200 juta) dari target awal sebesar Rp 3,7 triliun (US$ 307 juta).

Disebutkan, penurunan target perolehan dana IPO seiring dengan kebijakan perseroan menurunkan jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO menjadi 376,5 juta lembar saham di harga Rp 6.500 dari rencana sebelumnya sebesar 397,9 juta lembar saham hingga 513,9 juta lembar saham pada kisaran harga Rp 7.200 hingga Rp 9.300,”Kami telah mencapai kesepakatan harga, respon permintaan tidak sebesar yang kami harapkan sebelumnya, tapi kami yakin ini masih on the track," kata Direktur Utama Danareksa Sekuritas Marciano Herman di Jakarta, kemarin.

Penawaran umum perdana Blue Bird sedianya dilakukan pada masa 3 hingga 10 Oktober lalu, tapi diperpanjang hingga 14 Oktober dan kembali ditawarkan kemarin. IPO Blue Bird diperkirakan menjadi IPO terbesar tahun ini setelah masa pemilu. Masa penawaran umum ditandai dengan indikasi tingkat harga yang solid. Beberapa jam setelah penawaran perdana lalu, jumlah order telah mencapai lebih dari setengah dana yang ditargetkan meski investor masih melihat tingginya harga penawaran.

Dengan kisaran harga penawaran semula di level Rp 7.200 hingga Rp 9.300, price to earning ratio (PER) perusahaan pada 2015 diperkirakan berlipat menjadi 17,1 hingga 21,1, atau setara nilai pasar US$ 1,3 miliar. Sebagai perbandingan, operator taksi yang telah lebih dulu tercatat di BEI memiliki PER 9,29 bagi Adi Sarana dan 15,79 bagi Express Trasindo.

Marciano menilai, turunnya pasar global menyebabkan pemesanan berturun di detik-detik akhir masa penawaran, sekaligus mempengaruhi antusiasme pemesanan prospektus di awal penawaran,”Sebelum ditawarkan kemarin, banyak manajer keuangan yang belum yakin apa yang akan diharapkan selanjutnya,"ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Blue Bird, Robert Rerimassie sesumbar, saham perdana perseroan bakal terserap pasar ditengah kondisi pasar yang tidak menentu akibat situasi politik yang memanas. Keyakinan mampu diserap pasar, lanjutnya, karena saham Blue Bird dinilai menarik untuk dikoleksi investor baik lokal maupun asing. Meskipun, ada sedikit gangguan kondisi makro ekonomi akibat rencana normalisasi kebijakan bank sentral AS The Fed.

Sementara itu, Direktur Blue Bird Sigit Priawan Djokoseotono juga angkat bicara terkait fluktuasi yang terjadi di pasar saat ini."Dari capital market yang kita pelajari saham itu bisa naik turun dan ini hal yang biasa. Jadi, kami berusaha sebaik-baiknya saja. Kita juga tidak bisa memprediksi kapan saham naik atau turun. Kondisi market saat ini hanya temporari. Kami optimis IPO kami berhasil dan diserap pasar," tambahnya.

Blue Bird menawarkan harga saham perdana Rp 7.200-Rp 9.300 per saham. Jadi total dana yang akan diraup perseroan dari IPO mencapai Rp 3,82 triliun-Rp 4,94 triliun. Total dana yang diraup dari IPO itu kemungkinan terbesar di pasar modal sepanjang 2014.

Rencananya, dana hasil IPO antara lain digunakan untu belanja modal dan melunasi utang. Pertama, dana hasil IPO sebesar %untuk membeli armada kendaraan, lahan dan bangunan di daerah Jadetabek, Surabaya, Bali, Bandung dan Palembang.

Kedua, dana hasil IPO sekitar 35,17% untuk melunasi pinjaman. Perseroan akan merestrukturisasi pemilikan pinjaman kepada BCA sebesar Rp 400 miliar. Lalu perseroan melunasi pinjaman kredit kepada Bank Permata, DBS, Bank Bukopin, Bank CIMB Niaga, Bank ANZ Indonesia, BCA, dan Bank OCBC NISP."Melalui IPO perseroan akan makin berkomitmen untuk mengembangkan bisnis dan memperkuat posisi kami di bidang jasa transportasi," kata Presiden Direktur PT Blue Bird Tbk, Purnomo Prawiro. (bani)