Infrastruktur dan Risiko Mudik

Jumat, 26/08/2011

Menjelang Lebaran yang semakin dekat, pemerintah serasa tergesa untuk penyiapan kemulusan infrastruktur jalan. Ini menunjukkan realitas tersendiri tentang budaya sikap pemeliharaan yang bergantung pada momen. Begitulah rutinitas setiap tahun, selalu berulang pemerintah mencoba memberikan pelayanan prima di semua sektor jasa. Yang paling terasa, menyiapkan agar ruas jalan-jalan nasional, jalan provinsi, dan jalur-jalur alternatif siap untuk dilewati arus ribuan kendaraan pemudik.

Di satu sisi, itulah ungkapan pelayanan publik yang merupakan tanggung jawab pemerintah kepada rakyatnya. Sifat kolosal tradisi mudik memang membutuhkan mobilisasi pelayanan, bahkan terkesan konsentrasi pelayanan itu menjadi ”puncak” pekerjaan dalam siklus kinerja satu tahun. Padahal idealnya infrastruktur itu selalu siap pada sepanjang tahun, sepanjang waktu.

Bisa jadi model ”proyek pekerjaan ” itu dilatarbelakangi oleh penjadwalan anggaran pemeliharaan dan peningkatan mutu jalan. Di sisi lain, kualitas infrastruktur sejatinya tak hanya terkonsentrasi sebagai tuntutan dalam masa-masa mudik. Logikanya, sarana dan prasarana yang berkualitas akan menopang kebutuhan kenyamanan mobilitas sehari-hari warga masyarakat, dan yang tak kalah penting sebagai bagian dari daya tarik investasi, termasuk syarat penunjang industri pariwisata.

Ruas-ruas jalan yang merupakan urat nadi sosial-ekonomi rakyat selalu membutuhkan perawatan, karena pastilah muncul kondisi-kondisi yang memicu kerusakan. Rutinitas pemeliharaan dan peningkatan semestinya disikapi sebagai kesadaran peran vitalnya pemerintah. Bila sarana dan prasarana itu selalu berada dalam kondisi terpelihara, bahkan ditingkatkan kualitasnya, maka tak akan muncul kesan mobilisasi pemeliharaan seperti itu.

Kemulusan ruas jalan, bagaimanapun merupakan salah satu cermin budaya kesiapan pelayanan publik. Memang setiap daerah punya persoalan masing-masing dalam pemeliharaan dan peningkatan mutu infrastruktur transportasi, namun kita berharap saatnya nanti jalur-jalur utama yang mengemban banyak fungsi penyejahteraan rakyat selalu siap mengakomodasi sepanjang waktu.

Sementara itu, berbagai ajakan dan imbauan untuk selalu berhati-hati terutama kita tujukan untuk para pemudik bersepeda motor. Dalam kondisi cuaca cerah saja pengendara motor harus waspada, apalagi di tengah derasnya arus mudik sekarang ini. Sangatlah berisiko memaksakan perjalanan jauh keluar kota. Indikator risiko itu menyangkut kondisi jalan yang membahayakan, jarak pandang, hingga masalah daya tahan fisik.

Secara bergelombang sejak pekan ini, ribuan pemudik bersepeda motor sudah keluar dari Jakarta. Imbauan dan berbagai regulasi untuk memperketat pemudik bermotor sudah disampaikan, namun agaknya moda ini dipilih karena dirasakan paling praktis dan ekonomis. Berbagai kalkulasi risiko terkalahkan oleh keinginan bisa berlebaran di kampung halaman secara lebih murah ketimbang dengan menggunakan moda transportasi lainnya.

Berbagai upaya pemartabatan pemudik, bagaimanapun sudah dilakukan lewat sejumlah langkah. Namun langkah-langkah penyempurnaan dari sisi ketercukupan fasilitas angkutan massal maupun manajemennya, tentu menjadi pekerjaan yang tak akan pernah selesai. Yang penting, dalam kondisi sekarang, bagaimana memaksimalkan manajemen pelayanan bagi pemudik dan meminimalkan risikonya. Ini tanggung jawab pemerintah.