Kimia Farma Agresif Buka Pasar Ekspor - Tingkatkan Penjualan

NERACA

Jakarta – Guna meningkatkan penjualan, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) tidak hanya mengandalkan pasar penjualan dari dalam negeri. Namun terus membuka potensi pasar luar negeri dan kedepan, perseroan berencana mengekspor produk farmasi ke Kazakstan.

Dirut Riset dan Pengembangan Bisnis PT Kimia Farma Tbk, Wahyuli Syafari mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pendekatan intesif dengan kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mendapatkan informasi perihal potensi produk farmasi yang dibutuhkan Kazakstan,”Kami mau kerjasama dengan Kazakstan. Kami sekarang lebh aktif dengan Kemenlu dan Kemendag karena itu sumber infromasi. Kira-kira apa aja produk-produk yang diminati Kazaktstan," ujarnya di Jakarta, Kamis (16/10).

Tak hanya Kazakstan, Lanjut Wahyuli, BUMN Farmasi ini juga berencana menetapkan Negara Kamboja target pasar ekspor sektor farmasi."Kami akan menggenjot sektor produksi garam, yang biasanya di ekspor ke negara Tiongkok. Meskipun saat ini masih lemah dikarenakan harga produksi garam masih melemah. Masih kecil kok, karena Yodium kan, masih lemah. Dulu sempat US$50 per kilogram, sekarang cuma US$ 30 per kilogram," jelas dia.

Selain itu, perseroan juga akan melakukan penambahan tambang untuk menghasilkan dan meningkatkan produksi yodium di perseroan, yang sudah menghasilkan 40 ton produksi setahun. Disebutkan, perseroan memiliki dua tambang yang lagi direncanakan karena izin usaha penambangan sudah bisa kerja,”Di Mojekerto sama Jombang yang tambang. Tinggal IUP disana aja karena yang di ESDM sudah selesai,”jelasnya.

Tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp5,2 triliun, sedangkan labanya sebesar Rp324 miliar. Sedangkan di tahun 2013, tercatat laba bersih PT Kimia Farma (Persero) Tbk mengalami peningkatan sebesar 4,59% menjadi Rp215,6 miliar dari Rp205,7 miliar. Perseroan mengalokasikan belanja modal Rp939,5 milar.

Disamping itu, usaha pabrik garam yang berlokasi di Watudakon, Jombang, Jawa Timur akan beroperasi pada tahun 2015 dengan produksi sebanyak 2000 ton pertahun. Investasi pabrik garam farmasi tersebut senilai US$25 juta. Alasan mendirikan pabrik garam farmasi untuk mengurangi impor garam farmasi. Sehingga dengan demikian akan mengurangi beban devisa sampai US$2700 juta per tahun.

Kata Wahyuli, perseroan menyatakan siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Maka guna meningkatkan daya saing mengadapi pasar bebas MEA, pihaknya akan memperbaiki pabrik farmasi. Kemudian strategi lain yang dilakukan perseroan, lanjutnya, dengan mengembangkan obat generik yang tidak dipakai perusaahan swasta farmasi lain. "Strategi kita yaitu, kami kembangkan generik. Swasta kan, branded-nya," jelas dia.

Selain itu, Kimia Farma berencana memproduksi bahan baku sendiri. Hal ini disebabkan, hampir mayoritas bahan baku industri farmasi dalam negeri masih impor. (bani)

BERITA TERKAIT

Gandeng Kerjasama HIPMI - ModalSaham Siap Bawa Perusahaan IPO

NERACA Jakarta – Dukung pertumbuhan industri pasar modal dengan mengajak pelaku usaha go public, ModalSaham sebagai perusahaan starup akan menggandeng…

Produksi Nikel Vale Indonesia Terkoreksi 6,81%

NERACA Jakarta –Besarnya potensi kenaikan permintaan nikel di pasar, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terus memacu produksi nikel, meskipun di…

Progres Pabrik di Sumses Capai 30% - Buyung Poetra Perbesar Kapasitas Produksi Beras

NERACA Jakarta – Meskipun tengah dihadapkan pada kondisi musim kemarau yang berkepanjangan, emiten produsen beras PT Buyung Poetra Sembada Tbk…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sukseskan Target SDGs - BEI Perkuat Kemitraan Antar Perusahaan

NERACA Jakarta - Dalam rangka menyukseskan kemitraan strategis antar perusahaan di Indonesia, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terus terbuka…

Kantungi Pinjaman BCA Rp 624 Miliar - Dharma Satya Terus Perluas Pembangunan Pabrik

NERACA Jakarta – Musim kemarau yang berkepanjangan, ditambah kondisi harga komoditas yang masih lesu tidak menyurutkan recana PT Dharma Satya…

Bisnis Pembiayaan CNAF Tumbuh 93,3%

NERACA Jakarta- Kendatipun bisnis otomotif diprediksi masih akan lesu hingga akhir tahun, hal tersebut tidak memberikan dampak bagi bisnis pembiayaan…