Kadin Kembangkan Sentra Perikanan Percontohan di Subang

Jumat, 17/10/2014

NERACA

Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan saat ini tengah merealisasikan proyek percontohan sentra nelayan versi Kadin dengan konsep Business To Business di Kampung Nelayan, Desa Blanakan, Subang Jawa Barat. Proyek ini merupakan permintaan Presiden Terpilih Joko Widodo saat melakukan pertemuan dengan Kadin di Balaikota Jakarta, 6 Oktober silam.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto mengatakan, sentra produksi perikanan ke depan harus terintegrasi mulai dari kapal nelayan, cold storage termasuk prosesing unit sesuai dengan kebutuhan tiap kelompok dan kampung nelayannya, hingga permodalan dari perbanakan dan asuransi. Pengusaha dalam Kadin Kelautan dan Perikanan telah siap menyatakan untuk menjadi off takernya.

Yugi menjelaskan, masyarakat di desa Muara, kecamatan ciasem, subang, mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan. Berawal dari kampung nelayan kemudian berkembang dengan adanya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Koperasi Unit Desa (KUD) Mandiri Mina Bahari yang kemudian akan dilakukan pembenahan menjadi sentra nelayan percontohan. “Aktivitas rutin penangkapan ikan dan pelelangan sudah biasa berjalan, hanya saja ke depan kita akan benahi beberapa hal agar lebih terintegrasi dan menjadi sentra produksi perikanan yang baik,” kata Yugi dalam keterangan resmi yang diterima, kemarin.

Dia memaparkan, hambatan yang ditemui adalah masyarakat di sana masih berfokus pada penangkapan ikan saja, belum mengarah pada proses pengolahan hingga pemasarannya. “Pengolahan ikan belum bisa dilakukan, karena terkendala kepada sarana proses ikan, mesin pembeku ikan (ABF), mesin es, cold storage dan sarana pemasaran. Kita akan usahakan pengadaannya, termasuk modal usaha dan SDM untuk pengolahan,” kata Yugi.

Dia menargetkan, kapasitas ikan olahan per bulan bisa mencapai 50 ton. Idealnya sentra perikanan paling tidak memiliki satu unit sarana processing ikan dan udang dengan kapasitas 3 ton per hari, satu unit mesin pembeku dengan kapasitas 3 ton per proses, cold storage dengan kapasitas 40 ton dan mesin es dengan kapasitas 3 ton. Biaya investasi sarana itu mencapai Rp 3,2 miliar dengan bantuan pengembalian modal kerja hingga 2,5 tahun.

Dia juga mengatakan, untuk menunjang usaha pengolahan dan pemasaran ikan, pihaknya telah merealisasikan kendaraan bermotor roda tiga berpendingin untuk memasarkan ikan dari koperasi nelayan setempat. Ke depan, pihaknya berharap, sentra pengolahan ikan di daerah itu bisa terintegrasi mulai dari usaha penangkapan, usaha pengasinan ikan, serta usaha tambak udang dengan ditunjang manajemen pemasaran yang baik.

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan mengaku terus mendesak PT Pertamina (Persero) untuk membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di sentra-sentra perikanan di Indonesia.

Dahlan mengungkapkan, desakan tersebut bukan tanpa sebab yang jelas. Dirinya menyebutkan, selama ini BUMN sektor perikanan seperti PT Perikanan Nusantara (Perinus) sangat sulit mendapatkan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM). “Saya akan desak Pertamina untuk terus membangun SPBU di sentra-sentra perikanan,” kata Dahlan.

Dahlan melanjutkan, meski terus berusaha merealisasi pembangunan SPBU di sentra perikanan. Dirinya meminta kepada BUMN perikanan untuk tetap fokus terhadap sektor bisnis utamanya dan tidak melakukan hal-hal yang lain. “Sebaiknya biar tetap Pertamina agar Perinus konsentrasi di ikan,” tukas dia.

Sentra perikanan yang terintegrasi sangat penting, dimulai dari kapal nelayan, cold storage juga processing unit yang sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok dan kampung nelayan. Dan juga sumber daya manusia yang berkualitas dalam hal kelautan dan perikanan sangat diperlukan. Namun disayangkan di daerah-daerah di Indonesia masih banyak nelayan memerlukan program pelatihan dan diklat bagi aparatur perikanan, guna meningkatkan kemampuannya.

Saat ini juga pemerintah tengah mempersiapkan sentra perikanan untuk menjadi percontohan cluster kampung nelayan yang lebih baik. Kedepannya juga akan melakukan penguatan melalui peran masyarakat dan negara dalam peningkatan nilai tambah produk kelautan dan perikanan, selain juga dalam penguatan logistik dan teknologi di sentra-sentra perikanan.

Program pemerintah untuk membangun sentra-sentra perikanan di daerah-daerah Nusantara diharapkan dapat berjalan untuk mendorong pembangunan ekonomi didalam sektor perikanan.