Dunia Pemasaran Diminta Siap Hadapi MEA 2015

Jumat, 17/10/2014

NERACA

Jakarta – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 sebentar lagi akan dimulai. Managing Director Indonesia, Vietnam and Philippine Kantor World Panel Fabrice Carrasco meminta dunia pemasaran harus siap menghadapinya. Kondisi itu memungkinkan para pemain global masuk ke Indonesia. Sebaliknya, para pemain lokal berkesempatan mengembangkan sayapnya ke luar negeri.

“Hal ini akan menyebabkan persaingan antar tenaga pemasaran yang akan semakin ketat. Para konsumen yang berasal dari kelas ekonomi tinggi mempunyai lebih banyak pilihan dan berakibat pada menurunnya loyalitas terhadap para tenaga pemasar. Maka dari itu, perlu persiapan yang matang bagi tenaga pemasaran,” ujarnya di Jakarta, Kamis (16/10).

Perkembangan media digital juga memungkinkan para konsumen mempunyai banyak pilihan dan lebih terbuka mengemukakan pilihannya. Hal ini berimplikasi pada kebutuhan para pemasar untuk bisa menumbuhkan trust dari konsumen.

Terkait hal itu, ada tiga hal yang saat ini harus diperhatikan para pemasar untuk memenangkan hati konsumen. Pertama, memanfaatkan TV sebagai media pemasaran. "Selain iklan, sponsorhip program juga menjadi salah satu cara meningkatkan penjualan. Namun efeknya tergantung pada jenis program TV yang dipilih untuk disponsori," ujar Head Regional Centre of Excellence Kantar World Panel, Andrew Ridsdale-Smith.

Kedua, menciptakan pesan tepat untuk dikomunikasikan kepada konsumen, sehingga pesan tersebut dapat dipersepsikan konsumen sebagai sesuatu yang memenuhi kebutuhan mereka. Jenis pesan yang bermuatan functional benefit suatu produk lebih mampu meningkatkan penjualan. Pesan inilah yang harus secara fokus terus menerus disampaikan kepada pasar sasaran. Kunci keberhasilan pertumbuhan produk terletak pada kemampuan menarik konsumen baru, karena produk dengan penetrasi pasar lebih luas biasanya akan dapat meraih pangsa pasar lebih tinggi.

Karena itu, dia menegaskan, peluncuran produk baru lebih baik dilakukan di channel dengan jangkauan konsumen yang lebih luas. Misalnya hypermarket atau supermarket. "Pemberian potongan harga secara berlebihan tidak mampu menarik konsumen untuk melakukan pembelian ulang sebuah produk dan cenderung menghancurkan loyalitas konsumen terhadap sebuah produk," tutur Andrew.

Sementara itu, CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo menilai bahwa perubahan masyarakat yang menuntut perubahan pula dalam periklanan dan pemasaran. “Kita membayangkan advertising bergerak sesuai perubahan masyarakat,” kata Agung.

Menurut Agung, jika pegiat periklanan dan pemasaran tidak mengikuti perubahan tersebut, maka akan tertinggal dan produk pun akan ditinggalkan. Apalagi, perubahan masyarakat terjadi sangat cepat. "Kalau kita tidak ikuti, maka akan ketinggalan juga. Apalagi produk konsumer yang perubahannya luar biasa," jelas Agung.

Dikutip dari Markbiz, setidaknya ada delapan tantangan dalam dunia pemasaran. Pertama adalah konsumen cenderung mengharapkan lebih atas produk atau jasa yang ditawarkan. Kedua, pertimbangan kategori akan menjadi sangat penting. Ketepatan dalam menilai kategori spesifik yang ditawarkan akan mempermudah konsumen dalam mencari dan menemukan bahwa apa yang ditawarkan itu adalah yang mereka inginkan.

Ketiga, penting baik pemilik brand dan pemasar untuk bisa mengidentifikasikan dengan baik nilai-nilai emosional dalam menyasar konsumen, sama pentingnya dengan nilai-nilai rasional. Keempat, target pemasaran akan menjadi lebih pada personal. Pemilik brand dan pemasar yang mampu untuk mengelola sedemikian rupa responnya atas karakter seperti ini berpeluang akan bisa mendapatkan lebih banyak pelanggan yang loyal.

Kelima, akan semakin banyak kanal dan karenanya pemasara maupun pemilik brand harus berani untuk memilih dan memprioritaskan mana saja yang akan efektif untuk kegiatan pemasarannya, dan kemudian fokus untuk menggarap kanal-kanal pilihan tersebut. Ke enam, content marketing akan semakin diminati sepanjang tahun depan, yang penting untuk dimatangkan adalah bagaimana untuk bisa mengoptimalkan pilihan kanal media yang ada untuk kepentingan placemen-nya.

Ketujuh, perangkat mobile menjadi primadona baru dan banyak brand akan meningkatkan strategi dan mekanisme pemasaran mereka untuk menjangkau para pengguna. Karenanya, mobile friendly content sangat diperlukan. Kedelapan, konsumen cenderung lebih banyak menyukai image ketimbang teks apalagi teks yang bertele-tele panjang. Penggunaan image akan lebih memudahkan dalam mendesain viral marketing.