Benih dan Induk Unggul Kerek Produksi Ikan Air Tawar - Penerapan Total Akuakultur

NERACA

Sukabumi – Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut, produksi perikanan budidaya terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Selama periode 2010 – 2013, produksi perikanan budidaya meningkat sekitar 28,64% per tahun, yaitu 6,28 juta ton pada tahun 2010 dan mencapai 13,31 juta ton pada tahun 2013 (data sementara). Sedangkan nilai produksi nya mengalami kenaikan sekitar 22,51 % per tahun dalam kurun waktu yang sama. Capaian peningkatan yang signifikan selain dari rumput laut, juga dari peningkatan jenis ikan air tawar, utamanya ikan nila, mas, dan lele. Ketiga jenis ikan tersebut semakin diandalkan, baik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan perolehan devisa Negara, menyediakan lapangan kerja di pedesaan dan juga dapat dilakukan berkesinambungan dengan menerapkan budidaya ramah lingkungan.

“Peningkatan produksi budidaya air tawar yang sangat signifikan ini merupakan hasil dari penggunaan induk dan benih unggul, pakan yang sesuai dan efisien, penerapan teknologi yang aplikatif dan inovatif serta intensifikasi budidaya yang ramah lingkungan dan ini merupakan bagian dari Total Akuakultur,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat memberikan sambutan pada acara Pertemuan Broodstock Centre Ikan Nila, Mas dan Lele di Auditorium Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, di Kota Sukabumi, Jawa Barat, Kamis.

Lebih jauh Slamet mengatakan bahwa Total Akuakultur melalui intensifikasi usaha perikanan budidaya perlu dilaksanakan dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan budidaya. Hal ini diperlukan agar produksi ikan melalui sistem ini dapat diperoleh secara berkelanjutan. “Sebagai contoh adalah, penerapan teknologi intensif budidaya lele yang hemat lahan dan hemat air yang dapat menghasilkan 10 ton ikan dalam luasan kolam 100 meter persegi dalam waktu 2,5 bulan. Disamping intensifikasi, usaha budidaya air tawar juga berpeluang untuk mempercepat pemasukan pendapatan melalui segmentasi usaha, mulai dari usaha pembenihan, pendederan I bahkan sampai III tahap dan juga pembesaran. Sehingga usaha budidaya air tawar ini sangat cocok untuk memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat,” tambah Slamet.

Selain itu Total Akuakultur melalui penerapan teknologi di semua sistem usaha budidaya dari hulu sampai hilir, juga terkait dengan penyediaan induk unggul untuk mendukung ketersediaan benih bermutu secara kontinyu. “Penyediaan induk unggul dan benih bermutu secara berkelanjutan merupakan hal yang penting dan sangat strategis. Tanpa benih unggul dan benih bermutu maka kualitas produksi akan diragukan dan bahkan bisa tidak mencapai target seperti yang diharapkan,” papar Slamet.

Slamet menambahkan bahwa untuk menjaga kualitas produksi perikanan budidaya, perlu pemantapan dan pemberlakuan sistem jaminan mutu terhadap semua fungsi khususnya dalam sistem perbenihan nasional. “Unit pembenihan skala kecil dan unit usaha pendederan harus menerapkan dan menggunakan teknologi terkini dan sarana produksi yang maju dan modern, seperti biosecurity, probiotik, induk dan benih unggul dan juga pakan berkualitas,” ungkap Slamet.

Untuk memenuhi kebutuhan induk unggul komoditas nila, mas dan nila, DJPB pada tahun 2015 mentargetkan produksi 16.2 ribu ekor induk unggul ikan mas, 8 juta ekor induk unggul ikan nila dan untuk induk unggul ikan Lele sebesar 361 ribu ekor. “Produksi induk unggul ini kan dipenuhi melalui pengembangan Jejaring Pemuliaan dan Produksi Induk Unggul Nasional. Jejaring ini akan melibatkan instansi pemerintah baik di pusat dan daerah, swasta dan juga masyarakat dimana Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi akan bertindak sebagai Broodstock Center,” pungkas Slamet.

BERITA TERKAIT

Produksi Tumbuh Lampaui 17%, IKM Yogyakarta Juga Inovatif

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian gencar memacu produktivitas dan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) nasional. Sektor yang menjadi…

Layanan BOLT Hadir di Serang dan Cilegon

Dalam rangka perluas penetrasi pasar, BOLT sebagai pionir operator 4G-LTE di Indonesia kembali memperluas jangkauan jaringannya ke kota-kota baru. Dua…

Pengawasan Perbankan dan Teknologi Nano

  Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis   Hong Kong sebagai salah satu pusat keuangan di…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…