Ketegangan Politik Bikin Loyo IHSG

Investor Kembali Wait and See

Jumat, 17/10/2014

NERACA

Jakarta –Sejatinya, detik-detik pelantikan presiden terpilih Jokowi dan Jusuf Kalla mampu memberikan sentiment positif terhadap laju pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Namun, kondisi ini berbalik sehingga indeks BEI tetap buka terkoreksi dan hal yang sama juga dengan nilai rupiah.

Menurut ekonom Bank DBS, Gundy Cahyadi, ekspetasi pasar akan kondisi politik belakangan ini menjadi faktor merosotnya nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun, hal itu bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan rupiah dan IHSG turun,“Adanya kekhawatiran pasar atas efektivitas dan kelancaran program baru turut menjadi satu faktor penyebab turunnya kurs rupiah dan IHSG,”ujarnya di Jakarta, Kamis (16/10).

Menurutnya, selain persoalan domestik, pasar saham dan pasar valas Indonesia juga dipengaruhi oleh situasi ekonomi global. Prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia membuat investor lebih memilih sikap hati-hati. Apalagi, dolar Amerika Serikat (AS) menguat di tengah antisipasi zona Eropa dan Jepang yang akan melonggarkan kebijakan moneter.“Jadi, situasi global juga ikut mempengaruhi pelemahan nilai mata uang dan saham di sebagian besar negara Asia, termasuk Indonesia. Malah mungkin ini merupakan faktor yang lebih signifikan,” jelasnya.

Seperi diketahui, dalam satu bulan terakhir IHSG tercatat turun 4,6% atau lebih besar dibanding rata-rata penurunan saham di Asia sebesar 3%. Sementara nilai tukar rupiah merosot hingga 4% atau lebih tinggi dari penurunan mata uang Asia lainnya yang rata-rata hanya 2%.

Untuk menghadapi tekanan ini, pemerintah baru ujarnya perlu mendorong reformasi ekonomi. Semua perubahan tersebut bisa dilakukan apabila ada perbaikan yang ddiciptakan terutama dalam peraturan dan perundang-undangan.“Persoalan yang harus diselesaikan adalah masalah defisit transaksi berjalan. Dengan inflasi yang relatif rendah, diperlukan adanya kebijakan moneter. Sehingga penurunan suku bunga dipandang penting untttuk mengejar pertumbuhan ekonomi,”kata Gundy.

Sementara menurut Intermediary Business of Schroder Indonesia, Liza Lavina, pelantikan Presiden-Wakil Presiden RI pada 20 Oktober 2014 akan menentukan arah pergerakan IHSG Bursa Efek Indonesia ke depannya,”Pelantikan Presiden-Wapres nanti akan menjadi momentum bagi IHSG BEI untuk pergerakan selanjutnya,”ungkapnya.

Dia menuturkan, saat ini pelaku pasar di industri pasar modal domestik cenderung mengambil posisi wait and seemenanti situasi itu. Selanjutnya, pelaku pasar akan mengantisipasi susunan kabinet dalam pemerintahan baru.Selain itu, lanjut dia, pelaku pasar juga menanti kepastian untuk mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Dengan dikuranginya subsidi BBM maka akan membuat ruang fiskal menjadi lebih terbuka untuk mendorong pembangunan infrastruktur di dalam negeri."Infrastruktur yang baik maka akan menekan beban biaya produksi perusahaan. Dengan begitu, kinerja emiten akan menjadi lebih baik," ucap Liza Lavina. (bani)