United Tractor Mulai Lirik Bisnis Konstruksi

Beli 250 Juta Saham Acset Indonusa

Jumat, 17/10/2014

NERACA

Jakarta – Menyadari prospek bisnis batu bara tidak sejaya dahulu lantaran kondisi pasar yang belum mendukung, langsung disikapi perusahaan alat berat PT United Tractors Tbk (UNTR) yang bergantung pada sektor tambang ini untuk melakukan diversifikasi usaha dalam rangka pengembangan bisnis. Perseroan lebih memilih sektor konstruksi yang diyakini tahun ini masih menjanjikan seiring positifnya pasar infrastruktur saat ini.

Langkah tersebut dilakukan perseroan dengan ditandai rencana pembelian saham PT Acset Indonusa Tbk (ACST) sekitar 250, 50 juta saham. Disebutkan, perseroan akan membeli saham PT Acset Indonusa Tbk yang bergerak di jasa konstruksi yaitu dari PT Loka Cipta Kreasi dan PT Cross Plus Indonesia. Manajemen perseroan menyatakan, tujuan pengambilalihan saham ini sebagai bentuk diversifikasi bisnis dan ekspansi usaha UNTR untuk mendukung kegiatan usaha perseroan.

Untuk melaksanakan pengambilalihan saham ini, perseroan telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan dua pemegang saham ACST pada 10 Oktober 2014. Adapun materi dari negosiasi ini antara lain jumlah dan harga saham yang akan dibeli UNTR, cara pengambilalihan, jadwal pelaksanaan pengambilalihan dan penutupan pengambilalihan. Akan tetapi, Investor Relation United Tractors Ari Setiyawan belum dapat menjelaskan lebih detil nilai transaksi tersebut,”Kami belum bisa disclose karena masih dalam proses negosiasi. Pengambilalihan saham ACST ini targetnya selesai sebelum akhir tahun 2014," ujar Ari di Jakarta, kemarin.

Pada penutupan sesi pertama perdagangan saham Kamis kemarin, saham ACST naik 2,85% menjadi Rp 3.425 per saham. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 174 kali dengan nilai transaksi harian perdagangan saham Rp 1,8 miliar. Sedangkan saham United Tractors naik tipis 0,58% menjadi Rp 17.300 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 3.162 kali dengan nilai transaksi Rp 69,3 miliar.

Wakil Presiden PT United Tractors Tbk, Gidion Hasan pernah bilang, tahun ini menjadi tantangan bagi perseroan. Pasalnya, melemahnya harga komoditas batu bara menghantam kinerja perseroan. Hal ini menyebabkan turunnya jumlah target penjualan alat berat yang sebelumnya ditargetkan 4.200, menjadi 4.000 sampai akhir tahun 2014,”Sektor pertambangan biasa menyumbang pendapatan 60-70% sekarang 35%,”ungkapnya.

Lebih lanjut dia menambahkan, untuk total belanja modal tak mengalami perubahan yaitu sekitar US$ 300 juta. Yang disumbang dari PT Pamapersada Nusantara (Pama) sebesar US$ 250 juta yakni unit usaha bergerak di kontraktor pertambangan. Dana tersebut juga dihabiskan untuk peremajaan alat-alat berat.

Disebut, saat ini realisasi belanja modal sudah mencapai US$ 140 juta sampai Juli. Sekadar informasi, hingga Juli 2014 penjualan alat berat Komatsu UNTR tercatat sebanyak 2.508 unit. Jumlah ini turun 9% dibanding penjualan periode yang sama di tahun sebelumnya sebanyak 2.770 unit. (bani)