Valuasi Aset Menara Telkom Terus Tumbuh

Imbas Tukar Saham Tower Bersama

Jumat, 17/10/2014

NERACA

Jakarta –Aksi korporasi tukar guling saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dengan anak usaha PT Telkom Tbk, memberikan dampak positif terhadap anak usaha Telkom. Hal ini diakui analis pasar modal Credit Lyonnaise Security Asia (CLSA), Abdullah Hashim.

Dirinya mengakalkulasikan bahwa valuasi aset PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) anak usaha PT Telkom Tbk, meningkat pada angka premium dalam aksi korporasi tukar guling saham (share swap) dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk,”Transaksi 'share swap' ini otomatis meningkatkan nilai aset Mitratel pada harga tinggi, tercermin dari valuasi per menara yang dimilikinya di kisaran Rp2,8 miliar- Rp3,2 miliar, atau dengan rasio EBITDA (laba bersih sebelum pajak) diantara 13,8x-18,3x,”ujarnya di Jakarta, Kamis (16/10).

Menurut Hashim, angka valuasi tersebut lumayan tinggi mengingat Mitratel memiliki tenancy ratio yang rendah padal level 1.1x, dengan ruang potensi pertumbuhan. Jika tenancy ratio dipatok sebesar 1.7x walau memiliki 3.928 unit menara,maka EV/EBITDA drop menjadi 9.0x-12x.

Dia menilai, langkah Telkom memonetisasi dengan pola 'swap share' karena tidak bisa menggenjot tenancy ratio dalam waktu cepat. Oleh karena itu, bermitra dengan Tower Bersama membuat Telkom memonetisasi aset di harga premium dan menikmati keuntungan dari kepemilikan saham di Tower Bersama.

Dalam kajian CLSA, Mitratel memiliki pendapatan sebesar Rp1,5 triliun pada 2013, dengan nilai kontribusinya bagi Telkom hanya sekitar 2%. Dengan memiliki sekitar 762,5 juta lembar saham Tower Bersama nantinya diharapkan Telkom bisa memiliki keuntungan Rp6 triliun-Rp 8triliun jika transaksi tuntas dan harga saham Tower Bersama berkisar di Rp8.000-Rp10.000 per lembar.

Sementara Direktur Utama Telkom Arief Yahya menjelaskan, masalah swap share Mitratel harus dilihat secara jernih dimana perseroan dalam posisi membeli,”Jangan salah, di dunia saham itu membeli banyak cara, tidak harus keluar uang tunai. Kita beli sesuatu dengan berbagai cara, bisa dengan uang giral, kartu kredit, e-money atau dengan saham," kata Arief.

Dia mengingatkan, masalah waktu pelaksanaan transaksi tersebut harus menjadi pertimbangan karena harga saham Tower Bersama terus naik. "Kalau tidak segera dituntaskan, bisa malah rugi. Ini semua masalah waktu," tegasnya.

Sebelumnya, Telkom dan Tower Bersama sepakat menukar 100% sahamnya di Mitratel dengan 13,7 % saham dari Tower Bersama yang berasal dari penerbitan saham baru. Kesepakatan ini dilaksanakan dalam dua tahap. Pertama, Telkom akan menukarkan 49% kepemilikannya di Mitratel dengan 290 juta lembar saham baru dari TBIG.

Kedua, Telkom memiliki opsi menukarkan 51% sisa kepemilikan Telkom di Mitratel dalam jangka waktu dua tahun dengan tambahan 472,5 juta saham baru TBIG. Selain kepemilikan saham di TBIG, Telkom akan menerima tambahan pembayaran kas sampai maksimum sebesar Rp1,74 triliun, apabila Mitratel dapat mencapai persyaratan tertentu yang telah disetujui. Pada transaksi ini Mitratel dihargai Rp11,1 triliun, termasuk utang bersihnya sebesar Rp2,7 triliun dan ekuitas Rp8,4 triliun. (bani)