UGM Ajak Gencarkan Aktivitas Riset

NERACA

Dalam proses pembangunan, Perguruan Tinggi melalui media riset diharapkan dapat memberikan input konsep, karya cipta, teknologi, dan seni yang berdaya guna dan berhasil guna bagi pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara.

Sayangnya, budaya riset di Indonesia masih kurang jika dibandingkan dengan budaya riset di negara-negara lain. Hal ini disebabkan sistem pendidikan tinggi di Indonesia yang lebih berorientasi pada kegiatan pengajaran ketimbang riset.

Model tersebut secara langsung membentuk budaya akademik yang cenderung pasif dan satu arah. Jika budaya ini terus menggerus budaya riset dan penulisan ilmiah, dunia pendidikan tinggi lama-kelamaan akan kehilangan daya nalarnya.

Beranjak dari hal tersebut, Universitas Gadjah Mada (UMG) Yogyakarta mengajak perguruan tinggi di Indonesia menggencarkan aktivitas riset dan pengabdian kepada masyarakat guna mendorong peningkatan daya saing Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) UGM, Suratman menuturkan, saat ini peran strategis perguruan tinggi lebih populer dalam tiga wacana besar yaitu sebagai universitas pengajaran, universitas riset, sekaligus benteng peradaban.

" Kontribusi penting perguruan tinggi adalah penemuan (invention), dan inovasi industrial terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Apabila bisa secara optimal dikembangkan, perguruan tinggi melalui riset-risetnya sesungguhnya mampu meningkatkan daya saing Indonesia," kata dia saat membuka Lokakarya Nasional VII Manajemen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat di Perguruan Tinggi di Yogyakarta belum lama ini

Ya, daya saing Indonesia di tingkat dunia saat ini masih dalam tataran rangking bawah, meskipun telah mengalami peningkatan. Forum Ekonomi Dunia (WEF) menyebutkan posisi daya saing Indonesia sebelumnya ada di angka 50 pada 2013, dan tahun ini berangsur naik ke posisi 38. Ada tiga hal yang memiliki pengaruh terhadap kenaikan peringkat Indonesia yaitu inovasi, pendidikan tinggi dan pelatihan, serta kesiapan teknologi.

Menurut dia, dalam mendorong semangat perguruan tinggi untuk melakukan riset, diperlukan peran aktif dari tiga unsur utama yakni pemerintah, kalangan industri dan perguruan tinggi. Ketiga unsur tersebut dapat bersinergi dalam mendukung berkembangnya kreativitas dan inovasi ilmiah. Pemerintah juga perlu berperan menekankan agar produk yang dihasilkan peneliti yang diadopsi oleh industri nasional bisa dipasarkan di pasar domestik maupun internasional.

"Jangan sampai kita hanya jadi konsumen produk-produk riset dari luar negeri," tambah dia.

BERITA TERKAIT

Hasil Riset Sebutkan Rupiah Punya Risiko Kecil - Krisis Mata Uang

    NERACA   Jakarta - Riset terbaru dari Nomura Holdings Inc menyatakan Indonesia merupakan salah satu dari delapan negara…

Kemendag Ajak Investor Tiongkok Investasi - Pacu Pertumbuhan Industri Elektronik

NERACA Jakarta –Masih kondusifnya perekonomian Indonesia dan stabilnya situasi politik, menjadi daya tari perusahaan asing berinvestasi di Indonesia. Oleh karena…

BPPT Tak Setuju Adanya Badan Riset Nasional

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto tidak menyetujui adanya penggabungan seluruh…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

BSI Resmi Jadi Universitas

  Bina Sarana Informatika (BSI) resmi menjadi universitas sejak Minggu (16/9/2018). Menurut informasi dari siaran pers, penyerahan Surat Keputusan (SK)…

Olimpiade Sains Nasional Yang Istimewa

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan pelaksanaan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional 2018 yang diselenggarakan pada 16 hingga…

2019, Mendikbud akan Hapus PPDB

      Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy akan mengubah skema proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada…