Menuai Untung Dari Saham Konstruksi

Kamis, 16/10/2014

NERACA

Jakarta – Imbas dari melambatnya pertumbuhan ekonomi dan ditambah depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, saham sektor konstruksi, infrastuktur dan properti cenderung tertekan. Kendatipun demikian, sektor saham ini masih mencatatkan kenaikan tertinggi di pasar modal Indonesia hingga kuartal III 2014.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sektor saham konstruksi dan properti naik 29,39% menjadi 436,03 secara year to date. Lalu sektor saham infrastruktur naik 22,32% menjadi 1.138,05. Sektor saham konstruksi yang naik signifikan ini ditopang oleh saham-saham konstruksi terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Imbal hasil saham sektor konstruksi ini di atas kinerja IHSG.

Saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) naik 106,17 persen menjadi Rp 835 per saham pada penutupan perdagangan saham Senin 13 Oktober 2014 dari awal tahun Rp 405 per saham. Lalu disusul saham PT PP (Persero) Tbk menguat 93,10 persen menjadi Rp 2.240 per saham dari awal tahun sekitar Rp 1.160 per saham. Sementara itu, saham PT Wijaya Karya Beton Tbk naik 77,97 persen dari Rp 590 per saham menjadi Rp 1.050 per saham pada perdagangan saham awal pekan ini.

Tak hanya itu, salah satu saham konstruksi juga diburu oleh investor asing. Berdasarkan data RTI, saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga paling banyak dibeli investor asing sepanjang 2014. Menurut analis PT BNI Securities, Thendra Crisnanda menuturkan, harapan kebijakan pemerintahan baru Joko Widodo (Jokowi) terhadap sektor infrastruktur cenderung positif. Oleh karena itu, investor mengakumulasi saham konstruksi terutama BUMN,”Adanya prospek kinerja baik terhadap emiten konstruksi menambah harapan itu," tutur Thendra.

Hal sama dikatakan, Analis PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada. Menurut Reza, ada persepsi kinerja sektor saham konstruksi positif yang diuntungkan dari realisasi program-program konstruksi pemerintahan baru Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

Meski demikian, Thendra menuturkan, sejumlah emiten konstruksi merevisi perolehan kontrak baru pada 2014. Hal itu dipicu dari nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), kondisi politik domestik tak pasti terutama dalam pemilihan ketua DPR dan MPR dan ekonomi Indonesia melambat.Sentimen tersebut berdampak negatif ke sektor saham konstruksi. "Sektor saham konstruksi mengalami koreksi juga seiring IHSG turun. Apalagi rata-rata valuasi sahamnya sudah tidak murah. Namun ini masih wajar," kata Thendra.

Dia menambahkan, sektor saham konstruksi yang tertekan dapat dimanfaatkan untuk diakumulasi oleh pelaku pasar. Saham-saham konstruksi yang jadi pilihannya antara lain saham WIKA, PTPP, PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON).