Menuai Untung Dari Saham Konstruksi

NERACA

Jakarta – Imbas dari melambatnya pertumbuhan ekonomi dan ditambah depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, saham sektor konstruksi, infrastuktur dan properti cenderung tertekan. Kendatipun demikian, sektor saham ini masih mencatatkan kenaikan tertinggi di pasar modal Indonesia hingga kuartal III 2014.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sektor saham konstruksi dan properti naik 29,39% menjadi 436,03 secara year to date. Lalu sektor saham infrastruktur naik 22,32% menjadi 1.138,05. Sektor saham konstruksi yang naik signifikan ini ditopang oleh saham-saham konstruksi terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Imbal hasil saham sektor konstruksi ini di atas kinerja IHSG.

Saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) naik 106,17 persen menjadi Rp 835 per saham pada penutupan perdagangan saham Senin 13 Oktober 2014 dari awal tahun Rp 405 per saham. Lalu disusul saham PT PP (Persero) Tbk menguat 93,10 persen menjadi Rp 2.240 per saham dari awal tahun sekitar Rp 1.160 per saham. Sementara itu, saham PT Wijaya Karya Beton Tbk naik 77,97 persen dari Rp 590 per saham menjadi Rp 1.050 per saham pada perdagangan saham awal pekan ini.

Tak hanya itu, salah satu saham konstruksi juga diburu oleh investor asing. Berdasarkan data RTI, saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga paling banyak dibeli investor asing sepanjang 2014. Menurut analis PT BNI Securities, Thendra Crisnanda menuturkan, harapan kebijakan pemerintahan baru Joko Widodo (Jokowi) terhadap sektor infrastruktur cenderung positif. Oleh karena itu, investor mengakumulasi saham konstruksi terutama BUMN,”Adanya prospek kinerja baik terhadap emiten konstruksi menambah harapan itu," tutur Thendra.

Hal sama dikatakan, Analis PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada. Menurut Reza, ada persepsi kinerja sektor saham konstruksi positif yang diuntungkan dari realisasi program-program konstruksi pemerintahan baru Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

Meski demikian, Thendra menuturkan, sejumlah emiten konstruksi merevisi perolehan kontrak baru pada 2014. Hal itu dipicu dari nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), kondisi politik domestik tak pasti terutama dalam pemilihan ketua DPR dan MPR dan ekonomi Indonesia melambat.Sentimen tersebut berdampak negatif ke sektor saham konstruksi. "Sektor saham konstruksi mengalami koreksi juga seiring IHSG turun. Apalagi rata-rata valuasi sahamnya sudah tidak murah. Namun ini masih wajar," kata Thendra.

Dia menambahkan, sektor saham konstruksi yang tertekan dapat dimanfaatkan untuk diakumulasi oleh pelaku pasar. Saham-saham konstruksi yang jadi pilihannya antara lain saham WIKA, PTPP, PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON).

BERITA TERKAIT

Saham Bank Agris Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta – Lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajaran atau unusual market activity (UMA), saham PT Bank Agris…

Indoritel Kantungi Pinjaman Rp 2 Triliun - Gadaikan Saham Anak Usaha

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnis, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) mengantungi pnjaman dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)…

Dafam Properti Bakal Tambah Lima Hotel Baru - Lepas Saham Ke Publik 25%

NERACA Jakarta – Meskipun ada kekhawatiran pasar properti tahun ini masih melandai, namun hal tersebut tidak mengurungkan PT Dafam Property…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

TBIG Berikan Layanan Kesehatan di Jateng

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), PT Tower Bersama InfrastructureTbk (TBIG) memberikan bantuan pangan dan…

BEI Perpanjang Suspensi GREN dan TRUB

Lantaran belum melakukan pembayaran denda, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperpanjang penghentian sementara perdagangan efek PT Evergreen Invesco Tbk (GREN)…

Bukalapak dan JNE Hadirkan Layanan JTR

Sebagai bentuk komitmen Bukalapak untuk terus berusaha memberikan layanan terbaik dan mengoptimalkan jasa layanan pengiriman barang besar yang dapat mempermudah dan…