Idul Fitri dan Etos Bisnis

Oleh : Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Sebentar lagi, umat Islam akan meraih kemenangan: Idul Fitri, setelah sebulan menjalani puasa Ramadan. Secara definisi syariat puasa adalah mengekang diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Dengan demikian, substansi puasa adalah mengekang atau mengendalikan hawa nafsu dari segala perilaku dan sifat yang tidak terpuji. Kemampuan mengekang hawa nafsu itulah yang harus diwujudkan di dalam penggunaan harta benda.

Menurut sosiolog David Riesman dan Robert Bellah, bahwa di tengah-tengah masyarakat ada karakter represif dan ekspresif. Karakter represif adalah kebiasaan berhemat, disiplin, suka bekerja keras, dan mempunyai jiwa wiraswasta. Tipikal individu yang berkarakter demikian mampu menahan dirinya untuk menunda kesenangan sampai keberhasilan dapat diraih.

Sedangkan karakter ekspresif selalu berorientasi konsumsi, senang memanjakan diri, dan lebih mementingkan kesenangan daripada kerja keras. Perilaku seperti ini bisa menjadi ekstrem, yaitu yang sering ditandai dengan perilaku ‘’tinggi hati’’, mencari aktualisasi diri dengan gaya konsumtif, dan individualistis, serta budaya jalan pintas ingin cepat kaya.

Nah, idealnya dalam kondisi apapun kita harus bersahaja, hemat, atau berpegang pada prinsip kesederhanaan, artinya kita tidak boleh berlebih-lebihan atau bersifat boros, dan pada waktu yang sama kita tidak boleh kikir.

Bagi orang yang bisa membatasi diri dan mengendalikan nafsunya, tentu dia akan berpikir matang saat akan membeli sesuatu yang bukan merupakan kebutuhan primer. Benarkah dia membutuhkannya atau tidak. Kebutuhan manusia (needs) ada batasnya, tetapi keinginan manusia (wants) tidak pernah ada batasnya, terutama pada budaya yang ekspresif .

Idul Fitri memang merupakan saat kemenangan bagi umat Islam, dan kita dianjurkan untuk merayakannya. Akan tetapi bentuk luapan kegembiraan menyambut Lebaran tidaklah perlu diwujudkan dengan mengada-adakan sesuatu yang tidak penting , berlebih-lebihan dan yang bersifat mubazir.

Semua kebutuhan harus terukur, kita perlu membuat anggaran pengeluaran kebutuhan yang diperlukan, kemudian mengklasifikasikan dengan baik sesuai dengan prioritasnya. Meski mungkin kita mempunyai kemampuan untuk memenuhi semua keinginan, tetaplah bijak di dalam membelanjakan harta.

Kita lihat contoh jiwa wirausaha dari Nabi Muhammad SAW, yang bisa dijadikan spirit dalam rangka memaksimalkan peluang yang bakal hadir. Tidak ada kata terlambat. Kita harus bekerja keras sebab inti dari kewirausahaan adalah kerja keras.

”Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kau hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan kau bakal mati besok pagi,” demikian sabda Nabi. Mari kita sambut Lebaran ini dengan suasana kekeluargaan dan bersahabat. Selamat Idul Fitri 1432 H. Taqabbalallahu minna waminkum.

BERITA TERKAIT

Cegah Perubahan Iklim dengan Atasi Obesitas dan Kurang Gizi

Perubahan iklim tak cuma membuat cuaca jadi tak menentu, tapi juga berhubungan erat dengan masalah gizi seperti obesitas dan kelaparan.…

Kratom, Dilema Daun Ajaib dan Zat Berbahaya

Jika menyebut kopi bisa dipastikan hampir semua orang akan paham arah pembicaraan, namun ceritanya akan ketika bertemu dengan kata Kratom…

Pollux Properti dan BNI Sepakati Kerjasama Fasilitas Pembiayaan KPA - Permudah Konsumen Meisterstadt Batam

Pollux Properti dan BNI Sepakati Kerjasama Fasilitas Pembiayaan KPA Permudah Konsumen Meisterstadt Batam NERACA Jakarta - Pengembang properti PT Pollux…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Manajemen Sampah Plastik

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tema debat Pilpres ke-2 Minggu (17/2) adalah ‘Energi, Pangan,…

Indonesia 2045, Antara Lumbung Pangan Dunia dan Krisis Pangan

Oleh : Abdul Aziz, Mahasiswa Fisipol di PTN Jakarta   Masa kampanye yang tinggal beberapa minggu lagi membuat intensitas kampanye…

Debat Capres Harusnya Tampilkan Tema Kelautan-Perikanan

Oleh: Muhammad Razi Rahman Debat calon presiden putaran kedua memang menampilkan tema pangan, yang di dalamnya juga termasuk pangan perikanan,…