Urgensi Memperbaiki Sistem Pensiunan Indonesia

Sabtu, 18/10/2014

Kualitas bantuan bagi mereka yang pensiun di Indonesia sudah diperbaiki tahun lalu, tetapi semakin banyak yang harus dilakukan untuk menangani kelemahan yang mendasar dalam sistem, termasuk bantuan bagi kelompok yang termiskin.

NERACA

Meskipun terdapat kemajuan, namun semakin banyak bantuan dibutuhkan bagi rakyat miskin, demikian menurut analisis pakar yang disampaikan Mercer.

Berdasarkan temuan Indeks Pensiun Global Mercer Melbourne (MMGPI), Indonesia meningkat dari 42,0 pada tahun 2013 menjadi 45,2 pada tahun 2014. Tren kenaikan ini terutama disebabkan oleh pengakuan negara tentang usia minimum untuk mendapatkan manfaat. Semua perbaikan yang signifikan ini diperlukan untuk menanggulangi pencakupan dan keberlanjutan sistem yang ada pada saat ini.

MMGPI mengukur 25 sistem penghasilan pensiun terhadap lebih dari 50 indikator di bawah sub-indeks kecukupan, keberlanjutan, dan integritas. Sistem pensiun Indonesia masih terus diperingkatkan sebagai "D" dalam pengakuan sebagian kelengkapan yang diinginkan, tetapi juga dipandang sebagai kelemahan utama lainnya menurut Neil Narale, Pemimpin Bisnis Pensiun ASEAN Mercer.

Dia menjelaskan, Indonesia mendapat nilai tinggi dalam integritas sistem pensiun, yang menunjukkan regulasi yang kuat atas pengaturan dan perlindungan manfaat karyawan. Namun demikian, dengan memperbaiki tingkat minimum bantuan bagi orang miskin, memperbaiki regulasi rencana pensiun swasta dan menangani masalah mengenai perkiraan lama hidup yang lebih panjang akan membantu menaikkan nilai di waktu mendatang.

Kelayakan sistem Pensiun

Denmark masih tetap menduduki posisi puncak pada tahun 2014 dengan nilai keseluruhan 82,4. Sistem pensiun Denmark terdanai dengan baik dengan cakupannya yang juga baik, tingkat aset dan kontribusi yang tinggi, penyediaan manfaat yang memadai serta sistem pensiun swasta dengan regulasi yang dikembangkan, merupakan alasan utama Denmark mencapai peringkat puncaknya.

MMGPI kembali menemukan bahwa tidak ada sistem sempurna yang dapat diterapkan secara universal di seluruh dunia, tetapi ada banyak fitur umum yang dapat digunakan bersama untuk mendapatkan hasil yang lebih baik bagi setiap orang. MMGPI sekarang meliputi 25 negara dan mendekati 60% dari penduduk dunia. MMGPI sudah tumbuh dari 11 negara pada tahun 2009 dan merupakan perbandingan sistem pensiun paling komprehensif secara global.

Professor Deborah Ralston, Direktur Eksekutif ACFS mengatakan perluasan Indeks mencerminkan fakta bahwa sebagian besar negara tengah bergulat dengan efek sosial dan ekonomi penduduk yang berangsur menua, dan perbandingan global dapat menuntun ke pelajaran global bagi pemerintah, industri dan akademisi tatkala mereka berdebat tentang cara terbaik untuk memberikan bekal bagi penduduk yang semakin lanjut usianya.

"Walaupun tiap sistem penghasilan pensiun negara mencerminkan riwayat yang unik, namun terdapat sejumlah tema yang umum tatkala sekian banyak negara menghadapi masalah yang serupa dalam beberapa puluh tahun ke depan, dan Indeks ini bertujuan untuk menyoroti solusi terbaik, dan menggunakannya bersama secara global. Alangkah menyenangkan saat mengamati nilai rata-rata semakin meninggi seiring waktu, yang mengemukakan bahwa reformasi pensiun di seluruh dunia memiliki efek positif. Nilai rata-rata untuk 14 negara pada tahun 2010 yaitu 61,7 dibandingkan dengan 64,3 untuk negara yang sama pada tahun 2014," kata Professor Ralston.

Pengaturan yang baik menentukan keberhasilan di dunia yang terus berubah. Di luar peringkat Indeks, MMGPI 2014 memerhatikan pentingnya kepercayaan dan transparansi dalam sistem penghasilan pensiun.

Menurut Mr. Narale, pemikulan pertanggungjawaban untuk menjamin keamanan finansial di masa pensiun bergeser dari tanggung jawab Negara dan perusahaan kepada individu di banyak negara. Kecenderungan ini akan terus berlangsung karena harapan hidup yang lebih lama terus meningkat dan banyak pemerintah yang mengurangi pengeluaran per kapita pada penduduk mereka yang berusia lanjut. Pergeseran ini berarti, bahwa komunikasi kepada para anggota semakin penting atau lebih diawasi oleh para anggota, pembuat regulasi, perusahaan yang memberikan pekerjaan, kelompok konsumen, politisi dan media.

"Menjamin keterbukaan dan kepercayaan individual menjadi semakin penting. Jika Anda kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pensiun; Anda berisiko kehilangan efektivitas sistem tersebut,” kata Mr. Narale.

Lebih lanjut dia mengatakan, pemerintah, para pembuat regulasi dan industri keuangan harus menjamin kerangka kerja pengaturan dan praktik yang baik, yang mengedepankan komunikasi yang teratur dan mudah dipahami, proyeksi manfaat yang jelas, dan akses ke informasi komparatif dengan cara efisiensi biaya.

"Industri pensiun harus mengembangkan metode efisien yang transparan dengan cara yang bermakna dan relevan bagi semua pemangku kepentingan. Sekarang, tidak ada lagi alternatif," tutur dia.