Charoen Pokphand Cari Pinjaman US$ 400 Juta

NERACA

Jakarta – Perusahaan pakan ternak terintegrasi, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) tengah mencari pinjaman sekitar US$ 300-400 juta dengan menjajaki sindikais tuhuh bank. Disebutkan, perseroan telah menunjuk Citi dan DBS sebagai lead arrangers dan bookrunners terkait pinjaman tersebut. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Dijelaskan, pinjaman tersebut dijadwalkan akan menjadi sindikasi umum dalam waktu dua pekan ke depan. Terakhir, Charoen Pokphand Indonesia mengantongi pinjaman senilai US$ 500 juta dari 20 bank pada Oktober 2013. Pinjaman tersebut memiliki tenor tiga sampai lima tahun. Citibank, DBS, PT Bank ANZ Indonesia, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation bertindak sebagai mandated lead arranger.

Fasilitas pinjaman yang terdiri atas US$ 325 juta dan Rp 2 triliun tersebut diperoleh secara unsecured basis atau tanpa menjaminkan aset perusahaan. Ketika itu, pinjaman digunakan untuk pembayaran kembali atau refinancing seluruh utang perusahaan sebesar US$ 200 juta. Sisa pinjaman sebesar US$ 300 juta dipakai untuk membiayai pertumbuhan usaha hingga lima tahun ke depan.

Tahun ini, Charoen Pokphand mengalokasikan capex sebesar Rp 2 triliun. Mayoritas capex digunakan untuk pembangunan dua pabrik baru yang terletak di Bali dan Padang. Perseroan juga menggunakan capex untuk pengembangan pabrik-pabrik yang ada.

Saat ini, Charoen Pokphand memiliki tujuh pabrik pakan ternak, 80 fasilitas pembibitan, 43 fasilitas penetasan, empat fasilitas pengolahan daging ayam, dan lebih dari 2.500 agen distribusi di seluruh Indonesia. Sebelumnya, perseroan melakukan perjanjian kerjasama dengan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT FKS Multi Agro Tbk (FISH) terkait dengan PT Nusa Prima Logistik (NPL). Tahun 2013, Charoen Pokphand membukukan laba bersih sebesar Rp2,53 triliun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp2,68 triliun. Untuk penjualan bersih mencapai Rp21,31 triliun dan beban pokok 2013 naik menjadi Rp20,51 triliun dibanidngkan tahun sebelumnya Rp16,82 triliun. (bani)

Related posts