Pertamina Berencana Bangun 750 SPBG

Konversi BBM ke Gas

Kamis, 16/10/2014

NERACA

Jakarta-PT Pertamina siap membangun 750 unit stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) senilai Rp8 triliun selama lima tahun yakni 2015-2019. "Kami siap mendukung program konversi minyak ke gas dengan membangun SPBG sebanyak 150 unit per tahun dalam lima tahun atau sebanyak 750 unit," kata Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) Hanung Budya di Jakarta, Selasa, dikutip dari Antara, Rabu.

Menurut dia, Pertamina memiliki aset sekitar 5.000 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di seluruh Indonesia yang bisa dengan cepat dan murah digunakan sebagai lokasi SPBG. Nantinya, SPBG dibangun dengan mengalihkan 1-2 unit dispenser yang ada di SPBU. Sehingga selain BBM juga terdapat BBG di SPBU. "SPBU yang sudah ada jaringan pipa gasnya, maka akan langsung disambungkan dengan fasilitas SPBG. Kalau belum ada pipa, maka akan dipakai skema mother station," katanya.

Pada 2015, lanjut Hanung, pihaknya akan membangun 150 SPBG di SPBU yang berlokasi di Jawa. Saat ini, terdapat 3.200 SPBU di Jawa di bawah kendali Pertamina. Pertamina juga sudah melakukan identifikasi titik-titik SPBU yang akan dijadikan 150 unit SPBG pada 2015 yakni Jabodetabek, 60 unit, dan wilayah lainnya di Jawa akan dibangun 90 unit.

Ia mengatakan, setiap membangun 150 unit SPBG memerlukan investasi sekitar Rp1,6 triliun. Nilai Rp1,6 triliun tersebut sudah termasuk pengadaan mother station. Namun demikian, Hanung juga mengatakan, program konversi BBG tersebut mesti mendapat dukungan pemangku kepentingan lainnya, antara lain pemda mesti mewajibkan angkutan umum dan taksi memakai BBG. Lalu, pemilik mobil mendapat insentif pajak kendaraan dan kemudahan mendapatkan konverter kit. "Bengkel juga harus diperbanyak. Bengkel ATPM (agen tunggal pemegang merek) juga diwajibkan melayani kendaraan ber-BBG," katanya.

Selain itu, ATPM juga diwajibkan membuat mobil yang langsung terdapat konverter kit-nya. Untuk pengusaha SPBG, lanjut Hanung, pemerintah bisa memberikan insentif berupa kenaikan harga BBG yang kini Rp3.100 menjadi Rp4.500 per liter setara premium (LSP). "Dengan kenaikan harga BBG itu, maka pengusaha SPBG akan mendapat keuntungan Rp500-Rp600 per LSP atau sama dengan SPBU," katanya.

Namun, kenaikan harga BBG tersebut, mesti dibarengi harga premium yang dinaikkan dari Rp6.500 menjadi Rp9.000-Rp9.500 per liter. "Kenaikan harga BBM ini perlu dilakukan agar pemilik mobil tertarik menggunakan BBG yang jauh lebih murah. Delta harga sampai 50 persen, saya pikir cukup buat konsumen," katanya.

Di sisi lain, para produsen gas juga diberikan insentif dan kemudahan investasi agar tertarik membangun infrastruktur gas. "Pemanfaatan BBG bagi kendaraan ini akan memberikan manfaat besar bagi negara dalam hal penggunaan BBM yang turun, impor turun, subsidi turun, dan polusi yang juga turun," ujarnya. Pada 2016, tambahnya, Pertamina juga akan membangun lagi 150 unit dan terus berlanjut hingga 2019.

Hanung juga mengatakan, selain BBG yang memakai gas jenis terkompresi (compressed natural gas/CNG), Pertamina juga akan membangun 14 stasiun pengisian bahan bakar (SPB) jenis Vi-Gas. "Sebanyak 11 SPB Vi-Gas sedang dikerjakan dan tiga lagi akan dibangun. Ke-14 SPB Vi-Gas tersebut ditargetkan beroperasi awal 2015," katanya.

Saat ini, Pertamina memiliki 14 SPB Vi-Gas yang 11 di antaranya di Jakarta dan sekitarnya serta tiga lainnya di Bali. Ia mengatakan, pada Selasa ini, Pertamina meresmikan SPB Vi-gas di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta. "SPB ini melayani sekitar 200 kendaraan TNI yang sudah terpasang konverter kit-nya dan akan bertambah 200 lagi dalam waktu dekat," ujarnya.

Pembangunan SPB Vi-Gas tersebut, ujarnya, merupakan tindak lanjut nota kesepahaman yang ditandatangani Pertamina dan TNI pada 2013. Peresmian dilakukan Pelaksana Tugas Dirut Pertamina M Husen dan dihadiri Hanung serta Irjen TNI Letjen Syafril Mahyudin.

Vi-Gas merupakan merek dagang Pertamina untuk bahan bakar gas cair untuk kendaraan (liquefied gas for vehicle). Bahan bakar gas terdiri dari campuran propana (C3) dan butana (C4) atau semacam elpiji untuk rumah tangga.

Sebelumnya, Kebijakan pembangunan integrasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) oleh Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta masih memiliki sejumlah hambatan.

"Kendala yang dihadapi salah satunya adalah masih sedikitnya investor swasta penyedia layanan SPBG, sehingga persaingan bisnisnya kurang ketat," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta Haris Pindratno, di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Haris, hambatan sedikitnya investor swasta tersebut dikarenakan harga Bahan Bakar Gas (BBG) yang rendah. Pihaknya berencana menyiasati permasalahan tersebut dengan cara menaikkan harga jual BBG ke konsumen di tingkat SPBG. "Harga gas yang sekarang Rp3.100 (per liter setara premium) akan dinaikkan, namun harganya masih di bawah bensin subsidi. Harapannya agar iklim investasi di bidang ini lebih menarik," katanya.

Disperindgi DKI juga berencana akan melakukan kerjasama dengan pemegang merk mobil dan angkutan umum, seperti taksi, mikrolet, metromini, dan bajaj. "Kami meminta agar mengaplikasikan mesin kendaran yang mampu dioperasikan dengan bahan bakar gas. Jadi mesin-mesin kendaraan tersebut nantinya hanya diisi dengan gas," kata Haris.