Berbhineka Tunggal Ika

Oleh: Herni Susanti, Pemerhati Masalah Bangsa

Kamis, 16/10/2014

Saat ini telah terjadi peningkatan tensi atau emosi dimasyarakat, seiring dengan meningkatnya kemajuan arus informasi. Memang terdapat nilai positif dan negatifnya baik saat Orde Baru maupun saat reformasi. Saat Orba situasi di daerah cenderung stabil namun setelah reformasi, cenderung meningkatnya emosi dimasyarakat yang berujung sikap “memaki”.

Ada permasalahan sedikit yang timbul, munculah sikap memaki antara warga kepada warga, atau warga kepada pemerintah, bahkan ucapan makian tersebut sampai muncul di media. Apabila hal ini terus terjadi maka tidak akan ada unjung pangkalnya.

Aparatur pemerintah, diwajibkan untuk bisa menjadi penjaga ketentraman di daerah serta harus mampu menumbuh kembangkan keharmonisan, saling pengertian, saling menghormati dan saling percaya diantara umat beragama di masyarakat, mengingat membina kerukunan umat beragama merupakan salah satu tugas kepala desa dalam rangka melaksanakan Otonomi Desa.

Konflik Multi Dimensional

Kondisi saat ini yang terjadi adalah terjadinya konflik multi dimensional diantaranya terjadinya konflik sosial di masyarakat yang mengarah kepada konflik agama, yang jika diteliti lebih dalam disebabkan beberapa faktor diantaranya terjadinya kesenjangan ekonomi, adanya ketidak adilan, kekurang pedulian terhadap orang fakir miskin, dan masih ada masyarakat rendah ekonomi.

Apabila hal ini tidak segera diwaspadai dan ditangani maka bukan hal yang tidak mungkin akan terjadi kasus seperti tahun 1998. Munculnya berbagai tawuran serta perkelahian antar pemuda yang akhir-akhir ini terjadi di beberapa wilayah Indonesia merupakan salah satu ekses memudarnya nilai-nilai budaya lokal dan Bhineka Tunggal Ika (Torang Samua Basudara/Kita Semua Bersaudara). Perkembangan teknologi, tingginya tingkat konsumerisme serta konsumsi minuman keras dikalangan remaja serta masyarakat pada umumnya juga menyumbang terhadap munculnya perkelahian di masyarakat yang berdampak memudarnya hubungan sosial masyarakat Indonesia yang terkenal sangat toleransi kepada masyarakat lain/pendatang.

Penanganan Konflik

Permasalahan perkelahian dan munculnya disharmonisasi dikalangan masyarakat harus ditangani secara terpadu mulai dari pemda, tomas, toga, pemuda, anggota DPRD serta semua elemen yang dapat mendorong terciptanya lagi rasa toleransi dan terus terjaga slogan tentang persaudaraan bagi seluruh masyarakat. Adanya tindakan bentrokan tersebut juga diakibatkan dari lemahnya pengawasan dari pemerintah serta kurang peduli dengan kepentingan masyarakat.

Sementara itu, tindakan kongkrit dalam meredam munculnya perkelahian pemuda yang melibatkan lintas kampung tidak cukup hanya di tataran dialog saja, akan tetapi langkah kongkrit dari kepolisian dan pemerintah daerah dalam mencegah, serta menindak tegas para pelaku perkelahian tersebut, sehingga akan muncul rasa jera dari para pelaku apabila tindakan hukum dilakukan.

Selain itu, Pemerintah daerah sangat berperan penting dalam upaya mengurangi munculnya perkelahian di kalangan pemuda, misalnya pemerintah daerah memberikan lapangan kerja bagi para pemuda serta mengurangi kegiatan-kegiatan masyarakat yang tidak bermanfaat yang dapat mendorong terjadinya bentrokan lintas kampung.

Peran Budaya Lokal

Jangan melihat konflik sebagai konflik yang parsial, faktor kesenjangan yang terjadi selama ini karena peran agama tidak dijalankan dengan baik. Peran budaya lokal harus sesuai nilai Pancasila yang ada. Dengan adanya UU 32 tentang pemerintah daerah, maka kita diberikan amanah untuk menjaga persatuan dan kesatuan di daerah erta meningkatkan kerukunan nasional dalam upaya menjaga stabilitas di daerah. Hendaknya, dengan berulangnya kejadian-serupa tentang perkelahian remaja, seluruh masyarakat dapat bersama-sama mendorong lingkungannya melakukan upaya pencegahan secara cepat dan pembinaan kepada generasi muda agar dapat menjadi bagian dari kelompok sosial yang peduli terhadap keamanan, kesejahteraan serta harmonisasi hubungan sosial kemasyarakatan.

Untuk itu, perlunya perilaku harmonis, rukun, tepo saliro, akrab, saling menghormati, kesatuan dan keseimbangan, tanggung jawab, saling ketergantungan fungsional, pengertian dan adanya kesamaan pandangan. Kaum muda agar menyingsingkan lengan, berpegang erat bersama-sama berbuat terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia.***