Kenaikan Listrik Berikan Dampak Positif

Kamis, 16/10/2014

NERACA

Jakarta —Kebijakan penghapusan subsidi listrik melalui penyesuaian tarif tenaga listrik secara bertahap masih bisa dilanjutkan. Selain memberikan dampak inflasi yang tidak begitu signifikan, kenaikan tarif listrik ini juga memberikan sisi positif.

Fabby Tumiwa, pemberhati masalah ketenagalistrikan di Indonesia, mengatakan bahwa kenaikan tarif listrik ini selain mengurangi beban subsidi, juga akan memicu industri melakukan penghematan energi. Industri bisa berinovasi untuk meningkatkan efisiensi produksi diantaranya investasi mesin yang lebih hemat energi. Penghematan energi di industri menjadi jauh lebih bernilai dengan potensi penghematan energi listrik industri diperkirakan rata-rata 20-30%. “Industri sepertinya siap melakukan penghematan untuk menekan biaya produksi akibat kenaikan tarif listrik,” kata Fabby di Jakarta, kemarin.

Sebagaimana diketahui, sejak Juli 2014, pemerintah menaikan TTL untuk enam golongan pelanggan yang tertuang melalui peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral No. 19 Tahun 2014. Enam golongan itu akan mengalami kenaikan tariff listrik secara berkala setiap dua bulan sekali. Keenam pelanggan ini terdiri dari tiga jenis golongan yaitu golongan rumah tangga, industri dan gedung atau fasilitas pemerintah. Kenaikan tarif untuk tahap kedua diberlakukan pada 1 September 2014.

Sedangkan untuk golongan rumah tangga pengguna 450-900 VA merupakan golongan yang tidak mengalami kenaikan tarif listrik. Meski konsumsi listriknya rendah, namum jumlah rumah tangga di golongan ini cukup banyak. Bahkan sejak kuartal IV tahun 2013 hingga sekarang atau sekitar 11 tahun, golongan tersebut belum pernah mengalami kenaikan tarif listrik.

Jika melihat kondisi saat ini, kata Fabby, tarif listrik di Indonesia relatif lebih murah jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki bauran energi hampir sama dengan Indonesia. Indonesia masih menerapkan tarif listrik berdasarkan biaya produksi. Sedangkan 70-80% dari biaya produksi listrik berada di luar kontrol PLN, seperti biaya BBM dan nilai tukar rupiah. Artinya, penerapan peghitungan tarif listrik yang direncanakan menggunakan automatic adjustment, tidak akan banyak mempengaruhi harga.

Saat ini harga rata-rata keekonomian listrik adalah Rp 1.350/kWh dan rata-rata harga jual listrik masih Rp 900/kWh. Sehingga selisih harga menjadi beban bagi negara dalam bentuk subsidi. Berdasarkan anggaran APBN- P 2014, anggaran subsidi untuk listrik mencapai Rp103,81 triliun.

Terkait hal tersebut, Fabby berpendapat, tarif untuk golongan 459-900 VA sewajarnya dinaikkan dua kali lipat. Tujuannya agar beban subsidi bisa berkurang sebesar 50%. Kedua golongan tersebut merupakan penyerap terbanyak subsidi yang mencapai hingga Rp 50 triliun. “Pemberian subdisi yang besar tidak akan mendidik masyarakat melakukan penghematan energi secara maksimal. Harusnya tarif listrik industri disubsidi karena digunakan untuk kegiatan produksi,” ujar Fabby. (bani)