Pertumbuhan Penjualan Listrik Lebih Melambat

Kamis, 16/10/2014

NERACA

Jakarta – Kepala Divisi Niaga PT PLN (Persero) Benny Marbun mengungkapkan bahwa pihaknya mencatat pertumbuhan penjualan listrik pada periode Januari-September 2014 mencapai 6,23% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2013. Benyy mengatakan pertumbuhan penjualan listrik tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan penjualan pada Januari-Agustus 2013 terhadap Januari-Agustus 2013 (y-o-y) sebesar 6,54%. "Rendahnya penjualan pada September 2014 antara lain karena rendahnya penjualan pada kelompok pelanggan industri menengah i-3, i-4, dan rumah tangga menengah R1/2200 VA," ungkap Benny di Jakarta, Rabu (15/10).

Menurut dia, ketiga golongan pelanggan tersebut memberi kontribusi penjualan listrik sebesar 35,81%. Pada September 2014, penjualan tumbuh 3,82 persen dibandingkan September 2013. Benny mengungkapkan, penurunan penjualan listrik antara lain industri menengah (i-3) mulai mengalami tekanan finansial karena naiknya tarif listrik. "Beberapa industri yang rawan oleh kenaikan tarif listrik, seperti tekstil, mulai benar-benar tertekan, dan ada beberapa industri tekstil yang berhenti berproduksi," tuturnya.

Sementara, lanjutnya, dari kalangan industri besar seperti baja, penurunan penyerapan listrik terutama karena dua hal, yaitu menurunnya pasar luar negeri dan semakin sulitnya bersaing di pasar internasional dengan produk industri baja dari Tiongkok. Faktor lain adalah karena lesunya perekonomian di dunia, baik di pasar luar negeri maupun pasar lokal. "Sisa tiga bulan ke depan harus dimaksimalkan penjualan listrik, termasuk di sektor nonindustri di Jawa," kata Benny.

Namun begitu, Benny mengungkapkan PLN melihat potensi peningkatan penjualan listrik di Jawa-Bali masih sangat besar. Apalagi banyak sekali permintaan sambungan baru termasuk permintaan sambungan dari golongan industri dan bisnis) pada semester I-2014 yang belum sempat terlayani. “Untuk itu, semua unit distribusi PLN di Jawa dan di daerah lainnya yang kemampuan sistem kelistrikannya cukup hendaknya memacu penjualan listrik,” ungkapnya.

Ia mengatakan untuk memacu penjualan listrik tersebut, dengan cara memperbaiki tegangan pelayanan, mengurangi gangguan pasokan, dan mempercepat penyambungan baru. Dalam keterangan sebelumnya, Benny juga menyatakan bahwa kenaikan TTL membuat PLN mengalami penurunan penjualan listrik. Sehingga pihaknya memperkirakan penjualan tidak akan mencapai target. Ia mengatakan kenaikan TTL membuat pelanggan PLN yang terdiri dari industri dan bisnis melakukan penghematan, sehingga mengurangi penjualan listrik PLN. “Tarif listrik naik untuk sektor industri sehingga pelanggan industri mengurangi pemakaian,” kata Beny.

Beny mengungkapkan, penurunan penjualan listrik atas penghematan penggunaan listrik tersebut mencapai 10% sampai saat ini. Namun diperkirakan akan meningkat jika industri tersebut membangun pembangkit sendiri. “Kalau ada mereka lakukan efisiensi, industri terasa belum bangun pembangkit 5-10%. Sepertinya kami agak sulit mencapai 7%. Hingga Agustus pertumbuhannya Year on Year 6,7% hingga Agustus. Tarif listrik terus naik sampai November. Mereka modifikasi untuk berhemat. 198 Twh mungkin beda sedikit saja,” kata Beny.

Subsidi Listrik

Komisi VII DPR menyepakati besaran subsidi listrik dalam RAPBN 2015 sebesar Rp68,69 triliun atau turun 20 persen dibandingkan APBN Perubahan 2014 sebesar Rp85,75 triliun. Ketua Komisi VII DPR Milton Pakpahan mengatakan, besaran subsidi listrik tersebut sesuai usulan pemerintah dalam Nota Keuangan RAPBN 2015. “Kami sepakati alokasi subsidi listrik tahun depan Rp68,69 triliun dengan parameter-parameter yang ada,” katanya.

Parameter subsidi tersebut adalah pertumbuhan listrik sembilan persen, penjualan listrik 216,36 Terra Watt hour (TWh), susut jaringan 8,45 persen, dan biaya pokok pengadaan (BPP) Rp1.318 per kWh atau Rp285,28 triliun. Lalu, marjin usaha diasumsikan tujuh persen atau insentif investasi Rp19,97 triliun, BPP ditambah insentif investasi Rp305,25 triliun, dan bauran energi untuk BBM 8,53 persen.

Chairul mengatakan, dalam jangka panjang, pemerintah akan menghilangkan pemakaian BBM pembangkit. "Termasuk di wilayah remote (sulit), bukan tidak mungkin BBM-nya dihilangkan," katanya. Menurut dia, pemerintah akan memperbanyak pembangkit berbahan bakar murah khususnya batubara. "Kami juga akan berusaha melakukan efisiensi PLN," ujarnya.