Perkebunan Sawit Serap 21 Juta Tenaga Kerja

Kamis, 16/10/2014

NERACA

Jakarta – Wakil Ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Agribisnis dan Pangan Franky O. Widjaja menyatakan bahwa perkebunan sawit yang ada di Indonesia telah menyerap 21 juta orang tenaga kerja. Saat ini, luas lahan perkebunan sawit mencapai 10 juta hektar. “Saat ini, perkebunan sawit telah menjadi mata pencaharian langsung lima juta keluarga terdiri dari petani pemilik dan karyawan, serta 16 juta keluarga yang bekerja secara tidak langsung,” kata Franky di Jakarta, Rabu (15/10).

Karena menyerap tenaga kerja yang besar, Franky mengatakan industri sawit telah membantu mengentaskan kemiskinan. “Perkebunan sawit sangat potensial dikembangkan, karena selain menampung tenaga kerja dalam jumlah banyak juga permintaan pasar terhadap minyak nabati sawit cukup tinggi mencapai 26 juta per tahun,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dari sekitar 10 juta hektare lahan perkebunan sawit di Indonesia, delapan persen berupa perusahaan negara dan 49 persen dikelola oleh industri swasta dan 43 persen dimiliki petani kecil. "Selama ini, terjadi kesalahpahaman umum bahwa industri sawit Indonesia didominasi oleh perusahan besar," ucapnya.

Ia menilai, industri minyak sawit merupakan industri Indonesia yang paling efisien dan kompetitif dibandingkan industri lain di dalam negeri, karena industri sejenis di negara lain yang memerlukan lahan sekitar 8 hingga 10 kali lipat dibanding sawit untuk memproduksi volume minyak yang sama. "Sawit tidak boros menggunakan lahan, produktivitasnya paling tinggi dan harga paling murah," tukasnya.

Untuk itu, kata dia, industri sawit perlu terus dikembangkan secara berkelanjutan, karena dampaknya sangat positif untuk menekan angka kemiskinan, peningkatan sarana kesehatan, pendidikan, ibadah dan lainnya di dalam dan sekitar industri sawit," katanya.

Permintaan Tinggi

Lebih jauh lagi, Franky mengungkapkan permintaan minyak nabati sawit baik domestik maupun internasional pada 2013 mencapai 26 juta ton dengan nilai US$ 22 miliar. "Minyak nabati sawit ini telah menghasilkan pertumbuhan produksi dan ekonomi yang signifikan, pada tahun 2005 Indonesia memproduksi 11,8 juta ton dengan nilai US$ 5,1 miliar, ini artinya permintaan dunia terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk dunia dan peningkatan pendapatan masyarakat," katanya.

Menurut dia, pada 2020 dengan penduduk dunia sekitar 8 miliar manusia diperkirakan membutuhkan minyak nabati sebanyak 234 juta ton, artinya butuh tambahan suplai 6 juta ton per tahun sampai 2020. "Pemanfaatan minyak sawit akan terus meluas bukan saja sebagai food tapi juga fuel dan feed," ujarnya.

Ke depannya, kata dia, penggunaan sebagai fuel akan semakin meningkat sejalan dengan program energi terbarukan yang bersifat mandatori di berbagai negara. "Saat ini sekitar 86 persen digunakan sebagai bahan pangan sisanya untuk fuel dan industri," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, Kadin terus mendorong industri sawit agar terus berkesinambungan dengan mewujudkan prinsip meningkatkan produktivitas 20 persen, mengurangi kemiskinan 20 persen dan mengurangi emisi CO2 minimal 20 persen atau yang dikenal dengan visi baru sektor pertanian, yaitu 20 : 20 : 20. "Hal ini sangat penting, meskipun Sawit sampai saat ini masih menduduki peringkat satu dunia, namun tanda-tanda penurunan pengembangan komoditi kelapa sawit telah dirasakan," ujarnya.

Ia mengatakan dikhawatirkan kalau tidak segera ditangani secara serius akan terulang sejarah sukses Indonesia pada masa lampau sebagai eksportir terbesar rempah-rempah menjadi berbalik sebagai pengimpor sebagian besar produk pertanian. "Kami terus berupaya agar produksi sawit ini terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional dan internasional yang terus mengalami peningkatan yang cukup tinggi," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Erwin Nasution mengatakan perusahaan kelapa sawit perlu meningkatkan produktivitasnya untuk menjadi industri yang unggul. Selama ini, industri kelapa sawit mendapatkan keuntungan dari tingginya harga CPO yang bersifat windfall profit. Tak hanya itu, pengembangan sawit sebaiknya dilakukan sampai kepada produk hilir sehingga akan memberikan nilai tambah tinggi.

Menurut Erwin Nasution, PTPN IV sedang membangun kerjasama dengan PT Pertamina dan Pelindo II untuk pengembangan teknologi green diesel. Teknologi ini dapat menghasilkan biodiesel dengan kandungan 100 % yang langsung bisa dipakai kendaraan.

Dilain sisi, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (MESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan saat ini impor minyak bumi dalam negeri mencapai 850.000 barel perhari (bph) sedangkan elpiji 3,6 juta ton. “Kalau dikalikan dengan 1000 dollar perton sudah US$3,6 miliar pertahun, itu hanya untuk migas saja, belum lagi subsidi BBM, impor memang harus diturunkan," tegas dia.

Menurut dia, salah satu upaya untuk menekan impor minyak nasional adalah mengembangkan energi baru terbarukan secara masiv dalam pembangunan nasional."Karena dari target pemerintah membangung pembangkit listrik sebesar 125.000 MW, salah satunya adalah pembangkit dari energi baru terbarukan disamping gas, batubara," pungkasnya.