Trade Expo 2014 Catat Transaksi US$1,42 Miliar

Kamis, 16/10/2014

NERACA

Jakarta – Pameran dagang Trade Expo Indonesia (TEI) 2014 telah berhasil membukukan transaksi sebesar US$ 1,42 miliar. Pencapaian tersebut masih kalah dibandingkan penyelenggaraan TEI 2013 yang telah berhasil membukukan transaksi sebesar US$1,82 miliar. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengaku bahwa penurunan tersebut terjadi karena belum pulihnya perdagangan global. Salah satu sektor yang mengalami penurunan adalah transaksi investasi.

Menurut Bayu, setidaknya ada faktor yang menyebabkan investasi pada penyelenggaraan TEI 2014 mengalami penurunan. Pertama, karena Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) secara intensif melakukan promosi investasi di acara lain yang memang khusus didedikasikan untuk investasi. “Akan tetapi kami masih optimis bahwa investasi kedepannya akan bertumbuh,” ungkap Bayu di Jakarta, Rabu (15/10).

Pihaknya mencatat ada beberapa produk yang paling diminati buyers selama penyelenggaraan TEI 2014 diantaranya furnitur, makanan olahan, tekstil dan produk tekstil, building materials, serta kertas dan produk kertas. Permintaan untuk produk-produk tersebut sebagian besar berasal dari Kanada, India, Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Sementara permintaan sektor jasa sebagian besar berasal dari Jepang, Malaysia, Qatar, Ethiopia, Taiwan, dan Belanda. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) juga mencatat jumlah permintaan tenaga kerja Indonesia sebanyak 11.961 orang dari 19 negara.

“Hal ini menunjukkan keunggulan kompetitif di sektor jasa yang dimiliki Indonesia. Apalagi, memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 persaingan jasa akan makin ketat. Para pekerja asing akan bebas masuk ke Indonesia dan bersaing dengan tenaga kerja dalam negeri. Jasa hospitality paling diminati buyers, disusul jasa di bidang konstruksi, teknik, agrikultur, perikanan, manufaktur, serta kesehatan,” ujar Bayu.

Di sisi lain, rencana investasi yang diminati antara lain adalah manufaktur, properti, energi, infrastruktur, pertambangan, dan industri makanan, dengan investors yang berasal dari 13 negara, di antaranya Korea Selatan, Taiwan, Aljazair, dan Australia.

Fokus Tingkatkan Ekspor

Lebih lanjut, Wamendag Bayu menyampaikan bahwa pelaksanaan TEI kali ini lebih menekankan pada peningkatan ekspor jangka panjang dibandingkan transaksi jangka pendek. Oleh karena itu, selama lima hari pelaksanaan TEI dilaksanakan kegiatan business matching sebagai langkah mengembangkan kontak dagang ke tahap yang lebih potensial. “Ini dilakukan Kemendag untuk memfasilitasi pertemuan antara visitors dan exhibitor untuk penjajakan peluang kerja sama,” ujarnya.

Ia mengatakan selama penyelenggaraan TEI 2014 juga dilakukan beberapa penandatanganan kontrak dagang antara eksportir Indonesia dengan importir negara sahabat, antara lain Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan Jerman. “Kontrak dagang yang ditandatangani tersebut antara lain untuk produk makanan olahan, furnitur, produk karet, green building material dan produk garmen,” tambah Bayu.

Selain itu, guna mendukung peningkatan ekspor nonmigas nasional, pada 8 Oktober 2014 lalu juga dilakukan penandatanganan kerja sama promosi ekspor antara Kemendag dengan Import Promotion Desk (IPD) Jerman. Kerja sama ini fokus pada upaya mendorong ekspor tiga kelompok besar produk, yaitu natural ingredients for food, pharma and cosmetics, fresh fruit and vegetables.

Sedangkan, visitors mancanegara yang hadir sejumlah 14.345 yang berasal lebih dari 125 negara. Visitors dengan jumlah terbesar berasal dari Malaysia. Posisi kedua dan seterusnya diikuti oleh India, Singapura, Saudi Arabia, dan Bangladesh. Jumlah pengunjung TEI 2014 meningkat 53,54% bila dibandingkan dengan TEI 2013 yang hanya dikunjungi oleh 9.343 visitors dari 118 negara. Pada penyelenggaraan TEI 2014, sebanyak 1.543 delegasi misi dagang dari 64 negara juga turut hadir.

Seperti tahun sebelumnya, pada TEI 2014 juga diselenggarakan kegiatan Trade and Investment Forum (TI Forum) dengan tema Investment for Trade. Kegiatan ini diselenggarakan pada 9-10 Oktober 2014 yang dibagi dalam beberapa sesi, yakni Trade and Investment Seminar, Dialog Interaktif, Export Summit, dan Business Counseling.

Untuk kegiatan Dialog Interaktif tahun ini mengundang narasumber yang sebagian besar merupakan lembaga dan praktisi impor di negaranya masing - masing. Pembicara pada Interaktif Dialog ini berjumlah 18 (delapan belas) perwakilan dari Trade Promotion Office (TPO) seperti Hong Kong Trade Development Council (HKTDC), Finnpartnership dari Finlandia, Swiss Import Promotion Programme (SIPPO), Import Promotion Desk (IPD) Jerman, CBI dari Belanda, dan TFO Kanada, serta para praktisi dan perwakilan pemerintah dari luar negeri dengan total peserta sebanyak 523 orang peserta.

Sementara itu, untuk tingkat okupansi seluruh venue penyelenggaraan mencapai 98% dengan total eksibitor mencapai 1.550. Sebagai terobosan baru pada TEI 2014 juga menghadirkan beberapa paviliun untuk menarik perhatian visitors dan buyers. The Pride of Indonesia Pavilion, merupakan showcase produk-produk strategis unggulan dan terbaik Indonesia yang diproduksi oleh sejumlah perusahaan Indonesia, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkemuka di Indonesia yang dikelompokkan dalam 4 kategori, yakni green product, high tech product dan industri strategis, produk manufaktur, serta produk kreatif UKM.