Pelayaran Buana Raya Buyback 13 Juta Lembar Saham

Kamis, 16/10/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun laba bersih hingga akhir kuartal tiga PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM) terkoreksi 88,81%, tidak mempengaruhi aksi korporasi perseroan untuk buyback saham. Dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (15/10) disebutkan, hingga 30 September 2014 telah melakukan buyback saham sebanyak 13.320.400 lembar.

Sekretaris Perusahaan Pelayaran Nasional Bina Buana Raya, Peter menyebutkan, harga rata-rata buyback sebesar Rp130 per lembar dari periode 11 April-11 Juni 2014. Equity Securities Indonesia menjadi pelaksana dari buyback saham. Jumlah dana yang telah digunakan untuk pembelian kembali saham mencapai Rp1.731.714.000 dan sisa dana yang belum digunakan Rp44.268.286.000.

Sebelumnya BBRM mengumumkan rencananya untuk melakukan penawaran umum terbatas I (PUT I) atau "right issue" dalam rangka hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak 1,619 miliar saham. Setiap saham yang akan ditawarkan senilai Rp230 dengan total dana yang akan diperoleh sebanyak-banyaknya sebesar Rp372,563 miliar.

Setiap pemegang 100 saham yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada 25 Nopember 2014 mempunyai 43 HMETD, dimana setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru.

Sekitar 98% dana yang diperoleh dari PUT I itu akan dialokasikan untuk membiayai sebagian pembelian kapal penunjang lepas pantai terdiri atas tiga kapal dari Marco Polo Shipyard Pte Ltd dan lima kapal dari Nam Cheong International Limited. Kemudian, sekitar dua persen akan digunakan untuk meningkatkan modal kerja perseroan, antara lain pembiayaan pemeliharaan kapal dan biaya perizinan kapal baru.

Apabila saham-saham yang ditawarkan dalam PUT I itu tidak seluruhnya diambil atau dibeli oleh pemegang HMETD, sisanya akan dialokasikan kepada pemegang HMETD lainnya yang melakukan pemesanan lebih besar dari haknya sebagaimana tercantum dalam daftar pemegang HMETD.

Laba Bersih Terkoreksi

Hingga akhir kuartal tiga tahun ini, perseroan mencatat penurunan laba bersih sebesar 88,81% menjadi US$ 534.832 atau setara Rp6,42 miliar (kurs Rp12.000) dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 4,78 juta atau setara Rp57,36 miliar.

Disebutkan, anjloknya laba bersih perseroan akibat menurunnya pendapatan dan meningkatnya sejumlah beban. Pendapatan perseroan selama sembilan bulan tercatat sebesar US$ 25,03 juta atau setara Rp300,36 miliar, turun 7,73% dibanding September 2013 senilai US$ 27,13 juta ataua setara Rp325,56 miliar.

Menurunnya pendapatan perseroan ditambah meningkatnya beban langsung menjadi US$ 19,52 juta dari US$ 16,88 juta. Beban usaha perseroan juga melonjak menjadi US$ 2,34 juta dari US$ 1,55 juta, sedangkan pendapatan lainnya justru menurun menjadi US$ 214.673 dari US$ 279.872.

Kendati demikian, perseroan berhasil menekan beban lainnya menjadi US$ 281.194 dari US$ 735.376. Akibatnya, laba usaha perusahaan tercatat merosot menjadi US$ 3,1 juta dari periode yang sama tahun lalu mencapai US$ 8,25 juta. Laba usaha tersebut terpangkas biaya keuangan, yang berhasil dikurangi menjadi US$2,11 juta dari US$ 3,02 juta. Adapun total aset perusahaan per akhir September sebesar US$ 151,87 juta dengan total utang US$ 75,85 juta. Jumlah itu turun dibanding akhir tahun lalu, di mana aset perusahaan sebesar US$ 164,27 juta dengan utang US$ 88,76 juta. (bani)