Investor Berharap Besar Pemerintahan Jokowi

NAIKKAN BBM JADI KATALIS IHSG

Rabu, 15/10/2014

NERACA

Jakarta – Jelang pelantikan pemerintahan terpilih Jokowi dan Jusuf Kalla pada Senin pekan depan, banyak harapan dari pelaku ekonomi, nantinya momentum bersejarah tersebut bisa berjalan normal, aman dan terkendali. Tidak hanya itu, pemerintahan baru nantinya bisa berjalan normal sehingga tidak memberikan dampak buruk pada roda perekonomian dan termasuk sentiment negatif bagi industri pasar modal.

Oleh karena itu, meredam kekhawatiran dari pelaku pasar, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menjamin situasi keamanan jelang pelantikan Presiden terpilih Joko Widodo dan Wapres terpilih Jusuf Kalla akan berlangsung aman.

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari Schroder Investment Indonesia, Michael Tjoajadi, pelaku pasar modal diminta untuk tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi politik di dalam negeri karena pemerintahan baru nanti diyakini masih tetap memiliki ruang gerak untuk menerapkan kebijakannya,”Saat ini, investor cukup 'concern' dengan kondisi politik di dalam negeri, investor cenderung mengkhawatirkan bahwa DPR bisa membatasi ruang gerak pemerintahan baru nanti. Namun, saya melihat pemerintahan baru tetap mempunyai ruang gerak untuk menjalankan kebijakannya, dan kita tidak perlu takut," ujarnya di Jakarta, Selasa (14/10).

Menurut dia, presiden terpilih Joko Widodo-wapres Jusuf Kalla akan melaksanakan salah satu kebijakannya yakni menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada tahun ini. Jika kebijakan itu dilaksanakan, dirinya mengakui, Indonesia akan mengalami inflasi, namun hal itu memiliki efek jangka pendek.

Alasannya, kenaikan harga BBM subsidi itu akan positif untuk jangka panjang bagi makro ekonomi nasional, khususnya perbaikan neraca perdagangan dan percepatan pembangunan infrastruktur."Tetapi pemerintahan baru nanti perlu membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat. Dengan begitu, tak perlu khawatir dengan popularitas yang bakal merosot jika kebijakan itu diterapkan," ucapnya.

Michael Tjoajadi menambahkan bahwa jika kebijakan itu terealisasi maka pasar saham Indonesia akan lebih menarik atau atraktif dan memicu investor asing masuk ke Indonesia, dampaknya akan positif pada indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Tujuan investasi sementara itu, Global strategist Eastsrping Investments Ltd Robert Rountree mengatakan bahwa investor masih menilai kawasan Asia sebagai tujuan investasi. Saat ini, pasar modal Asia hanya terkena sentimen negatif dari negatifnya ekonomi dan kinerja pasar modal di Eropa dan Amerika Latin.

Padahal, menurut dia, negara-negara di kawasan Asia masih cukup positif, hal itu terlihat dari kinerja emiten-emiten di kawasan Asia yang mencatatkan pertumbuhan. Di Indonesia, kondisi perekonomiannya juga masih cukup baik. Hal itu terlihat dari masih banyaknya investasi yang berasal dari luar negeri."Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik, saya rasa Indonesia menjadi salah satu negara tujuan investor," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Head of Sales and Marketing First state Investment Harsya Prasetyo mengatakan bahwa nilai subsidi untuk BBM yang akan dikurangi, rencananya akan dialihkan ke sektor infrastruktur."Melihat kondisi itu, maka saham-saham yang masuk dalam sektor infrastruktur dan konstruksi akan menarik," katanya.

Kendati demikian, lanjut dia, pelaku pasar saham juga harus mencermati secara rinci kinerja emiten yang masuk dalam sektor itu, dan mencermati sentimen yang beredar di dalam negeri seperti kondisi politik.

Cermati Kabinet Baru

Selain itu, pelaku pasar modal juga mencermati susunan kabinet baru Jokowi untuk lima tahun kedepan. Pasalnya, saat ini pasar lebih menghendaki para kabinet pemerintahan baru berasal dari kalangan professional dan bukan titipan partai politik.

Kepala Riset Bahana Securities Harry Su pernah bilang, IHSG akan terus terdongkrak apabila formasi kabinet Jokowi sudah jelas,”Tantangan makroekonomi harus dicermati juga, misalnya harga BBM yang harus naik. Jika tidak naik, kondisi neraca perdagangan terus tertekan,”ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Riset Asjaya Indosurya William Surya Wijaya, tim ekonomi ideal adalah yang menguasai bidangnya masing-masing, entah itu profesional maupun pengusaha. Dirinya mewanti-wanti, tim ekonomi Jokowi-JK agar tidak ditunggangi kepentingan partai politik.

Pandangan yang sama juga disampaikan Presiden Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Lilis Setiado, sepekan dilantiknya presiden terpilih Jokowi dan Jusuf Kalla, banyak pelaku pasar modal berharap para kabinet mendatang berasal dari kalangan profesional dan politically safe untuk dapat mendukung program-program yang dicanangkan presiden ketujuh RI tersebut,”Setelah pelantikan presiden, investor berharap formasi kabinet betul-betul diisi orang dengan kemampuan terpercaya dan politically safe,”tandasnya.

Dia mengatakan, mengacu peta koalisi Jokowi-JK sebesar 37% versus koalisi partai oposisi sebesar 52% di parlemen, pelaku pasar khawatir kebijakan pemerintah tidak berjalan optimal menyusul harus mendapat persetujuan DPR.

Selain itu, investor juga menanti katalis positif lainnya seperti rencana kenaikan harga BBM subsidi. Investor tidak ingin kegagalan pemerintah sebelumnya yang menunda-nunda kenaikan BBM sehingga menyebabkan inflasi."Kenaikan BBM pada pertengahan tahun lalu merupakan momen terburuk karena bertepatan dengan puasa, pendaftaran sekolah dan Lebaran. Dampaknya inflasi selalu tinggi. Saya kira Oktober hingga November merupakan waktu yang pas untuk menaikan harga BBM karena inflasi relatif terkendali,”tegasnya.

Baik Lilis dan Michael Tjoajadi, keduanya menyakini pemerintah baru akan menaikan harga BBM di bulan November. Indikatornya, dana bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp 10 triliun sudah disahkan oleh DPR. Sosok Jokowi sebagai doers juga dipercaya mampu merealisasikan rencana kenaikan harga BBM sesegera mungkin."Pemerintah bisa menggunakan dana sisa Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun ini untuk menyiapkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai kompensasi kenaikan harga BBM, kita harap sih kenaikannya Rp 3.000," kata Lilis.

Mengakhiri perdagangam saham di Bursa Efek Indonesia, IHSG Selasa kemari, ditutup menguat naik tipis 9,529 poin (0,19%) ke level 4.922,582. Sementara Indeks LQ45 menguat tipis 3,041 poin (0,37%) ke level 831,344. Aksi beli didominasi investor lokal. Pelaku pasar asing masih melepas saham, transaksinya tercatat senilai Rp 435,162 miliar di seluruh pasar. (bani)