Lagi, Pelayaran Buana Raya Gelar Rights Issue - Beli Kapal Lepas Pantai

NERACA

Jakarta - PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM) akan melakukan penawaran umum terbatas I (PUT I) atau "right issue" dalam rangka hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak 1,619 miliar saham.

Dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (14/10), Sekretaris Perusahaan PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk, Peter mengatakan, setiap saham yang akan ditawarkan senilai Rp230 dengan total dana yang akan diperoleh sebanyak-banyaknya sebesar Rp372,563 miliar.

Dia mengemukakan bahwa setiap pemegang 100 saham yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal 25 Nopember 2014 mempunyai 43 HMETD, dimana setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru,”Sekitar 98% dana yang diperoleh dari PUT I itu akan dialokasikan untuk membiayai sebagian pembelian kapal penunjang lepas pantai terdiri atas tiga kapal dari Marco Polo Shipyard Pte Ltd dan lima kapal dari Nam Cheong International Limited,”ungkapnya.

Kemudian, lanjut dia, sekitar dua persen akan digunakan untuk meningkatkan modal kerja perseroan, antara lain pembiayaan pemeliharaan kapal dan biaya perizinan kapal baru. Kata Peter, apabila saham-saham yang ditawarkan dalam PUT I itu tidak seluruhnya diambil atau dibeli oleh pemegang HMETD, maka sisanya akan dialokasikan kepada pemegang HMETD lainnya yang melakukan pemesanan lebih besar dari haknya sebagaimana tercantum dalam daftar pemegang HMETD.

Selanjutnya, apabila setelah alokasi tersebut masih terdapat sisa saham yang ditawarkan dalam PUT I, maka Nam Cheong Pioneer Sdn Bhd akan mengambil bagian sisa saham yang tidak diambil dengan jumlah sebanyak-banyaknya 1,6 miliar saham dengan harga Rp230 per saham yang akan dilakukan dengan mata uang dolar AS, menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal 26 Nopember 2014.

Asal tahu saja, hingga akhir kuartal tiga tahun ini, perseroan mencatat penurunan laba bersih sebesar 88,81% menjadi US$ 534.832 atau setara Rp6,42 miliar (kurs Rp12.000) dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 4,78 juta atau setara Rp57,36 miliar.

Disebutkan, anjloknya laba bersih perseroan akibat menurunnya pendapatan dan meningkatnya sejumlah beban. Pendapatan perseroan selama sembilan bulan tercatat sebesar US$ 25,03 juta atau setara Rp300,36 miliar, turun 7,73% dibanding September 2013 senilai US$ 27,13 juta ataua setara Rp325,56 miliar.

Menurunnya pendapatan perseroan ditambah meningkatnya beban langsung menjadi US$ 19,52 juta dari US$ 16,88 juta. Beban usaha perseroan juga melonjak menjadi US$ 2,34 juta dari US$ 1,55 juta, sedangkan pendapatan lainnya justru menurun menjadi US$ 214.673 dari US$ 279.872.

Kendati demikian, perseroan berhasil menekan beban lainnya menjadi US$ 281.194 dari US$ 735.376. Akibatnya, laba usaha perusahaan tercatat merosot menjadi US$ 3,1 juta dari periode yang sama tahun lalu mencapai US$ 8,25 juta. Laba usaha tersebut terpangkas biaya keuangan, yang berhasil dikurangi menjadi US$2,11 juta dari US$ 3,02 juta. Adapun total aset perusahaan per akhir September sebesar US$ 151,87 juta dengan total utang US$ 75,85 juta. Jumlah itu turun dibanding akhir tahun lalu, di mana aset perusahaan sebesar US$ 164,27 juta dengan utang US$ 88,76 juta. (bani)

BERITA TERKAIT

SDPC Patok Rights Issue Rp 110 Per Saham

NERACA Jakarta - Emiten farmasi, PT Millennium Pharmacon International Tbk (SDPC) telah menetapkan harga pelaksanaan rights issue sebesar Rp 110…

BEI Gelar Roadshow Pasar Modal Ke Tiongkok - Bidik Lebih Banyak Investor Asing

NERACA Jakarta  - Meskipun penetrasi pasar modal di dalam negeri masih rendah, hal tersebut tidak membuat PT Bursa Efek Indonesia…

2020, Tak Ada Lagi Mata Pelajaran Matematika Di Negara Ini

      Matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang menakutkan bagi siswa di Indonesia. Tinta merah acap kali tersemat…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pendapatan BTEL Susut Jadi Rp 1,51 Miliar

Bisnis telekomunikasi milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus menyusut. Tengok saja, hingga periode 30 Juni 2017 meraih pendapatan sebesar…

Saham IPO ZINC Oversubscribed 500 Kali

Kantungi dana segar hasil peawaran umum saham perdan atau initial public offering (IPO), PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menyiapkan…

Hotel dan Residensial Beri Kontribusi - Penjualan PP Properti Proyeksikan Tumbuh 60%

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal dua bulan lagi, PT PP Properti Tbk (PPRO) terus bergerilya untuk memenuhi…