Kinerja Buana Finance Bakal Terkerek Naik

Berkah Positifnya Industri Pembiayaan

Rabu, 15/10/2014

NERACA

Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan industri pembiayaan di Indonesia masih akan tumbuh positif di sisa tahun ini di tengah melambatnya permintaan alat berat dan BI Rate yang relatif tinggi.

Analis Pefindo, Madjid Abdillah mengatakan, membaiknya prospek industri pembiayaan akan memberi imbas positif pada kinerja perusahaan pembiayaan alat berat dan kendaraan, PT Buana Finance Tbk (BBLD). Asal tahu saja, perusahaan pembiayaan di Indonesia pada semester I/2014 membukukan total pembiayaan Rp360,9 triliun, naik 12,5% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara sektor pembiayaan konsumen tercatat naik 12,9% menjadi Rp237 triliun, sewa guna usaha tumbuh 9,4% menjadi Rp115 triliun. Secara total, industri pembiayaan diperkirakan tumbuh 5%-10% pada akhir tahun ini. Adapun target penyaluran pembiayaan BBDL sebesar Rp1,5 triliun atau naik 7% dibanding tahun lalu, diperkirakan akan tercapai. "Kami yakin target tersebut dapat tercapai, mengingat per April 2014, perusahaan telah menyalurkan Rp800 miliar. Pembiayaan alat berat, khususnya di sektor konstruksi tetap menjadi penyumbang terbesar," ujar Madjid Abdilah dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Kendati demikian, menurut Madjid, BI Rate yang berada di level 7,5% memberikan tekanan lebih besar bagi perseroan karena harus menyesuaikan suku bunga kreditnya kepada pelanggan. Di samping itu, tekanan marjin diprediksi masih akan berlanjut. Pada enam bulan pertama tahun ini, biaya dana BBLD naik sebagai hasil penerbitan MTN, menyebabkan marjin penyempit. Akibatnya, marjin bersih perusahaan turun menjadi 20,4% dari 24,4% di periode yang sama tahun lalu. "Kami berharap merjin bersih masih di level 20% pada akhir tahun ini. Sementara dengan mempertimbangkan faktor sebelumnya, dikombinasikan dengan pembiayaan BBLD yang terdiversifikasi, kami percaya pendapatan akan tumbuh 5,58% pada akhir 2014,”kata dia.

Pefindo memprediksi, penjualan BBLD hingga penghujung tahun bisa mencapai Rp662 miliar, sedangkan tahun lalu senilai Rp627 miliar. Namun, laba bersih perusahaan diproyeksi turun 6,6% menjadi Rp127 miliar dibanding 2013 senilai Rp136 miliar. Sementara proyeksi saham perseroan selama 12 bulan, terendah berada pada level Rp1.060, dan tertinggi di level Rp1.115 per lembar.

Perseroan dalam memperkuat likuiditas untuk mendanai ekspansi bisnisnya, terus melakukan pinjaman perbankan. Belum lama ini, memperoleh pinjaman dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank) sebesar Rp200 miliar.

Direktur Utama PT Buana Finance Soetadi Limin mengatakan, kedua perusahaan telah melakukan penandatanganan perjanjian kredit. Adapun jangka waktu pinjaman selama 2,5 tahun,”Pinjaman tersebut memiliki jangka waktu 30 bulan, yang dijamin dengan piutang milik perseroan," kata dia. (bani)