Garuda Sisakan Dana IPO Rp 171,2 Miliar

Rabu, 15/10/2014

NERACA

Jakarta –Sampai dengan September 2014, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) masih menyisakan dana hasil penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) sebesar Rp171,279 miliar. Perseroan mengelaran IPO pada tahun 2011 silam dengan menghimpun dana bersih Rp2,55 triliun.

Dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (14/10), Direktur Keuangan Garuda Indonesia, Handrito Hardjono mengungkapkan, sisa dana IPO itu masih disimpan dalam deposito. Disebutkan, dana hasil IPO realisasi penggunaannya Rp2,08 triliun untuk pembayaran awal pembelian pesawat, security deposit terkait pengembangan armada Rp470,06 miliar, belanja modal perseroan Rp461,18 miliar dan belanja modal anak usaha Rp4,94 miliar.

Tak hanya dana hasil IPO yang masih tersisa, perseroan juga masih memiliki sisa dana right issue Rp133,11 miliar dari perolehan Rp1,45 triliun. Dana right issue itu sebagian sudah digunakan untuk pembayaran awal dan final pengembangan armada sebesar Rp1,02 triliun dan sewa pesawat Rp289,77 miliar.

Asal tahu saja, kinerja keuangan Garuda Indonesia masih dihantui potensi kerugian akibat pelemahan kurs rupiah terhadap nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS). Hal ini disebabkan karena biaya operasional Garuda Indonesia selama ini 70% menggunakan dollar AS.

Bahkan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar mengakui, kalau rupiah melemah, itu semua akan sangat berpengaruh pada kinerja karena pendapatan perseroan,”Garuda selama ini memakai rupiah untuk biaya operasional. Namun, selama nilai mata uang rupiah melemah dikhawatirkan bahwa kebutuhan Garuda tidak akan terpenuhi,”ungkapnya.

Emirsyah memaparkan, Garuda Indonesia tahun ini sudah mengumumkan bahwa depresiasi rupiah berdampak pada kinerja Garuda. Dengan catatan hampir 23% year on year, melemahnya rupiah pun berdampak pada kinerja mereka. Salah satunya akibat kenaikan harga avtur,”Upaya menaikkan harga tiket pun tidak bisa dilakukan lantaran harga tiket sudah ada platform-nya," kata Emirsyah.

Menteri BUMN Dahlan Iskan telah menginstruksikan kepada seluruh perusahaan milik negara yang memiliki pinjaman dalam bentuk dolar untuk melakukan "hedging" (lindung nilai) agar terhindar dari kerugian akibat gejolak kurs mata uang,”Semua BUMN yang punya pinjaman sudah saya imbau jangan takut melakukan `hedging`. Soalnya persoalan yang bikin takut menempuh `hedging` itu sudah diatasi," kata Dahlan.

Menurut Dahlan, selama ini ada kecenderungan manajemen BUMN takut melakukan lindung nilai karena bisa dianggap merugikan negara. Sepanjang semester pertama tahun ini, Garuda mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 211,7 juta, atau sekitar Rp2,3 triliun. Angka kerugian ini membengkak dibandingkan rugi bersih periode sama tahun lalu sebesar US$10,7 juta.

Maka menghindari potensi peningkatan kerugian lebih besar lagi, pada semester kedua tahun ini, manajemen Garuda Indonesia merencanakan beberapa langkah untuk bisa menekan angka kerugian perseroan, di antaranya dengan melakukan restrukturisasi rute. Disebutkan, rute-rute yang dianggap kurang menguntungkan bagi perseroan akan ditutup baik domestik maupun internasional. Ini sebagai salah satu cara menekan beban perseroan. Salah satu rute internasional yang ditutup diantaranya Mumbai dan Manila. Namun sebaliknya, rute –rute internasional yang menguntungkan tetap di buka.(bani)