RI-Jepang Kerjasama Cari Nilai Tambah Produk Karet

Rabu, 15/10/2014

NERACA

Jakarta – Indonesia yang diwakili oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan bersama dengan Japan Internasional Cooperation Agency melakukan kajian untuk mencari dan mengetahui nilai tambah yang dapat dihasilkan dari produk karet. “Kajian tersebut dilaksanakan untuk melihat kendala dan tantangan perdagangan ekspor karet,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Nus Nuzulia Ishak di Jakarta, Selasa (14/10).

Nus mengatakan produk karet memiliki nilai histori dan ekonomi yang sangat lekat di kehidupan masyarakat Indonesia. Produk olahan karet seperti sepatu, peralatan medis, ban kendaraan, hingga suku cadang kendaraan sangat banyak dipakai masyarakat. Meski demikian, selama ini bahan baku karet dalam jumlah besar telah diekspor tanpa mengalami pengolahan potensi lebih lanjut di dalam negeri, akibatnya keuntungan nilai tambah atas komoditi karet hanya dinikmati asing.

Dengan perkebunan karet mencapai 3,52 juta hektare, Indonesia merupakan negara yang memiliki kebun terluas sekaligus produsen karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand. "Melalui kajian tersebut diupayakan langkah kebijakan untuk mendorong dan meningkatkan nilai tambah produk karet di Indonesia," kata dia.

Ia berharap dengan nilai tambah yang bisa dikembangkan di dalam negeri akan memperbesar peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat. "Dari nilai tambah karet ini saja bisa meningkatkan lapangan usaha dan pendapatan masyarakat, akhirnya akan bermuara pada kesejahteraan rakyat," katanya.

Lebih jauh lagi, Nus menyatakan bahwa prospek pasar karet terus membaik seiring meningkatnya permintaan dunia atas produk karet. “Kita bisa ambil contoh dengan semakin meningkatnya penjualan kendaraan bermotor dan otomotif di Tiongkok dan India,” katanya. Nus mengatakan permintaan yang besar dan prospek karet yang cerah telah menarik perusahaan perkebunan Indonesia, seperti Astra Agro Niaga dan Sampoerna Agro untuk mulai mencari lahan mengembangkan perkebunan karet.

Sejumlah perusahaan kolaborasi asing-nasional, kata dia, saat ini juga tengah membangun perkebunan karet di Kalimantan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku karet alam perusahaan ban merek Achilles. Sementara itu produsen Petrokimia Indonesia, Chandra Asri Petrochemical, dan produsen ban asal Prancis, Compagnie Financiere Michelin juga telah mengumumkan rencana untuk mengembangkan tanaman karet sintetis di Indonesia pada awal 2015.

"Material sintetis sangat penting untuk memproduksi ban ramah lingkungan yang nilai investasinya mencapai empat ratus tiga puluh lima juta dolar Amerika," kata dia. Menurut sebuah laporan dari Freedonia Group, permintaan dunia untuk ban diperkirakan juga meningkat sebesar 4,7 persen per tahun. Sementara proyeksi produksi karet alam dunia diperkirakan mencapai 15,2 juta ton pada 2020.

Hilirisasi Karet

Belum lama ini, Dewan Karet Indonesia melakukan nota kesepakatan (MoU) dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terkait upaya mendorong hilirisasi karet lewat sentuhan teknologi. Plt Deputi Teknologi Informasi Energi dan Material BPPT Jumain Appe menjelaskan bahwa Indonesia perlu mendorong hilirisasi karet agar potensi karet Indonesia bisa diolah menjadi barang bernilai tambah, ketimbang karet mentah terus diekspor.

Karet merupakan salah satu komoditas hasil perkebunan yaang mempunyai peran cukup strategis dalam kegiatan perekonomian Indonesia. Sekitar 86 persen produksi karet alam Indonesia diekspor dan hanya sebagian kecil dikonsumsi di dalam negeri. Jumain mengatakan hampir industri industri terkait karet dikuasai negara lain. Ke depan melalui diskusi mendalam terkait pemanfaatan karet untuk otomotif atau produk lainnya. “Perlu ada upaya meningkatkan nilai tambah karet dan pengembangan industri karet," katanya.

Ketua Dewan Karet Indonesia A Aziz Pane mengaku gerah menangani karet yang potensinya besar di Indonesia tetapi tidak ada yang berguna. Produktivitas karet bisa mencapai 3 juta ton per tahun namun hanya 450.000 ton yang digunakan di dalam negeri, sisanya diekspor untuk industri ban di luar negeri.

Di banding negara lain, Malaysia misalnya menjadi produsen tunggal sarung tangan karet di dunia medis dan Thailand karet untuk celana dalam serta menjadi produsen tunggal di seluruh dunia. "Kita ingin mencari produk andalan karet kita penghasil karet nomor dua terbesar di dunia setelah Thailand," ucapnya. Maka dari itu, penelitian secara berkelanjutan harus dilakukan terus-menerus agar industri hulu crumb rubber memiliki efisiensi yang tinggi.

Gabungan Pengusaha Karet Indonesia memperkirakan pengapalan karet alam Indonesia pada tahun ini naik tipis 4,25% atau 100.000 ton menjadi 2,45 juta ton. Peningkatan ekspor karet tersebut disebabkan oleh adanya peningkatan produksi karet tahun ini 8,88% menjadi 2,94 juta ton dibandingkan dengan tahun lalu 2,70 juta ton. Sementara itu, kebutuhan karet domestik hanya 460.000 ton naik 4,78% dibandingkan dengan kebutuhan karet lokal pada tahun lalu 439.000 ton.