Pengetahuan Masyarakat akan Katarak Masih Rendah

Sabtu, 18/10/2014
Pengetahuan Masyarakat Mengenai Penyakit Katarak Masih Rendah Penderita Katarak Terus Meningkat Neraca Saat ini kasus kebutaan di Indonesia mencapai angka 3,6 juta dan 70% diantaranya disebabkan oleh katarak. Jumlahnya diprediksi akan bertambah 120.000 orang per tahunnya. Kasus kebutaan akibat katarak sebagian besar (43%) disebabkan karena penderita tidak memiliki kemampuan atau akses untuk menjalani operasi dan 25% lainnya tidak memahami bahwa kebutaan ini dapat di cegah. "Kondisi kesehatan mata di Indonesia yang masih memperingati ini menjadi alasan JEC untuk terus memberikan edukasi tentang kesehatan mata dan melakukan operasi katarak gratis," tutur Dr. Darwan M. Purba, presiden direktur JEC Korporat. JEC sebagai rumah sakit spesialis mata pertama dan satu-satunya di Indonesia yang telah mendapatkan akreditasi standar internasional dari Joint Commission Internasional (JCI), kami menerapkan pelayanan dengan standar internasional dan penggunaan teknologi. "Saat ini penyakit kataraka menjadi masalah sosial di Indonesia karena saat ini penyakit katarak sudah menepati peringkat ketiga di Indonesia. Katarak terus muncul setiap tahun walau tidak terlalu tinggi setiap tahunnya," tutur Dr. Purba. Saat ini kemajuan teknologi dunia kedokteran khususnya bidang mata sudah mengalami kemajuan yang cukup luar biasa. "Saat ini operasi katarak tidak menggunakan pisau namun saat ini sudah memakai laser, dengan menggunakan laser proses operasi lebih cepat dengan hanya membutuhkan waktu 10 menit," tuturnya. Melihat hal ini JEC terus melakukan program CSR untuk membantu masyarakat yang tidak mampu dengan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melakukan kegiatan ini. Selain operasi katarak gratis, JEC juga menyelenggarakan seminar publik “Katarak Dapat Menyebabkan Kebutaan!” sebagai edukasi bagi masyarakat tentang bahaya penyakit katarak serta cara pencegahan dan pengobatannya. Pada seminar yang berlangsung tanggal 18 Oktober 2014, peserta berkesempatan mendapat layanan pemeriksaan (screening) kesehatan mata untuk pendeteksian dini penyakit katarak. Rangkaian kegiatan ini tentu saja bertujuan menekan jumlah penderita katarak dan menurunkan angka kebutaan di Indonesia yang disebabkan oleh katarak. Demi memberikan kualitas layanan kesehatan mata terbaik, JEC selalu menerapkan prosedur berstandar internasional dalam pelaksanaan tindakan operasi, mulai dari tahap pra, intra hingga pasca operasi. Selain kekuatan sumber daya manusia seperti tim dokter dan perawat yang teruji di bidangnya, juga fasilitas/peralatan yang memenuhi standar steril dan higienitas, JEC secara konsisten menerapkan teknologi mutakhir demi memberikan layanan terdepan. “Dalam pelaksanaan operasi katarak hari ini, JEC telah menerapkan pelayanan dengan standar internasional dan penggunaan teknologi operasi katarak terkini. Proses operasi hanya memerlukan waktu sekitar 15-20 menit per mata dan masa penyembuhan berlangsung lebih cepat dibandingkan metode konvensional,” papar Dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM, Direktur Medik JEC.

Neraca

Saat ini kasus kebutaan di Indonesia mencapai angka 3,6 juta dan 70% diantaranya disebabkan oleh katarak. Jumlahnya diprediksi akan bertambah 120.000 orang per tahunnya. Kasus kebutaan akibat katarak sebagian besar (43%) disebabkan karena penderita tidak memiliki kemampuan atau akses untuk menjalani operasi dan 25% lainnya tidak memahami bahwa kebutaan ini dapat di cegah.

"Kondisi kesehatan mata di Indonesia yang masih memperingati ini menjadi alasan JEC untuk terus memberikan edukasi tentang kesehatan mata dan melakukan operasi katarak gratis," tutur Dr. Darwan M. Purba, presiden direktur JEC Korporat.

JEC sebagai rumah sakit spesialis mata pertama dan satu-satunya di Indonesia yang telah mendapatkan akreditasi standar internasional dari Joint Commission Internasional (JCI), kami menerapkan pelayanan dengan standar internasional dan penggunaan teknologi.

"Saat ini penyakit kataraka menjadi masalah sosial di Indonesia karena saat ini penyakit katarak sudah menepati peringkat ketiga di Indonesia. Katarak terus muncul setiap tahun walau tidak terlalu tinggi setiap tahunnya," tutur Dr. Purba.

Saat ini kemajuan teknologi dunia kedokteran khususnya bidang mata sudah mengalami kemajuan yang cukup luar biasa. "Saat ini operasi katarak tidak menggunakan pisau namun saat ini sudah memakai laser, dengan menggunakan laser proses operasi lebih cepat dengan hanya membutuhkan waktu 10 menit," tuturnya.

Melihat hal ini JEC terus melakukan program CSR untuk membantu masyarakat yang tidak mampu dengan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melakukan kegiatan ini.

Selain operasi katarak gratis, JEC juga menyelenggarakan seminar publik “Katarak Dapat Menyebabkan Kebutaan!” sebagai edukasi bagi masyarakat tentang bahaya penyakit katarak serta cara pencegahan dan pengobatannya. Pada seminar yang berlangsung tanggal 18 Oktober 2014, peserta berkesempatan mendapat layanan pemeriksaan (screening) kesehatan mata untuk pendeteksian dini penyakit katarak. Rangkaian kegiatan ini tentu saja bertujuan menekan jumlah penderita katarak dan menurunkan angka kebutaan di Indonesia yang disebabkan oleh katarak.

Demi memberikan kualitas layanan kesehatan mata terbaik, JEC selalu menerapkan prosedur berstandar internasional dalam pelaksanaan tindakan operasi, mulai dari tahap pra, intra hingga pasca operasi. Selain kekuatan sumber daya manusia seperti tim dokter dan perawat yang teruji di bidangnya, juga fasilitas/peralatan yang memenuhi standar steril dan higienitas, JEC secara konsisten menerapkan teknologi mutakhir demi memberikan layanan terdepan.

“Dalam pelaksanaan operasi katarak hari ini, JEC telah menerapkan pelayanan dengan standar internasional dan penggunaan teknologi operasi katarak terkini. Proses operasi hanya memerlukan waktu sekitar 15-20 menit per mata dan masa penyembuhan berlangsung lebih cepat dibandingkan metode konvensional,” papar Dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM, Direktur Medik JEC.