Jebakan Strategi Pertumbuhan

Selasa, 14/10/2014

Jika kita mengamati pertumbuhan ekonomi nasional dalam dekade terakhir, terlihat sebagian besar didominasi oleh sektor non-tradable, konsumsi, impor, dan ekspor komoditas mentah. Artinya, bukan dari investasi sektor riil tradable. Sejumlah industri unggulan yang sejak Orde Baru menjadi andalan perekonomian nasional, seperti tekstil, automotif, dan elektronik, ternyata sebagian besar bahan baku dan bahan penolongnya berasal dari impor yang sangat rawan terhadap fluktuasi ekonomi global.

Yang lebih miris lagi, sejak diberlakukannya CAFTA (China-ASEAN Free Trade Agreement), volume dan nilai impor migas, tekstil, elektronik, dan produk pangan pun terus membengkak. Inilah yang menyebabkan defisit neraca perdagangan selama beberapa tahun terakhir, dan defisit transaksi berjalan hingga kuartal II-2014 masih US$4,8 miliar, atau 2,3% dari PDB. Ini risiko pertumbuhan ekonomi terlalu mengandalkan pada konsumsi, sektor non-tradable, dan investasi portofolio,

Adalah kekeliruan pemerintah dalam mengembangkan sterategi pertumbuhan ekonomi telah menyebabkan rendahnya kapasitas produksi dan daya saing nasional. Akibat dari kapasitas produksi nasional yang lebih rendah ketimbang laju konsumsinya, dan daya saing bangsa yang rendah, maka setelah tumbuh cukup tinggi di atas 6% selama 2010–2012, sejak awal tahun lalu mesin perekonomian Indonesia mulai kepanasan. Pada 2013, ekonomi hanya tumbuh 5,7% dari target 6,4%, dan tahun ini diperkirakan 5,2%-5,5% (menurut versi Bank Dunia).

Jika kita tidak segera melakukan perubahan mendasar dalam struktur ekonomi dan industri nasional, dan dalam hal etos kerja, maka bukan mustahil Indonesia bakal terjebak dalam middle-income trap. Artinya, Indonesia tidak bisa menjadi negara maju, adil-makmur, dan berdaulat. Oleh karena itu, tantangan utama bagi presiden terpilih adalah bagaimana mengeluarkan Indonesia dari jebakan negara berpendapatan menengah.

Bagaimana jalan keluar supaya tidak terperangkap middle-income trap? Ya, kita harus melakukan strategi pembangunan ganda secara simultan. Pada jalur pertama, dalam jangka pendek sampai menengah (1- 5 tahun), Indonesia harus menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi rata-rata di atas 8% per tahun yang dapat menyerap banyak tenaga kerja, dengan pendapatan rata-rata sedikitnya US$7.250 (pendapatan minimal) dan tersebar secara proporsional di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara berkesinambungan.

Ini sangat mungkin kita realisasikan dengan meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan daya saing sektor-sektor ekonomi SDA (pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan, ESDM, dan pariwisata) secara berkeadilan dan ramah lingkungan. Melakukan ekstensifikasi dan diversifikasi sektor ekonomi SDA berbasis inovasi ramah lingkungan, terutama di luar Jawa dan Bali. Selain itu, kita harus melaksanakan revitalisasi industri manufaktur yang selama ini menjadi unggulan nasional.

Saat ini PDB per kapita Indonesia baru US$3.500 alias negara berpendapatan menengah ke bawah. Na, syarat untuk naik kelas dari negara berpendapatan menengah ke berpendapatan tinggi, kita harus mampu meningkatkan PDB per kapita sedikitnya US$4.831 dalam 16 tahun ke depan (2030). Pengalaman empiris dari semua negara yang berhasil naik kelasdari negara berpendapatan menengah ke berpendapatan tinggi, adalah mereka mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi rata-rata di atas 7% per tahun dan berkualitas dengan indikator mampu menyerap banyak tenaga kerja dengan rata-rata pendapatan lebih besar dari US$10.000 dalam waktu minimal 5 tahun.

Karena itu, pada tataran makro, kondisi pertumbuhan ekonomi semacam itu mereka raih dengan cara mengembangkan daya saing ekonomi nasional berbasis inovasi, SDM berkualitas, dan memanfaatkan SDA yang dimilikinya secara berkesinambungan. Sedangkan di tataran mikroekonomi, pemerintah membangun infrastruktur, suplai energi, kemudahan berbisnis, dan iklim investasi yang kondusif bagi tumbuh kembangnya perusahaan-perusahaan swasta, BUMN, koperasi, atau unit-unit bisnis UKM berkelas dunia. Semoga pemerintahan baru nanti memikirkan strategi pertumbuhan ini!