Realistis, Patokan Minyak Di RAPBN 2012

Jumat, 26/08/2011

NERACA

Jakarta----Harga minyak mentah Indonesia yang diajukan pemerintah dalam RAPBN 2012 sebesar 90 dolar AS per barel kelihatannya cukup realistis. Alasanya kecenderungan harga minyak sekarang ini berada di bawah 100 dolar AS per barel. “Jadi asumsi ICP (Indonesia crude price) 90 dolar AS per barel, saya kira cukup realistis," kata Wakil Direktur ReforMiner Institut, Komaidi di Jakarta,25/8.

Menurut Komaidi, salah satu penyebab turunnya harga minyak dunia adalah faktor krisis utang di AS dan merembet ke kawasan Eropa. Ini telah memberi sentimen penurunan harga minyak dunia. Di tambah lagi rezim Muamar Gaddafi di Libya yang diambang kejatuhan. "Suplai minyak akan bertambah dari Libya, sehingga menekan harga minyak," tambahnya.

Sementara, dari sisi permintaan, menurut Komaidi, krisis yang melanda dunia pada 2008, secara berangsur-angsur sudah menuju ke arah pemulihan, sehingga meningkatkan kebutuhan. "Dari kombinasi kedua sisi baik penawaran maupun permintaan itu, asumsi sebesar 90 dolar AS per barel, saya kira cukup realistis," ujarnya.

Kecuali, tambahnya, jika terjadi kondisi di luar dugaan seperti krisis di kawasan Timur Tengah pada tahun ini yang meningkatkan harga minyak hingga di atas 100 dolar AS per barel, maka harga minyak diprediksi stabil pada 90-95 dolar AS per barel.

Lebih jauh Komaidi menambahkan penetapan asumsi produksi minyak mentah sebesar 950.000 barel per hari, mesti dibarengi konsistensi pemerintah mencapai target tersebut.

"Di tengah penurunan produksi secara alamiah dan ketiadaan proyek baru berskala besar, produksi 950.000 barel per hari mesti dicapai melalui kerja keras," ujarnya.

Pada bagian lain, Komaidi menyoroti anggaran subsidi BBM pada tahun anggaran 2012. Menurut Komaidi, meski asumsi belanja subsidi BBM dalam RAPBN 2012 menurun dibandingkan APBN Perubahan 2011, namun penurunan itu lebih dikarenakan asumsi ICP yang diusulkan juga turun dari 95 dolar ke 90 dolar AS per barel.

Sementara, volume BBM bersubsidi yang diusulkan relatif tetap. "Dengan mengasumsikan ICP yang sama yakni 95 dolar AS per barel, maka sebenarnya anggaran subsidi 2012 lebih tinggi dibandingkan 2011," katanya.

Karenanya, ia mengharapkan, pemerintah segera melakukan kebijakan BBM bersubsidi, baik melalui pengaturan distribusi ataupun kenaikan harga. "Pemerintah mestinya fokus mengatur atau menaikkan harga BBM, ketimbang menaikkan tarif listrik pada tahun 2012," katanya.

Dikatakan Komaidi, pengurangan subsidi listrik masih bisa dilakukan melalui cara lain ketimbang kenaikan tarif, seperti pemenuhan pasokan gas dan penyelesaian proyek 10.000 MW. Selain juga, lanjutnya, pembenahan target sasaran subsidi BBM lebih mendesak dilakukan dibandingkan listrik yang relatif sudah lebih tepat sasaran. **cahyo