Wirausaha "Hijau" Jadi Tantangan Pebisnis

Selasa, 14/10/2014

NERACA

Jakarta–Global Environmental Facility–Small Grand Programme (GEF-SGP) kembali menggelar Festival Teras Mitra yang tahun ini memasuki tahun ketiga dan akan diikuti oleh 45 komunitas- “para pahlawan lokal lingkungan”- dari berbagai pelosok Indonesia, pada 14-16 Oktober di, Hotel Atanaya, Kuta, Bali.

Terasmitra merupakan ajang berjejaring para pelaku usaha komunitas yang menjalankan usahanya dengan pendekatan lingkungan. Terasmitra juga diharapkan menjadi jembatan penghubung cerita komunitas wirausaha kepada masyarakat yang lebih luas agar mereka menjadi lebih peduli dan memiliki komitmen terhadap isu-isu lingkungan dan mewujudkan kepeduliannya dengan melakukan kegiatan dan program bersama Terasmitra atau mitra-mitra SGP Indonesia. Festival ketiga ini diperkirakan akan diikuti sekitra 300 orang.

“Inisiatif kelompok masyarakat yang menggabungkan unsur wirausaha dan lingkungan memegang peranan penting untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, yang efektif untuk dimulai dari wilayah yang paling kecil, yaitu ruang lingkup masing-masing terlebih dahulu. Selanjutnya, kesempatan untuk mengembangkan wirausaha ke dalam tingkatan yang lebih luas dan masuk ke persaingan pasar menjadi tantangan mereka selanjutnya,” ujar Koordinator Nasional GEF-SGP Indonesia, Catharina Dwihastarini dalam siaran pers yang dikutip di Jakarta, Senin.

Ditambahkannya, di Indonesia sendiri, kewirausahaan sosial banyak digerakan oleh komunitas ataupun perkumpulan masyarakat yang bersama-sama membentuk unit usaha untuk memperbaiki kondisi sosial seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan , dan lain sebagainya. Kewirausahaan sosial merupakan titik tengah antara aktivisme sosial dengan aktivisme ekonomi. Kemunculannya dalam satu dekade terakhir telah menepis anggapan bahwa dalam bisnis hampir mustahil berbuat sesuatu yang bersifat sosial. Begitu juga sebaliknya, kerja sosial itu hampir tidak mungkin mendapatkan manfaat ekonomi.

“Mendapatkan manfaat ekonomi dari alam tanpa merusak alam, telah dibuktikan oleh mitra kami yang kini meramaikan Festival ini. Hingga sekarang jika mereka mendapatkan keuntungan dari “bisnis” mereka, selalu dikembalikan untuk perbaikan dan kelestarian alam kembali. Sehingga alam pun membalas dengan memberikan kebaikan kembali kepada yang merawat dan melestarikannya,” tambah Catharina lagi.

Sementara itu Direktur PPLH (Pusat Penelitian Lingkungan Hidup) Bali, Catur Yuda Hariani, menambahkan, Festival Teras Mitra di Bali, diharapkan bisa memberikan pembelajaran dari komunitas lainnya dalam meningkatkan kualitas “perjuangan,” berjejaring dan juga mengembangkan ide kreatif bagi lingkungan yang lebih baik lagi, sehingga bisa diterima masyaakat.

“Pengembangan budaya perilaku atau mengubah cara perilaku dan cara pandang masyarakat serta pengambil kebijakan dalam hal melihat memperbaiki alam justru membawa keuntungan secara ekonomi dan bukan menjadi beban ekonomi adalah bagian penting dari upaya usaha komunitas yang tengah dikembangkan ini,” jelas Catur.

Senada juga diungkapkan oleh Adinindyah dari Lawe (Lawe bahasa Jawa artinya serat kain) Yogyakarta, memperlakukan nilai budaya dan alam menjadi produk dengan rasa kepedulian yang tinggi justru memberikan nilai tinggi bagi produk yang dihasilkan. “Semua kain dan tenun yang kami temukan di Indonesia, menggunakan bahan alami asli dengan motif-motif yang dibuat tidak sembarangan. Ada sejarah di sana. Itu yang membuat nilainya tinggi, dan kita harusnya bangga karena hal ini,” tandas Adinindyah yang memiliki Amri Museum and Art Galler.

Selain PPLH dan Lawe yang akan terlibat dalam Festival ada juga para perempuan Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur dalam melestarikan tenun dan tradisi mereka dengan menggunakan pewarna alam. Yayasan Tafean Pah (membangun dunia), yang dipelopori oleh Mama Yovita Meta, menggunakan tradisi tenun ikat yang sangat mengakar pada masyarakat Biboki untuk mengangkat kaum perempuan dari permasalahan kemiskinan. penenun Biboki yang termasuk dalam Yayasan Tafean Pah memiliki ciri khas tersendiri. Ketika banyak penenun sudah mulai mengganti benang kapas mereka dengan benang industri yang jauh lebih mudah mengolahnya, para penenun Biboki tetap konsisten membuat benang dari kapas yang dihasilkan kebun-kebun mereka. Selain itu, pewarna alam juga masih digunakan meskipun serbuan perwarna kimia kian gencar. Produk tenun Biboki yang digawangi Yayasan Tafean Pah adalah produk organik yang memanfaatkan keanekaragaman hayati lokal. Sehingga produk tersebut ramah lingkungan, dan kini termasuk diminati pembeli dari mancanegara yang keuntungannya bisa digunakan untuk kelestarian tanaman dan juga para mama pembuat tenun.