Dongkrak Premi, Allianz Bidik Pelancong Indonesia

Produk Asuransi Perjalanan Rendah

Selasa, 14/10/2014

NERACA

Jakarta - PT Asuransi Allianz Utama mencatat kontribusi premi dari produk asuransi perjalanan (travel insurance) masih rendah, yakni di bawah 10% dari total produk premi perusahaan. Kepala Bidang Kecelakaan Diri, Perjalanan, dan Kesehatan Asuransi Allianz Utama, Mariani Solihah di Jakarta, Senin (13/10) mengatakan, pada beberapa tahun mendatang, perusahaan berharap kontribusi premi dapat meningkat hingga 100% per tahunnya.

"Bisa meningkat dua atau tiga kali lipat per tahunnya," kata Mariani. Harapan peningkatan kontribusi premi itu juga tak lepas dari potensi sektor pariwisata Indonesia, yang menurut Mariani, akan terus meningkat dengan pertumbuhan di kisaran delapan persen. Pada 2008-2012, Allianz mencatat pertumbuhan pelancong sebesar 8,5% per tahun.

Pada 2012, terdapat 7,6 juta pelancong Indonesia yang berkunjung ke luar negeri. Dia menjelaskan, perusahaan baru merilis produk asuransi perjalanan sejak 2013 lalu. Namun, pihaknya mengklaim sudah berada di tiga teratas dalam persaingan produk asuransi perjalanan di Indonesia.

Perusahaan juga masih mengandalkan pemegang polis dari segmen ritel. Mariani mengakui penetrasi produk asuransi perjalanan masih minim terhadap industri parawisata Indonesia. Berdasarkan data Allianz, dari 7,6 juta pelancong Indonesia ke luar negeri, hanya lima persen atau sebanyak 380 ribu pelancong yang memiliki produk asuransi perjalanan.

Mariani juga mengungkapkan, data tersebut menunjukkan masih banyak pelancong dari Indonesia yang belum sadar tentang risiko-risiko perjalanan dan cara menanggulangi dampak buruknya. "Lima persen itu juga karena diminta syarat agar bisa memperoleh visa," kata dia.

Menurut Mariani, berdasarkan data tersebut, mayoritas pelancong memiliki ekspektasi tinggi terhadap perjalanan yang dilakukan. Namun, ekspektasi tersebut mengalahkan antisipasi untuk lebih waspada terhadap berbagai risiko perjalanan.

Premi terjangkau

Dia menilai asuransi perjalanan dengan premi yang terjangkau, di kisaran Rp36.550-Rp134 ribu untuk liburan jangka pendek ke berbagai tempat, seharusnya dapat menjadi pilihan pelancong untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk dari perjalanan.

Menurut Mariani, terdapat beberapa resiko perjalanan yang paling sering terjadi menimpa pelancong. Risiko itu kini dapat ditanggung oleh berbagai produk asuransi perjalanan.

Risiko pertama, yang paling sering menimpa pelancong, adalah pembatalan perjalanan. Produk asuransi, kata dia, dapat menanggung uang pengembalian harga tiket yang tidak dapat diminta oleh nasabah atau tertanggung terhadap agen perjalanan atau perusahaan transportasi.

Kemudian, ujar Mariani, adalah risiko kehilangan barang, seperti yang sering terjadi di bandara. Produk asuransi perjalanan biasanya menanggung biaya kerugian dari kehilangan itu, meskipun terdapat batas tertentu. "Sama halnya dengan kehilangan dokumen-dokumen penting, seperti paspor, pihak asuransi akan berusaha menanggung dampak dari kehilangan dokumen itu," ujarnya.

Risiko yang paling mengerikan bagi pelancong, ujar Mariani, adalah kecelakaan atau sakit saat perjalanan. "Bayangkan, jika Anda harus mengeluarkan biaya berobat dalam mata uang asing. (Sakit) Karena salah makan saja di Amerika Serikat, traveler (pelancong) bisa habis Rp20 juta," katanya.

Mariani menuturkan, produk asuransi perjalanan dapat dengan mudah diperoleh di agen perjalanan, atau langsung ke perusahaan asuransi yang bersangkutan. Beberapa maskapai penerbangan, sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77/2010, juga telah menerapkan manfaat proteksi dalam perjalanan.

Namun, kata Mariani, manfaat proteksi yang diterapkan pemerintah terbatas, atau hanya dalam waktu perjalanan. Sedangakn risiko saat sedang di tempat tujuan perjalanan tidak ditanggung oleh asuransi pemerintah.

"Makanya produk travel insurance (asuransi perjalanan) itu sangat penting, apalagi sekarang 'traveling' sedang marak," ujarnya. Beberapa perusahaan asuransi yang memiliki produk asuransi perjalanan, di antaranya adalah Allianz, AIG Insurance Indonesia (AIG Indonesia) dan Sinarmas.

Klaim terbanyak

PT Asuransi Allianz Utama mencatat total klaim penangguhan untuk produk asuransi perjalanan (travel insurance) sebesar Rp1,83 miliar atau US$150 ribu hingga September 2014. Total klaim secara nilai paling banyak untuk menanggung beban biaya masalah medis tertanggung.

"Paling tinggi, pernah ada yang mencapai US$60 ribu akibat beban medis," paparnya. Sedangkan secara frekuensi, klaim yang ditagih nasabah paling banyak karena kerugian akibat ketidaknyamanan perjalanan, seperti keterlembatan penerbangan, kehilangan tas perjalanan dan lainnya.

Allianz mengandalkan jaringan globalnya dalam Allianz Global Assitance yang mencakup 182 negara dan 400 ribu rumah sakit di dunia untuk menanggung risiko-risiko tertanggung atau nasabah. "Jika tidak termasuk jaringan, nasabah tertanggung juga tinggal menghubungi Allianz, dan perusahaan akan menanggung beban nasabah di rumah sakit yang dirujuk," tukas Mariani. [retno]