Kinerja Garuda Indonesia Kembali Rapuh

Terancam Rugi Akibat Kurs

Selasa, 14/10/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada pekan ini ditutup menguat di level Rp12.200 per USD. Namun pelemahan nilai tukar rupiah, menjadi kekhawatiran bagi para pelaku usaha lantaran bakal memicu membengkaknya nilai investasi dan termasuk menggerus keuntungan.

Hal ini pula yang diakui Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), Emirsyah Satar, Garuda berpotensi mengalami kerugian akibat melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dollar AS. Hal ini disebabkan karena biaya operasional Garuda Indonesia selama ini 70% menggunakan dollar AS,”Kalau rupiah melemah, itu semua akan sangat berpengaruh pada kinerja karena pendapatan kita," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Emirsyah memaparkan, Garuda selama ini juga memakai rupiah untuk biaya operasional. Namun, selama nilai mata uang rupiah melemah, Emirsyah khawatir bahwa kebutuhan Garuda tidak akan terpenuhi."Tidak akan cukup untuk menutupi kebutuhan kita terhadap dollar AS," papar Emirsyah.

Dirinya menegaskan, Garuda Indonesia tahun ini sudah mengumumkan bahwa depresiasi rupiah berdampak pada kinerja Garuda. Dengan catatan hampir 23 persen year on year, melemahnya rupiah pun berdampak pada kinerja mereka. Salah satunya akibat kenaikan harga avtur,”Upaya menaikkan harga tiket pun tidak bisa dilakukan lantaran harga tiket sudah ada platform-nya," ujar Emirsyah.

Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan telah menginstruksikan kepada seluruh perusahaan milik negara yang memiliki pinjaman dalam bentuk dolar untuk melakukan "hedging" (lindung nilai) agar terhindar dari kerugian akibat gejolak kurs mata uang,”Semua BUMN yang punya pinjaman sudah saya imbau jangan takut melakukan `hedging`. Soalnya persoalan yang bikin takut menempuh `hedging` itu sudah diatasi," kata Dahlan.

Menurut Dahlan, selama ini ada kecenderungan manajemen BUMN takut melakukan lindung nilai karena bisa dianggap merugikan negara. Sepanjang semester pertama tahun ini, Garuda mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 211,7 juta, atau sekitar Rp2,3 triliun. Angka kerugian ini membengkak dibandingkan rugi bersih periode sama tahun lalu sebesar US$10,7 juta.

Maka menghindari potensi peningkatan kerugian lebih besar lagi, pada semester kedua tahun ini, manajemen Garuda Indonesia merencanakan beberapa langkah untuk bisa menekan angka kerugian perseroan, di antaranya dengan melakukan restrukturisasi rute. Disebutkan, rute-rute yang dianggap kurang menguntungkan bagi perseroan akan ditutup baik domestik maupun internasional. Ini sebagai salah satu cara menekan beban perseroan. Salah satu rute internasional yang ditutup diantaranya Mumbai dan Manila. Namun sebaliknya, rute –rute internasional yang menguntungkan tetap di buka.

Selain itu, efisiensi yang terus dilakukan adalah peremajaan armada pesawat yang sudah tua dan boros bahan bakar,”Pesawat-pesawat lama yang mau kita pakai lebih panjang, kita cepat jual, kita kuatkan. (Pembelian pesawat baru) schedule-nya tetap tapi yang lama-lama yang kita mau perpanjang tidak kita perpanjang. Kita tutup, kita kurangi, dan ekspansi kita kurangi,”kata Dirut Garuda Indonesia, Emirsyah Satar. (bani)