Graha Layar Prima Belum Gunakan Dana IPO

Selasa, 14/10/2014

NERACA

Jakarta - PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) melaporkan hingga akhir September belum menggunakan dana IPO. Dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (13/10), Sekretaris Perusahaan Graha Layar Prima Arum Pusparini mengungkapkan, perseroan telah berhasil meraih dana sebesar Rp223.231.200.000 dari IPO dan setelah dikurangi biaya penawaran umum Rp5.276.169.385 perseroan meraih hasil bersih Rp217.955.030.600.

Sisa dana IPO tersebut kini berada beberapa bank dalam bentuk giro sebesar Rp17.955.030.61 dengan bunga 6% per tahun, sebesar Rp100.000.000.000 dalam bentuk deposito sebulan dengan bunga 10% dan Rp100.000.000 dalam deposito 3 bulanan dengan bunga 10,25%.

Asal tahu saja, tahun ini hingga kedepan perseroan terus agresif dengan menambah bioskop baru di kota-kota besar. Komisaris Utama Blitz, Brata Nata pernah bilang, pihaknya berencana melakukan ekspansi di tujuh kota. Tahun ini ditargetkan selesai dua bioskop baru di Bandung dan Yogyakarta,”Rencananya akhir Agustus selesai atau paling lambat awal September, lokasinya di Miko Mall," ujarnya.

Dia menjelaskan, ekspansi daerah yang dilakukan perseroan akan menggunakan dana IPO yang berjumlah Rp223.231.200.000. Pada bioskop yang akan dibuka di Miko Mall, terdapat tujuh screen yang nilai investasinya sekitar Rp21 miliar- Rp 28 miliar."Di Bandung kita sudah punya di wilayah Utara, yang mau kita bangun ini di Wilayah selatan, jadi agak jauh, kita tidak mau buka bioskop tapi saling berdekatan," katanya.

Selain di Bandung dan Yogyakarta, daerah incaran Blitz lainnya antara lain, Balikpapan, Medan, dan Bogor. Sebagai informasi, perseroan lebih tertarik untuk mengembangkan usahanya di kota-kota kedua dengan alasan kota Jakarta sudah terlalu banyak bioskop,”Menurut kita market di Jakarta sudah begitu banyak, kita lihat di kawasan Casablanka saja sudah berderet tiga bioskop. Buat kita, punya di Grand Indonesia (GI) sudah cukup, karena GI termasuk landmark,”kata Brata Nata.

Harga tiket bioskop di Pontianak mencapai Rp60.000. Berangkat dari situ, Brata merasa masyarakat di daerah haus dengan hiburan seperti film. "Kita lihat harga tiket mahal, bioskop jarang, ini yang membuat kita ingin melakukan ekspansi ke sana, mereka butuh entertaiment semacam ini," paparnya.

Menurutnya, bioskop itu bisnis yang hanya menyediakan ruangan saja, konten atau film diatur oleh LSF. "Kita merasa Indonesia harus lebih besar, banyak provinsi yang masih kurang untuk hiburan film, banyak protes dari produser dan pemain fil karena kekurangan tempat untuk menayangkan film mereka," terangnya.

Kebangkitan film Indonesia juga menjadi hal pendorong bagi BLTZ untuk melakukan pengembangan usaha. Mengenai investasi dirinya menyebutkan satu bioskop nilai investasinya sekitar US$ 3 juta sampai US$ 4 juta. "Investasi tergantung dari jumlah screennya bisa US$ 3 sampai US$ 4 juta atau sekitar Rp3 sampai Rp4 miliar," tutupnya. (bani)