Pergerakan IHSG Berpeluang Rebound

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan awal pekan, Senin (13/10), indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup terkoreksi 49,907 poin (1,01%) ke level 4.913,053. Sementara Indeks LQ45 ditutup terpangkas 10,373 poin (1,24%) ke level 828,303.

Kata Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, indeks BEI kembali melemah seiring dengan mayoritas bursa saham di kawasan regional dipicu masih adanya kecemasan investor terhadap outlook perekonomian global,"Lembaga dana moneter internasional (IMF) menurunkan outlook pertumbuhan global menyusul melambatnya pemulihan ekonomi di negara-negara kawasan Eropa. Di sisi lain, pasar saham juga masih dibayangi oleh akan berakhirnya program stimulus The Fed yakni "quantitative easing (QE),”ujarnya di Jakarta, Senin (13/10).

Dia menuturkan, isu pelambatan ekonomi mendorong pelaku pasar keluar dari aset bersiko. Sementara itu, analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya mengatakan, setelah mengalami tekanan cukup dalam, indeks BEI berpotensi mengalami kenaikan secara teknikal pada perdagangan Selasa,”IHSG mulai mengalami pola tekanan terbatas, potensi 'technical rebound' terlihat akan terjadi, target batas atas untuk indeks BEI yakni 5.002 poin, berpotensi tercapai dalam waktu dekat," katanya.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 590,577 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 196.109 kali dengan volume 3,252 miliar lembar saham senilai Rp 3,691 triliun. Sebanyak 81 saham naik, 191 turun, dan 80 saham stagnan.

Bursa Asia rata-rata menutup perdagangan di zona merah, hanya pasar saham Hong Kong yang bisa menguat. Bursa Jepang tidak berdagang karena libur. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Maskapai Reasuransi (MREI) naik Rp 595 ke Rp 4.095, Semen Gresik (SMGR) naik Rp 250 ke Rp 15.100, Bank Mayapada (MAYA) naik Rp 250 ke Rp 1.830, dan Gowa Makassar (GMTD) naik Rp 200 ke Rp 7.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Taisho (SQMI) turun Rp 2.000 ke Rp 328.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.675 ke Rp 22.950, United Tractor (UNTR) turun Rp 950 ke Rp 18.200, dan Bukit Asam (PTBA) turun Rp 625 ke Rp 12.175.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup berkurang 32,308 poin (0,65%) ke level 4.930,652. Sementara Indeks LQ45 turun 6,491 poin (0,77%) ke level 832,185. Seluruh indeks sektoral pun berjatuhan ke zona merah. Sektor tambang memimpin pelemahan dengan koreksi terdalam hingga 1,8%.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 108.721 kali dengan volume 1,756 miliar lembar saham senilai Rp 1,856 triliun. Sebanyak 69 saham naik, 170 turun, dan 75 saham stagnan. Bursa regional masih terjebak di zona merah hingga siang. Koreksinya belum terlalu dalam, hampir mencapai satu persen.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Adira Finance (ADMF) naik Rp 225 ke Rp 11.400, Bank Mayapada (MAYA) naik Rp 220 ke Rp 1.800, Acset (ACST) naik Rp 185 ke Rp 3.475, dan Matahari (MPPA) naik Rp 85 ke Rp 2.735. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.100 ke Rp 23.525, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.000 ke Rp 70.000, United Tractor (UNTR) turun Rp 700 ke Rp 18.450, dan Mayora (MYOR) turun Rp 475 ke Rp 29.550.

Diawal perdagangan, indeks BEI juga dibuka melemah 25,59 poin atau 0,52% menjadi 4.937,36, dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 6,41 poin (0,76%) ke level 832,36,”Minimnya sentimen positif baik dari eksternal maupun dalam negeri kembali membayangi pergerakan bursa saham global, termasuk indeks BEI," kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah.

Dia mengemukakan, pelaku pasar mencemaskan pertumbuhan ekonomi Eropa, Jepang, dan Tiongkok. Kondisi itu, membuat bank sentral AS (the Fed) memangkas outlook pertumbuhan ekonominya untuk jangka menengah akibat kecemasan tersebut, sehinggga mempengaruhi pergerakan indeks bursa bursa utama dunia.

Dari dalam negeri, lanjut dia, indeks BEI juga masih terus dibayangi depresiasi mata uang rupiah seiring dengan penguatan dolar AS terhadap mata uang utama lainnya. Sementara itu, tim analis teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengemukakan bahwa pelaku pasar juga sedang menantikan jalannya pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang sedianya akan dilakukan pada pekan depan.

Dari sisi ekonomi, lanjutnya, penerbitan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri 011 yang diserap investor dapat menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan di Indonesia. Dalam satu pekan, pemesanan ORI mencapai Rp17,40 triliun (87%) dari total target indikatif pemerintah, yakni Rp20 triliun.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng melemah 173,93 poin (0,75%) ke 22.914,61, indeks Nikkei turun 178,38 poin (1,15%) ke 15.300,55 dan Straits Times melemah 17,35 poin (0,54) ke posisi 3.206,28. (bani)

Related posts