Dekade Ilusi Uang dan Utang

Selasa, 14/10/2014

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – Bond Research Institute

Laju inflasi sedekade lampau ada di rentang 6,00-6,50%, sementara kini ada di rentang 4,00-4,50%. Harga-harga secara umum dalam perekonomian semakin murah. Kalau kita belanja di pasar, harga beras tahun 2004 sekitar Rp 2800/kg, cabai 5000/kg, telur ayam Rp 7500/kg, daging ayam 13000/kg. Sementara kini harga beras paling murah Rp 9500/kg, cabai Rp 18000/kg, telur ayam Rp 19000/kg, daging ayam Rp 25000/kg dengan tren naik. Harga BBM solar dekade lalu tak lebih dari Rp 1700/liter, kini Rp 5500/liter. Harga sembako dan BBM secara umum mengalami kenaikan signifikan. Publik mungkin bertanya, bagaimana ceritanya laju inflasi bisa turun? Secara umum harga nominal pasar sembako dan BMM nasional sebenarnya mengalami kenaikan meski laju inflasi tahunan dilaporkan menurun dalam kurun dekade tersebut.

UMR rerata nusantara per tahun 2004 adalah Rp 458.500, sementara tahun 2014 UMR adalah Rp 1.595.900. Selama dekade terakhir, UMR telah meningkat 248% sementara harga sembako dan BBM meningkat 220%. Nominal upah meningkat lebih cepat daripada harga barang secara umum dalam kondisi yang bisa dirasakan kini bahwa publik masih menuntut kenaikan upah. Ada apa gerangan dengan perekonomian pasar kita? Sesuatu sedang terjadi secara konsisten dengan Rupiah tercinta, yaitu depresiasi signifikan secara konsisten. Dekade lalu, nilai rupiah masih di rentang Rp9000-Rp9200 per US$. Kini berada di rentang Rp12100-Rp12300 per US$. Daya beli rupiah telah terdepresiasi 34% dalam satu dekade.

Dinamika rupiah memiliki korelasi erat dengan setiap perspektif dalam perekonomian (makro, mikro, moneter, fiskal). Secara makro pertumbuhan ekonomi sangat berat untuk stabil di atas 7,00%, malah pernah menyentuh figur terendah di 4%. Tahun 2014 imbal hasil acuan obligasi pemerintah bertenor 10 tahun berada di rentang 11,10-11,20%, kini di rentang 8,30-8,40%. Artinya, tingkat risiko berinvestasi di efek obligasi pemerintah menurun namun peringkat investasi negara tak beranjak signifikan. Investor yang rasional akan sangat peduli dengan paradigma seperti ini, baik yang berinvestasi di pasar modal maupun industri jasa keuangan domestik.

Sedekade lampau neraca perdagangan Indonesia masih berada di kisaran US$ 3 miliar, sementara kini pemerintah sangat sulit beranjak dari kondisi defisit. Dari perspektif fiskal, Indonesia menerapkan anggaran defisit, yang bernasib tak jauh beda. Sedekade lalu defisit anggaran masih di 1,04% namun secara konsisten melebar hingga kini defisit anggaran telah menyentuh 2,3%. Kondisi twin-deficit belakangan sering terjadi dalam perekonomian.

Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa para perumus kebijakan ekonomi era SBY telah terkena ilusi uang dan utang. Ilusi uang terjadi saat belanja negara semakin royal kala terjadi pertambahan pendapatan yang tak seberapa. Ilusi utang terjadi jika utang luar negeri bertambah signifikan sementara defisit anggaran kian melebar. Dalam jangka 1(satu) dekade, kombinasi dampak kedua ilusi ini merupakan suatu paradigma yang mudah lolos dari pengawasan pembuat kebijakan publik, apalagi dari pengamatan awam.

Kinerja perekonomian 1(satu) dekade terakhir masih di bawah ekspektasi publik serta belum mencapai target yang dahulu pernah ditetapkan sendiri oleh pemerintah. Perekonomian Indonesia mengalami jalan di tempat. Oleh karena itu masyaraat Indonesia dituntut agar semakin kritis dan lebih berani lagi dalam menilai bersama kinerja pemerintah. Jika tidak, maka ilusi uang dan utang akan menjadi habit yang die hard.