Survei Ipsos: Tiongkok Terancam Lonjakan Onderdil Palsu

NERACA

Jakarta – Hasil riset yang dikeluarkan oleh Ipsos Business Consulting yang berjudul Trend Industri Manufaktur Onderdil Otomotif Tiongkok memaparkan bahwa Tiongkok akan menghadapi ancaman pemalsuan di pasar komponen otomotif. Maka dari itu, riset tersebut menyarankan agar produsen onderdil otomotif diminta untuk meningkatkan proses proteksi terhadap Kekayaan Intelektual (KI) agar mengurangi ancaman dari pemalsuan yang akan terus meningkat saat industri komponen mobil diperkirakan meningkat dua kali lipat dalam lima tahun mendatang.

Kepala Konsultasi Hong Kong di Ipsos Business Consulting Markus Scherer menjelaskan riset Ipsos Business Consulting telah memperlihatkan mengapa semua produsen onderdil otomotif di Tiongkok harus bertindak cepat untuk mengembangkan dan mengimplementasikan praktek terbaik untuk proteksi Kekayaan Intelektua l guna menangkal ancaman dari pemalsuan.

Sekedar informasi segmen pasar mobil bekas akan menjadi jalur utama penjualan onderdil otomotif mobil dikarenakan umur rata-rata kendaraan yang dipakai terus meningkat dan total jumlah mobil saat ini telah melampaui 100 juta. Pasar onderdil otomotif mobil palsu telah menjadi yang terbesar di dunia dengan nilai saat ini sekitar US$ 40 miliar, dan akan terus meningkat seiring dengan perkembangan pasar secara keseluruhan. Sejauh ini, pasar onderdil otomotif palsu Tiongkok bernilai CNY 255 miliar pada tahun 2011. Propinsi Guangdong, Henan, Zhejiang, Jiangsu dan Fujian diperkirakan sebagai wilayah pemalsuan terbesar.

Ada beberapa alasan mengapa produk onderdil palsu akan meningkat, diantaranya perkembangan pesat penjualan mobil baru dari 2008 dan diperkirakan terjadi peningkatkan pasokan pasar sekunder dalam waktu dekat. Selain itu, meningkatnya penjualan mobil baru dan bekas menyebabkan munculnya pasar onderdil sebagai pendorong perkembangan baru bagi onderdil yang diproduksi oleh produsen peralatan asli terkemuka.

“Di sisi lain, perusahaan asing yang beroperasi di pasar ini kemungkinan dapat menggunakan proses anti-bajakan yang lebih baik sebagai sarana untuk meningkatkan pangsa pasar mereka yang besar,” kata Markus Scherer dalam keterangan resmi yang diterima, Senin (13/10).

Sementara itu, Tiongkok menawarkan kesempatan perkembangan yang besar bagi produsen onderdil otomotif. Namun, kesempatan ini bukan tanpa risiko di negara yang merupakan rumah bagi pasar onderdil otomotif palsu terbesar di dunia. Perusahaan-perusahaan asing selangkah lebih maju dalam proses proteksi KI dan akan menggunakannya untuk memperluas pangsa pasar mereka.

Seperti diketahui, produsen onderdil otomotif terbesar di sana adalah perusahaan lokal Tiongkok. Meskipun begitu, penelitian Ipsos Business Consulting memperlihatkan bahwa perusahaan investasi asing berhasil di pasar ini karena perusahaan investasi asing hanya seperlima dari total perusahaan onderdil otomotif yang beroperasi di pasar Tiongkok, perusahaan asing menghasilkan nilai sebesar 33,9% dari total produksi pasar. Produsen asing juga dua kali lebih efisien dibandingkan perusahaan China dalam hal rata-rata produksi industrinya.

Pada dasarnya, lanjut Markus, pemerintah pusat telah berusaha dengan mengimplementasikan hukum kekayaan intelektual (KI), meskipun begitu, penerapan dan penegakkannya masih kurang dan tidak konsisten pada tingkat lokal dan regional. Akibatnya, produsen harus mengembangkan proteksi KI sebagai praktek standar guna menangkal ancaman pemalsuan yang diperkirakan akan meningkat seiring dengan berkembangnya pasar.

Potensi Pasar

Sementara itu, Country Manager Ipsos Business Consulting Domy Halim menyatakan bahwa ada potensi kesempatan bagi produsen onderdil otomotif Indonesia untuk bisa masuk ke pasar tersebut. “Produsen onderdil otomotif di Indonesia harus memanfaatkan pengetahuan tentang pasar lokal mendalam sebagai pembeda utama dibandingkan dengan onderdil otomotif yang diimpor dari China. Kemampuan untuk memproduksi onderdil yang dapat memenuhi standar kualitas pasar ASEAN dan dunia serta tetap mengadopsi kebutuhan pasar lokal, harus terus dipromosikan oleh industri ini,” kata Halim.

Namun, Domy Halim juga menekankan bahwa pengadaan bahan baku seperti lembaran logam masih merupakan tantangan terbesar bagi produsen lokal. Selain itu, Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk onderdil otomotif tetap menjadi hambatan dikarenakan standar kualitas SNI yang masih dianggap jauh berada dibawah standar ASEAN. Akibatnya, kita telah melihat bahwa selain China, terdapat banyak onderdil impor di pasaran yang berasal dari Thailand walaupun investasi asing di sektor otomotif telah tumbuh sebesar 120% per tahun pada periode 2010 sampai 2013.

Related posts